Politik Beras

LAMPU merah pengadaan beras tengah menimpa tanah air kita. Gara-gara stok nasional semakin menipis, harga beras hampir di seluruh wilayah Indonesia mengalamai kenaikan yang cukup drastis. Rata-rata, per daerah, kenaikan harga beras mencapai Rp 500 per kg.
Wilayah Batam dan Kepri (Kepulauan Riau) secara umum, yang biasanya tidak terusik oleh persoalan beras, kali ini juga mengalami kesulitan. Harga beras di Batam juga mengalami kenaikan yang bervariasi.
Penyebab kenaikan harga tersebut, diperkirakan terkait stok beras yang kian menipis. Menurut data Desperindag dan Bulog Batam, stok beras untuk kualitas medium, tinggal 400 ton saja. Sementara kebutuhan beras per bulan mencapai enam ribu ton.
Solusi jangka pendek untuk pengadaan beras, memang telah digagas pihak-pihak terkait. Direncanakan, pada minggu-minggu ke depan nanti, akan didatangkan lagi sekitar 900 ton beras. Namun persoalannya, apakah cukup pemecahan masalah dengan tindakan sepotong-sepotong tersebut?
Untuk wilayah Kepri, tentunya perlu pemikiran lebih matang lagi guna mencari solusi pengadaan beras dalam jangka pajang. Mengingat, wilayah Kepri adalah wilayah zero produk beras. Hampir dipastikan, di wilayah Kepri ini tidak ada daerah yang berfungsi sebagai penghasil atau produsen beras.
Mencoba menelisik kelangkaan dan kenaikan harga beras, sebenarnya merupakan akumulasi kenaikan harga beras selama lima tahun terakhir. Dan ini,  adalah buah simalakama politik beras. Impor beras diprotes, tidak impor harga naik, rakyat miskin pun bertambah.
Dalam beberapa kasus, impor beras sebenarnya adalah hal yang amat biasa. Jika stok yang dikuasai pemerintah menipis, harus impor untuk operasi pasar. Jika tidak, rakyat akan kelaparan. Tetapi, setiap kali pemerintah berniat mengimpor beras, selalu ada protes, bahkan DPR sempat hendak menggunakan hak angket dan hak interpelasi. Dalam hal ini, beras lalu bukan hanya jadi komoditas ekonomi, melainkan juga komoditas politik.
Itulah sebabnya, tidak terlalu aneh jika selama ini tak pernah ada pihak yang mempermasalahkan kemungkinan terjadinya korupsi dalam pengadaan beras. Padahal, seringkali aparat keamanan dan bea cukai telah menemukan bukti-bukti penyimpangan. Beberapa kapal tertangkap tangan membawa beras dari Thailand dan Vietnam, tanpa dokumen lengkap. Karena beras merupakan komoditas politik, maka penolakan impor selalu dikaitkan dengan nasib petani. Bukan dugaan adanya korupsi.
Harus diakui, selama ini pola pikir kita soal pangan memang terlalu subsisten. Dalam artian menanam padi secara tradisional, untuk kepentingan keluarga sendiri. Untung atau rugi tidak masalah. Sistem pertanian modern, berupa lembaga petani, lembaga penyimpan data, lembaga pemberi kredit, dan lembaga asuransi, tidak pernah terbangun di Indonesia.
Menurut pengamat sosial-politik sekaligus penyair, F Rahardi, pola pikir ini juga mendasari pemikiran pemerintah dan para polisitisi kita. Mereka berpolitik dan memerintah negeri secara tradisional, untuk kepentingan “keluarga sendiri”. Ketika Megawati menjadi presiden, para politisi Golkar paling sering berkomentar tentang kebijakan beras nasional. Belakangan, politisi PDI-P lebih gencar menentang impor beras. Itulah politik subsisten.
Kenaikan harga beras perlu dipecahkan secara bijak. Karena dikhawatirkan, kenaikkan harga itu baru awal permasalahan yang lebih besar. Mengingat, panen sawah tadah hujan akan terjadi paling cepat pertengahan 2007. Selama itu, stok beras yang dikuasai Bulog akan habis.
Pemerintah, yang masih berpolitik secara subsisten, akan terus menghadapi dilema. Impor beras ditentang, tidak impor harga beras akan menggila. Bak buah simalakama, dimakan ibu mati, tidak dimakan bapak mati.
Ke depan, terobosan Revolusi Hijau, perlu segera direalisasikan. Padi hibrida, meski masih penuh kontroversi, perlu segera dijadikan andalan untuk menggenjot produksi.
Selain itu, jika impor dianggap pilihan tak layak, sementara peningkatan produksi beras tak bisa diharapkan lagi, satu-satunya cara untuk keluar dari krisis beras ialah melakukan substitusi.
Persoalannya, adakah komoditas lokal yang dapat menggantikan peran beras sebagai bahan pangan utama sumber karbohidrat? Mari kita pikirkan bersama.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: