Lampu Sepeda dan Celana Hilang Dicuri Orang

Paman Boncel

* Mbah Boncel si Petualang Indonesia Asal Yogya (3-Habis)

TEKAD Supriyanto alias Mbah Boncel untuk mengelilingi Indonesia dengan menggunakan sepeda, paling tidak membuka mata kita semua. Pasalnya Mbah Boncel bisa melihat langsung budaya dan kebiasaan setiap masyarakat di daerah yang dilewatinya.
“Saya melihat masyarakat di Indonesia Barat kelihatannya lebih makmur dibanding di wilayah timur. Sehingga seharusnya masyarakat di wilayah timur itu mendapat perhatian khusus dari orang-orang penting di Indonesia,” ungkap Mbah Boncel saat berada di Kantor Redaksi Tribun, Minggu (11/3).
Selain itu, ia juga merasa beruntung bisa melihat secara langsung wilayah tanah air dari dekat. “Mungkin tidak semua orang bisa merasakan pengalaman seperti saya. Untuk itulah saya selalu menuliskan setiap perjalanan saya di dalam buku,” ujarnya sambil menunjukan buku besar yang berisi catatan perjalanan dengan rapi.
Ia juga bercerita, wilayah Indonesia merupakan daerah yang kaya dengan keindahan alam. Bahkan dari Kupang hingga Sumatera, ia mengaku kerap berhenti di tengah perjalanan, sekadar untuk menikmati pemandangan. Namun di luar itu, ia merasa miris dengan sejumlah perilaku orang-orang yang menjadi bagian bangsa ini.
“Empat celana saya hilang dicuri orang. Bahkan lampu sepeda yang baru saya beli, juga diambil orang. Bahkan pernah pula saya dihadang sejumlah orang di tengah hutan di Sumatera. Mereka mengira saya bawa uang banyak. Saat itu saya pasrah kepada Yang Di Atas saja,” ujar Mbah Boncel.
Orang-orang yang berusaha merampok Mbah Boncel kemudian merebut tas dan sepeda yang dikendarainya. “Saya biarkan saja. Mereka kemudian mengobrak-abrik isi tas. Karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan, para perampok itu berencana membawa sepeda saya. Namun untungnya ketika mereka mencoba menaikinya, secara tiba-tiba rantai sepeda itu macet. Mereka bahkan sempat mencobanya sampai lima kali tapi nggak berhasil,” tambah Mbah Boncel.
Karena tidak berhasil mendapatkan barang-barang milik Mbah Boncel, para perampok itu pergi dengan sendirinya. “Ajaib, setelah sepeda itu macet rantainya, tiba-tiba kembali seperti sedia kala saat saya naiki,” ungkapnya.
Pengalaman lain yang tak bisa dilupakan oleh Mbah Boncel adalah saat melintas di Jakarta. Selain nyaris masuk ke jalur jalan tol, Mbah Boncel sempat menarik perhatian pengguna jalan lain yang melintas. Bahkan ia sering diberi jalan oleh pengendara lainnya dengan sukarela. “Sampai-sampai saya berada di tengah jalur. Sementara pengguna jalan lain justru menepi dan memberi kesempatan kepada saya,” ujar Mbah Boncel dengan tertawa.
Kedatangannya ke Kepri setelah dari Sumatera, bagi Mbah Boncel juga ada misi khusus. Ia ternyata ingin bertemu dengan keponakannya yang kini bekerja dan tinggal di daerah Sengkuang. “Dia itu anak kakak saya. Jadi waktu melintas ke Kepri, saya mampir ke rumahnya, sekaligus untuk menjenguk cucu yang baru lahir,” ungkapnya.
Selama di Batam Mbah Boncel, juga menyempatkan untuk berkeliling sebelum pergi ke Tanjungpinang dan meneruskan perjalanan ke Kalimantan. Ia sempat mengunjungi icon Batam, yakni Jembatan Barelang, serta ke sejumlah tempat di Jodoh/Nagoya, Sekupang dan sebagainya. Kamis hari ini, Mbah Boncel berencana meninggalkan Batam untuk meneruskan perjalanannya mengelilingi Indonesia dengan sepeda bututnya. Selamat jalan Mbah Boncel! (yondaryono)

Pinjam Ponsel untuk Telepon Istri

* Mbah Boncel si Petualang Indonesia asal Yogya (2)

SETELAH menempuh perjalanan selama beberapa bulan, dan mengarungi 12 provinsi, rasa rindu istri pasti dirasakan Mbah Boncel. Namun, ketika rasa itu mulai muncul, ia punya jurus penangkalnya sendiri.
“Saya sering menyanyikan lagu Andai Ku Tahu dari Ungu setiap kali rasa rindu atau rasa sedih menerpa di perjalanan,” ujarnya. Saking rindunya terhadap istri, ia sering menelepon ke rumah hanya sekadar untuk memberitahukan kabarnya. Karena tak membawa ponsel sendiri, ia sering meminjam ponsel orang lain yang dijumpainya di perjalanan sehingga ia bisa menelepon keluarganya. Kalau pas memiliki uang, ia pun mampir ke wartel untuk menghubungi istri dan kedua anaknya.
Selama di perjalanan, Mbah Boncel mengaku tak pernah merasa sakit, meski ia tak mau menjelaskan apa rahasia di balik staminanya tersebut. “Wah kalau yang itu rahasia,” tukasnya sambil tertawa.
Di dalam tas bututnya pun tak ada obat untuk menjaga staminanya. “Saya sama sekali tak membawa obat, pokoknya semuanya diserahkan kepada Yang Di Atas saja,” katanya.
Dalam perjalanan, tak jarang ia sering kelelahan mengayuh sepedanya. Kalau jalannya terlalu menanjak maka ia akan menuntun sepedanya. “Pernah pas di Flores, jalannya terlalu menukik, jadi saya tuntun, bahkan saya angkat sepedanya,” kenangnya.
Meski kelelahan, Mbah Boncel mengaku tak pernah tersesat selama di perjalanan, karena ia selalu mengikuti petunjuk arah. Setiap kali rasa letih menerpa, ia memilih untuk beristirahat.
“Karena itu saya belum pernah mengalami kecelakaan sampai sekarang. Semoga sampai akhir perjalanan nanti saya bisa pulang ke rumah dengan selamat,” paparnya.
Meski lelah dan mencoba beristirahat, tak jarang Mbah Boncel harus tidur sampai larut malam. Pasalnya, ia sering menginap di kantor polisi dan semua polisi yang berada di sana terus mengajaknya mengobrol sampai malam.
“Jadi saya tak pernah memaksakan untuk terus mengayuh sepeda. Karena sering tidur sampai larut malam, saya jadi kurang energi untuk keesokan harinya, sehingga saya memilih untuk beristirahat setiap tiga jam sekali dalam perjalanan,” ungkapnya. Meski lelah, Mbah Boncel mengaku tak pernah menumpang mobil dan terus mengayuh sepedanya. “Pokoknya kalau capek ya istirahat bukan malah numpang mobil,” katanya.
Karena rambutnya yang sudah memutih, tak jarang ia dipanggil dengan julukan Mister oleh orang-orang yang dijumpainya selama dalam perjalanan. “Bahkan kalau saya sudah pakai kacamata hitam saya disapa ‘Halo Mister!’. Mendengar itu, saya cuma tertawa saja. Lumayan buat hiburan,” ujarnya sembari terkekeh.
Keinginan Mbah Boncel sekarang hanya satu. Pulang ke rumah. “Pokoknya kalau bisa sebelum Lebaran saya harus sudah pulang ke Yogyakarta untuk merayakan Lebaran bersama keluarga,” pungkasnya. (hanonsari paramita)

Berbekal Sepeda Butut dan Uang Rp 75 Ribu

* Mbah Boncel si Petualang Indonesia Asal Yogya (1)

USIANYA sudah setengah abad lebih, namun hal itu tak menghalangi Supriyanto (52), alias Mbah Boncel untuk bersepeda keliling Indonesia. Bagaimana suka duka selama perjalanan, berikut ini Tribun menurunkan pengalaman Mbah Boncel secara bersambung.

Saat memulai perjalanannya pada 11 November tahun lalu dari Kota Yogyakarta, pria yang rambutnya sudah memutih ini  hanya membawa lima kaos, dua celana panjang, dan dua celana pendek.
“Semuanya saya masukkan ke dalam tas butut saya beserta uang Rp 75 ribu. Selain itu, saya membawa bekal air minum, pompa, ban luar dan ban dalam, serta peralatan untuk memperbaiki sepeda,” katanya saat mengunjungi Kantor Tribun Batam, Minggu (11/3).
Menurut pria yang akrab dipanggil Mbah Boncel ini, ia memulai rute pertamanya dengan bersepeda menuju ke Surabaya. Setelah sampai ke Surabaya, ia langsung menuju ke Pulau Bali, Lombok, Sumbawa, Flores dan Kupang. Sebenarnya ia ingin pergi ke Papua, namun karena harus menunggu kapal yang baru tiba 25 hari kemudian, akhirnya ia mengurungkan niatnya.
Pria berambut putih ini pun langsung menuju ke Jakarta melalui Jalur Pantura. Rute Surabaya-Jakarta ia tempuh selama dua minggu dengan menggunakan sepeda butut yang sudah dimodifikasi di bagian gearnya, sehingga ia tak kelelahan di jalan.
Selama perjalanan, ia sudah menginap di berbagai fasilitas umum. Mulai dari masjid, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), sampai ke Kantor Polres dan Polsek yang dilewatinya.
Dari Jakarta, ia kemudian menuju ke Pelabuhan Merak dan memulai perjalanannya di Pulau Sumatra. “Saya mulai dari Lampung sampai ke Aceh. Setelah itu, saya ke Batam sesudah menempuh perjalanan dari Medan dan Pekanbaru,” paparnya.
Rencananya, Kamis (15/3) mendatang, ia akan menuju ke Pulau Kalimantan melalui Tanjungpinang. “Pokoknya saya harus sampai ke Merauke dan kembali ke rumah sebelum Hari Raya Idul Fitri tahun ini,” ujarnya mantap.
Lantas apa yang memotivasi bapak dua anak ini untuk menjelajah Indonesia dengan menggunakan sepeda bututnya? Ternyata, keinginan Mbah Boncel sudah muncul sejak ia duduk di bangku SMP. Sejak SMP ia ingin sekali melihat seperti apa wajah Indonesia sebenar-benarnya. “Saya juga ingin menambah pengalaman dengan melihat langsung budaya di Indonesia,” tuturnya.
Selama berada dalam perjalanan, Mbah Boncel mengaku sudah lima kali berganti sepatu dan dua kali mengganti ban dalam. Ia juga mengaku sama sekali tak melakukan persiapan khusus sebelum memulai perjalanan pada 11 November tahun lalu.
“Sejak itu, saya sudah menempuh jarak ribuan kilometer. Dan semua catatan perjalanan saya catat di sebuah buku. Di buku lainnya, saya berhasil mendapatkan beberapa buah stempel dari pejabat-pejabat setempat sebagai bukti jika saya sudah keliling Indonesia,” ungkapnya.
Suka dan duka sudah pasti dialami pria asal Desa Mangiran, Trimurti, Srandakan Bantul ini selama mengayuh sepedanya. Uniknya, ia mengaku tak pernah membayar makanan yang didapatnya dari berbagai restoran terkemuka sepanjang perjalanan. Bahkan setiap kali ia mampir ke sebuah restoran maka pemilik restoran menyambutnya dan memberikan pelayanan spesial untuknya secara gratis.
“Saya tak hanya dapat makanan gratis selama perjalanan, tetapi juga ada saja orang yang memberi bekal. Sehingga sekarang saya malah bisa mengirim uang ke rumah. Kalau bawa uang banyak-banyak nanti malah dirampok orang,” kata pria kelahiran 27 Maret 1954 ini sambil terkekeh.
“Nggak tahu nanti saya akan merayakan ulang tahun di mana. Kalau kemarin pas tahun baru, saya merayakannya di Lampung,” ungkapnya.(hanonsari paramita)

Berbagi Beban

DRAMA dan tragedi tampaknya sealu menimpa bangsa ini. Hampir setiap hari, adegan itu kita saksikan baik lewat tayangan media televisi maupun secara langsung. Kasus bunuh diri seorang ibu dengan empat orang anaknya di Kota Malang Jawa Timur, Sabtu (10/03) lalu, betul-betul mengagetkan kita.  Ironisnya, dari empat anaknya itu, paling kecil berusia sembilan bulan. Sementara yang paling besar baru 10 tahun.
Belum lagi kasus ini tuntas, terjadi lagi kasus penembakan oleh seorang polisi terhadap atasannya. Kejadian ini baru terjadi Selasa (13/3), di wilayah kepolisian Semarang, Jawa Tengah. Sebelumnya, juga dalam bulan Maret ini, polisi menembak mati istri, mertua dan dua orang lelaki lainnya di Bangkalan. Setelah itu, sang polisi mengakhiri hidupnya dengan menembak kepalanya sendiri.
Dalam teori psikologi, banyak faktor yang menyebabkan seseorang nekat membunuh dan melakukan bunuh diri. Ada yang dilatari faktor sosial, ekonomi dan keluarga. Namun Psikolog Senior Universitas Indonesia, Sartono Mukadis, membagi penyebab bunuh diri menjadi beberapa kelompok yakni bunuh diri karena absurditas, eksestensialis dan patologis.
Ketika Sartono menilik beberapa kasus bunuh diri yang terjadi di Indonesia, lebih dominan masuk dalam kelompok patologis. Artinya, bunuh diri yang dilakukan secara sadar yang dipicu oleh rasa panik dan letupan emosi sesaat.
Ada semacam dorongan tiba-tiba yang muncul dari dalam dirinya sehingga dia nekat mengakhiri hidupnya dengan berbagai cara. Dikatakan sadar, karena dalam proses bunuh diri sebelumnya dia mempersiapkan segala peralatan dibutuhkan.
Kalau akan gantung diri, dia terlebih dahulu menyiapkan tali, mencari lokasi yang cukup kuat untuk mengikatkan tali agar ketika tergantung tali tidak putus. Atau menyiapkan kursi agar bisa tergantung atau berbagai persiapan lainnya. Artinya, saat-saat persiapan itu jelas dilakukannya secara sadar.
Begitu juga kalau orang bunuh diri meloncat dari gedung atau dari jembatan. Dia secara sadar mengetahui bahwa tempat ini cocok untuk mengakhiri hidup. Apalagi dorongan dari dalam tubuhnya semakin meningkat. Apakah disebabkan faktor ekonomi, sosial, atau keluarga.
Dorongan dari dalam diri untuk nekat membunug dan bunuh diri itu, seringkali disebabkan telah menumpuknya persoalan-persoalan dalam dirinya sehingga akal sehatnya tidak mampu lagi mencairkan jalan keluar yang positif.
Secara kejiwaan, beban berat yang dialami batin, karena sifatnya yang kaku, tertutup, kurang bergaul atau kurang berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Akibatnya, setiap persoalan yang muncul dipendam sendiri.
Karena tidak pernah dibicarakan dengan orang lain, baik kepada orang tua, kakak, adik, teman atau lingkungan sosial lainnya, maka persoalan itu jadi menumpuk. Ketika tumpukan itu semakin besar, maka bunuh diri dianggap satu-satunya jalan keluar untuk bisa lepas dari beban itu.
Karena itu, membuka diri dan suka bergaul merupakan cara ampuh agar tidak muncul pikiran untuk bunuh diri. Karena faktanya, orang yang hidupnya fleksibel dan suka bergaul, sangat begitu mudah melepaskan beban batinnya.
Dia akan mencurahkan perasaannya, beban batinnya atau membagi persoalannya dengan orang-orang yang dipercayanya. Dengan begitu, beban batinnya akan berkurang karena sudah ditumpahkan keluar. Bahkan persoalan ekonomi sekalipun, kalau diselesaikan secara fleksibel dan berkomukonikasi dengan orang lain, jalan keluar akan mudah ditemukan.
Dengan mencurahkan beban-beban yang ada dalam diri kita pada orang lain, maka akan membuat diri kita survive dari tekanan-tekanan hidup. Orang yang memiliki kelenturan hidup, tidak akan pernah berpikir untuk bunuh diri.
Kasus di Malang ini setidaknya menjadi jawaban. Karena , dari komentar tetangganya, termasuk ayah  dari Junania Mercy (ibu empat anak yang bunuh diri), jelas bahwa dia termasuk orang yang tertutup.
Junania memendam sendiri beban hidup yang dideritanya karena sang suami jarang pulang. Namun di sisi lain, kecintaan pada anaknya begitu mendalam. Makanya, dia membawa keempat anaknya untuk bersama-sama bunuh diri. Sifat ketertutupannya itulah yang membuat beban batinnya makin berat. (*)

Polisi Kembali Bikin Heboh

POLISI lagi-lagi jadi sorotan. Urusannya tetap sama, yaitu pengendalian emosi dan penggunaan senjata api. Polisi yang bikin kali ini bernama Bigadir Polisi Satu (Briptu) Hance, anggota Unit Pelayanan Pengaduan dan Penegakan Disiplin (P3D) Polwiltabes Semarang, Jawa Tengah.
Ia nekat menembak hingga tewas atasannya, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Lilik Purwanto, Wakil Kapolwiltabes Semarang, sekitar pukul 07.30 WIB, Rabu (14/3). Bukan hanya itu saja, Hance juga menyandera koleganya di P3D (dulu bernama provost), Aipda Titik dan AKP Indratiningrum.
Karena tak mau menyerah, setelah dikepung pasukan Resmob Polda Jawa Tengah dan Resmob Polwiltabes Semarang, Hance tewas diberondong senjata laras panjang M-16. Dengan demikian dalam waktu hampir bersamaan dua polisi tewas di ruang kerja Wakapolwiltabes Semarang.
Minggu lalu, Briptu Rifai Yulianus, anggota Polres Bangkalan, Madura, Jawa Timur, juga bikin heboh. Ia menembak mati istrinya, mertua, dan dua pria lain yang diundang ke rumahnya. Setelah puas menghabisi empat orang tersebut, Rifai bunuh diri dengan cara menembak keningnya sendiri.
Senin (12/3) lalu, anggota Sartnarkoba Polda Jawa Barat,  Brigadir Polisi Sofyan, tewas di depan empat perwira polisi. Leher korban tertembus peluru revolver dinasnya sendiri. Sofyan celaka karena kelalaiannya ketika memainkan senjata api yang saat itu berisi empat butir peluru. Maksud hati ingin bercanda, tetapi justru kehilangan nyawa.
apa yang menyebabkan Hance jadi gelap mata? Sementara ini diduga karena ia tak terima dimutasikan ke Polres Kendal. Ia ingin mutasi tersebut dibatalkan. Sebuah motif yang kedengaran sangat sepele namun akibatnya begitu tragis.
Bisa jadi motif tersebut benar. Namun jarang sekali tindakan nekat seseorang –seperti dilakukan Hance– hanya didasarkan oleh motif tunggal. Oleh karena itu, agar jajaran Polri dapat mengambil hikmah dan mencegah kejadian serupa terus terulang, kasus Hance, Rifai, dan oknum polisi lainnya harus diusut secara tuntas serta menyeluruh.
Selama ini kasus semacam itu ditutup begitu saja dengan alasan pelakunya ikut tewas. Padahal kalau polisi dapat mengungkap akar persoalan, terutama latarbelakang persoalan yang sebenarnya, akan sangat berguna bagi pembinaan para personel di jajaran Polri.
Tes psikologi memang perlu dilakukan secara berjala kepada seluruh personel Polri, namun rasanya cara tersebut tidak cukup. Polri mempunyai lembaga konseling yang bisa diakses sewaktu-waktu untuk melayani para anggota yang sedang menghadapi masalah, baik terkait dengan kehidupan keluarga, pekerjaan, atau masalah lainnya.
Seseorang –siapapun dia– ketika merasa tak mampu mengurai persoalan hidup, memerlukan orang lain sebagai tempat ‘mengadu’ atau setidaknya untuk mencurahkan sisi hati (curhat). Kalau ia tidak menemukan kanalisasi yang tepat mak akan terus bertumpuk dan sewaktu-waktu bisa meledak menjadi sebuah tindakan anarkis.
Konseling tidak hanya melibatkan para psikolog tetapi juga para pimpinan yang lebih tahu mengenai prilaku sehari-hari anak buahnya. Sikap care dan concern dari unsur pimpinan   sangat diperlukam karena satu di antara tugas pimpinan adalah menyelesaikan masalah di ranah kewenangannya.
Celakanya, fungsi tersebut seringkali diabaikan. Para pimpinan acapkali justru menjadi sumber masalah. Budaya kekerasan, mengeksploitasi, tidak mau mendengarkan, dan sikap sewenang- wenang sering menjadi pemicu munculnya persoalan.
Bisa jadi Hance bukan hanya tak puas kepada mutasi terhadap dirinya. Harus diteliti apakah ia mempunyai dendam kepada atasannya tersebut. Kalau terenyata ada unsur dendam, apakah yang menyebabkan ia begitu dendam sehingga nekat menembak Wakapolwiltabes dan menyandera dua koleganya.
Kasus penembakan tersebut seolah menjadi rangkaian cerita duka yang terus melanda negeri ini. Apakah kita harus pasrah begitu saja menghadapi semua fenomena negatif tersebut? Ada sebagian orang mengatakan, kasus-kasu seperti itu tidak perlu dibesar-besarkan karena bisa terjadi di bagian dunia manapun. Tetapi ada juga berpendapat,  berbagai cerita duka itu merupakan sebuah sinyal mengenai ada sesuatu yang tak beres dan harus segera diluruskan.
Rasanya, kalau kita hanya berpangku tangan dan pasrah merenungi berbagai musibah itu,  tragedi demi tragedi akan terus belanjut.(*)