DALAM beberapa hari ini sudah dua pentolan pelaku teror di Poso dan Palu, Sulawesi Tengah yang berhasil ditangkap polisi membuat pernyataan yang cukup menyejukkan. Keduanya, yakni Mohammad Basri (31) dan Amrin Noeril alias Aat (28).
Basri yang tersangka 17 kasus kekerasan di Poso dalam sebuah jumpa pers di gedung Bareskrim Mabes Polri, dengan berani mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada masyarakat Poso atas perbuatan selama ini yang membuat masyarakat tidak tenang.
“Saya minta maaf kepada masyarakat Poso baik Nasrani maupun Muslim karena selama ini saya membuat resah di Poso,” kata Basri beberapa hari lalu. Dia juga minta teman-temannya yang masih buron untuk menyerahkan diri ke aparat.
Pernyataan Basri ini memang bertolak belakang dari aksi kejamnya seperti penembakan pendeta Susianti tahun 2004, perampokan toko Emas Monginsidi th 2006, penyerangan di Desa Maranata tahun 2004, perampokan toko Mas Pasar Tua th 2004, penembakan di Gereja Anugrah tahun 2004, mutilasi tiga siswi tahun 2005, pembunuhan Kepala Desa Pinedapa tahun 2004, perampokan uang Pemda Poso tahun 2005, dan peledakan bom di Gereja Eklesia 2006.
Setelah Basri, sikap penyesalan juga diungkapkan Aat (28). Pelaku pengeboman di Tentena, Palu, yang menewaskan 22 orang dan melukai 30 korban dengan sadar menyesali perbuatannya dan berharap masih bisa membangun Poso yang damai.
Terlepas dari latar belakang tindakannya akibat terhasut orang lain, Aat pun mengimbau teman-temannya yang masih buron untuk segera menyadari kesalahannya ini. “Saya juga meminta maaf kepada para keluarga korban bom Tentena atas kesesatan saya selama ini. Semoga Allah mengampuni kami,” ucap Aat.
Pernyataan Basri dan Aat ini cukup menyejukkan karena keduanya memang cukup berbahaya dan menimbulkan suasana Poso seperti tak pernah jauh dari kerusuhan. Pengakuan Basri dan Aat yang merasa terhasut oleh doktrin-doktrin yang salah juga memberikan wawasan bagi publik, bahwa konflik Poso bukanlah persoalan politik atau konflik antarkelompok yang lebih luas.
Pengakuan keduanya seakan menyadarkan kalau ternyata konflik Poso hanya diciptakan oleh segelintir orang yang menganggap tindakan membunuh kelompok lain adalah hal yang dibenarkan.
Pengakuan Basri dan Aat ini tentu tidak hanya membuka tabir rusuh Poso yang sebenarnya, tetapi juga membuat rasa aman bagi warga Poso yang sejak lama merindukan kota dan wilayah mereka bisa aman dan tentram.
Harapan kedepan, perasaan saling curiga antara kelompok yang selama ini tidak mengetahui persis seperti apa konflik yang sebenarnya sudah terjawab. Mudah-mudahan dengan penyesalan pelaku kekacauan di Poso selama ini menjadi tonggak dari terciptanya Poso yang damai.
Pasalnya konflik Poso tidak hanya mengorbankan rakyat di sana, tetapi juga menyita perhatian pemerintah dan menelan banyak korban aparat serta biaya negara yang luar besar. Sedikit banyak, konflik Poso telah merugikan bangsa dan negara Indonesia.
Tabir konflik Poso sudah terungkap dan penyesalan sudah diucapkan. Kini suasana damai itu harus dijaga. Tidak hanya oleh warga Poso, tetapi juga oleh seluruh rakyat Indonesia. Caranya?Berikan penjelasan kalau konflik yang sebenarnya bukan konflik kelompok masyarakat.(*)



May 24, 2009 at 9:11 am
kenapa si harus saling perang??
kalau beda agama ya udah.. yang penting kita jalani hidup ini dengan kepala tertunduk.. dan saling menghormati.
jangan merasa diri paling bener..!
karena justru disitulah kesalahan kita.
allah maha tau.. percayakan semua kepada allah.