Mahalnya Sebuah Pesta Demokrasi

MAHKAMAH Agung (MA) mengeluarkan putusan mengejutkan terkait pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel). Lembaga peradilan tertinggi itu membatalkan pemungutan suara kabupaten dan memerintahkan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) untuk melakukan pemilihan ulang.
Putusan tersebut merupakan jawaban terhadap gugatan yang diajukan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Amin Syam-Masyur Ramli (Asmara) terhadap KPUD. Hasil penghitungan KPUD memenangkan pasangan Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’mang (Sayang), dengan selisih sangat tipis.
Ada kecurigaan terjadinya ketidakberesan dalam pelaksanaan pemungutan dan penghitungan suara di Kabupaten Tana Toraja, Bantaeng, Gowa, dan Bone. Majelis hakim agung memerintahkan agar KPUD melakukan pemilihan ulang selambat-lambatnya 3-6 bulan ke depan terhitung sejak putusan dijatuhkan.
Putusan itu tentu saja tidak mudah untuk dilaksanakan karena menyangkut pembiayaan. Dengan kata lain, masih ada keraguan siapa yang harus membiayai pemilihan ulang di empat kabupaten seperti diperintahkan MA. Pertanyaan lain yang muncul, apakah hasil pemilihan ulang tersebut tak dapat diganggu gugat lagi?
Pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) di Sulawesi Selatan itu merupakan bukti betapamahalnya harga sebuah demokrasi untuk memilih pemimpin. Biaya bukan hanya untuk pelaksanaan proses pilkada tetapi juga dana untuk penggalangan dukungan serta kampanye para calon  pemimpin.
Tak heran, ada yang menyebut sistem pemilihan langsung untuk memilih kepala daerah hanya menghambur -hamburkan uang,  membuang waktu, dan mengganggu kenyamanan warga masyarakat sendiri. Belum lagi kalau hasil pilkada menjadi pemicu sengketa hukum di pengadilan.
Ketika terjadi sengketa, biaya yang keluar lebih banyak lagi. Penggugat harus menyewa jasa pengacara,  membiayai para pendukung untuk hadir di pengadilan, hingga biaya melakukan lobi politik terhadap tokoh berpengaruh. Belum lagi kalau terjadi aksi massa anarkis yang merusak fasilitas umum dan inventaris negara.
Ongkos sosial juga tak boleh diabaikan. Di tengah masyarakat terjadi polarisasi akibat dukung mendukung. Apalagi kalau kemudian dilakukan pemilihan ulang. Rasa saling curiga di kalangan anggota masyakarat oleh anggapan terjadinya kecurangan, bisa berkembang dan memicu aksi kekerasan.
Tak heran, muncul wacana untuk menyederhanakan proses pilkda. Ada yang mengusulkan agar pilkada dilakukan secara serentak agar lebih efektif dan efisien. Bahkan ada yang mengusulkan agar gubernur ditunjuk saja oleh presiden, dengan alasan otonomi daerah berbasis di kabupaten/kota.
Berbagai wacana itu sebenarnya bentuk dari kegalauan terhadap dampak negatif pemilihan langsung yang menguras dana dan energi masyarakat. Hasil pilkada dianggap tidak sebanding dengan pengorbanan yang harus diderita masyarakat.
Demokrasi memang mahal, namun hasilnya belum tentu sebanding denganm harapan. partisipasi politik para pemilih juga berfluktuatif. Bahkan di sebuah daerah, seperti pilkada Kota Tanjungpinang, jumlah pemilihn yang tak hadi di tempat pemungutan suara lebih banyak daripada dukungan terhadap pemenang.
Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla, bahkan pernah mengigatkan bahwa demokrasi hanyalah alat untuk mencapai tujuan. Menurutnya, jangan sampai alat mengalahkan tujuan.
Apa yang dikatakan Kalla ada benarnya. Pilkada langsung merupakan sebuah cara untuk memilih pemimpin yang diinginkan rakyat. Namun, tidak sedikit hasil pilkada ternyata tidak membawa manfaat apa-apa bagi rakyat, bahkan ada yang berlarut-larut hingga memicu munculnya suasana kontraproduktif.(*)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: