Harta Kekayaan Aburizal Bakrie

MAJALAH terkemuka Forbes Asia mengeluarkan daftar orang terkaya Indonesia 2007. Mengejutkan, keluarga Menteri Kesejahateraan Rakyat (Kesra) Aburizal Bakrie (Ical) menempati ranking pertama, dengan total kekayaan 5,4 miliar dolar (sekitar Rp 50 triliun), mengalahkan konglomerat Eja Tjipta Widjaja, dua bos kelompok PT Djarum –Budi Hartono dan Michael Hartono, serta pemilik PT Gudang Garam Rachman Halim.
Bisnis keluarga Ical memang sudah begitu menggurita, mulai dari usaha pertambangan, telekomunikasi, media massa, hingga pembangunan infrastruktur. Paling gres, keluarga Ical memenangkan tender pembangunan jalan tol lingkar luar Jakarta dan Trans-Jawa. Ical sendiri secara formal tidak lagi ikut mengurus secara langsung bisnis keluarga tersebut sejak masuk dalam jajaran Kabinet Indonesia Bersatu pada 2004 lalu.
Meski begitu, tetap saja muncul suara miring yang menyebut bisnis keluarga Ical ikut terdongkrak secara signifikan setelah pria kelahiran Sulawesi Selatan itu masuk ke jajaran pemerintahan dan politik. Anggapan seperti itu wajar-wajar saya, karena sebagai anggota kabinet tentu Ical mendapat informasi lebih awal mengenai peluang-peluang bisnis/usaha di negeri ini.
Kalau angka yang dimunculkan Forbes Asia benar, harta kekayaan keluarga Ical setara dengan defisit di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2008 akibat melonjaknya harga minyak mentah dunia. Dengan demikian Ical dan keluarganya punya posisi tawar sangat kuat di negeri ini.
Posisi Ical di Partai Golkar –pemenang Pemilu 2004– juga tak boleh dianggap remeh. Kapasitas sebagai politisi di partai besar memberikan kontribusi tak sedikit bagi Ical dalam memainkan peran sebagai orang berpengaruh.
Terbukti ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melaklukan dua kali reshuffle kabinet,  Ical tak tersentuh. Padahal, menjelang SBY melakukan reshuffle jilid II pada awal 2007, sebagian kelompok masyarakat dan media massa memamsukkan namanya sebagai sosok yang patut di-reshuffle.
Ia hanya digeser dari posisi sebagai Menteri Koordinator Perekonomian ke Menko Kesra. Sebagai seorang yang berlatarbelakang pengusaha, wajar muncul kekhawatiran terjadi conflict of interest (perbenturan kepentingan), kalau Ical tetap mengurus masalah perekonomian.
Bisa jadi itulah pertimbangan yang ada di benak Presiden SBY ketika melakukan rotasi horisontal di kabinet terhadap Ical. Hanya, muncul kritik ketika ia diserahi tugas mengurus kesejahteraan rakyat yang banyak terkait dengan masalah kemiskinan, bencana alam, dan pembangunan daerah tertinggal.
Bidang kesra lebih banyak bertumpu pada cost (pengeluaran biaya), sedangkan bidang perekonomian berkosentrasi bagaimana mengingkatkan pedapatan negara baik daris ektor pajak maupun nonpajak.  Oleh karena itu posisi Ical di bidang kesra tidak begitu pas, sehingga banyak kritik dilontarkan ketika pemerintah harus menangani bencana alam.
Begitu pula kasus luapan lumpur Lapindo di kawasan Porong, Sidoarjo, yang lebih dekat dengan urusan bidang kesra, tidak tampak peran Aburizal Bakrie. Tak heran Presiden SBY beberapa kali harus turun tangan sendiri untuk menyelesaikan masalah menyangkut ganti rugi.
Apalagi PT Lapindo Brantas Inc merupakan perusahaan patungan grup Bakrie dengan Metdco sehingga muncul anggapan Ical ingin memanfaatkan posisinya di pemerintah untuk menyelamatkan Lapindo dari berbagai kewajiban. Bahkan muncul anggapan, harta kekayaan keluarga Bakrie akan berkurang sangat drastis untuk membiayai berbagai dampak yang timbul akibat luapan lumpur panas tersebut.
Melihat data yang dirilis Forbes Asia, harga keluarga Ical bukan anjlok tetapi justru naik empat kali lipat dari tahun sebelumnya. Dengan demikian, tidak ada alasan buat keluarga Ical untuk lari dari tanggungjawab terhadap korban lumpur dan rusaknya infrastruktur di Jawa Timur.
Selama ini Aburizal menyebut, perhatian yang diberikan oleh keluarga terhadap para korban lumpur sudah lebih dari cukup. Namun Ical perlu juga melakukan pengecekan ke lapangan apakah itikad baik dari keluarganya memang telah direalisasikan dengan semestinya dan dapat mengatasi persoalan akibat kejadian itu.
Tentu kita bangga mempunyai anak bangsa yang sukses dalam bisnis dan usaha. Kita akan lebih bangga kalau kesuksesan tersebut bisa membawa manfaat juga buat orang lain dan negeri yang tengah dilanda berbagai persoalan multidimensional ini.(*)