Selalu Telat Antispasi

SALAH satu kelemahan bangsa Indonesia yang selama ini sering menjadi olok-olok adalah tradisi jam karet. Penyakit massal ini terjadi di semua sisi kehidupan. Tradisi ngaret diperparah dengan birokrasi alias prosedur yang berbelit-belit.
Dampaknya, banyak hal yang seharusnya bisa cepat dilakukan, baru bisa diselesaikan cukup lama. Pekerjaan yang seharusnya murah pun akhirnya menyita biaya besar karena harus melalui birokrasi yang berbelit-belit. Semuanya harus menggunakan biaya.
Mungkin karena budaya ngaret dan berbelit-belit itulah, antisipasi bencana yang terjadi selalu terlambat. Ibarat hujan sudah datang, baru kalang kabut mencari payung dan saling menyalahkan.
Masih ingat ketika Aceh dan Nias dilanda gempa dan tsunami. Setelah ribuan nyawa melayang barulah pemerintah Indonesia ribut-ribut soal pengadaan dan pemeliharaan alat deteksi tsunami. Begitu juga saat gempa tsunami yang melanda pantai Pangandaran Jawa Barat dan gempa Yogyakarta.
Tragedi gunung Merapi baru-baru juga terlambat diantisipasi. Pasalnya, bunker yang dibangun, ternyata tidak aman dihuni pengungsi. Terbukti, mereka yang berlindung di bunker malah tewas mengenaskan.
Lumpur Lapindo terlambat diantisipasi. Saling menyalahkan dan upaya mengatasi baru dilakukan setelah lumpur menyerupai lautan. Antisipasi dilakukan setelah lumpur tak terbendung lagi dan harta benda tak ternilai lenyap.
Tragedi-demi tragedi juga terjadi dengan mudah merenggut nyawa dan harta benda. Yang terbaru, banjir Jakarta akhirinya disikapi dengan kepasrahan. Antisipasi banjir lima tahunan itu ternyata telat.
Bukan hanya tragedi akibat bencana alam. Tragedi akibat kecelakaan pun selalu telat diantisipasi. Sejumlah kecelakaan kereta api terjadi tanpa antisipasi. Dan yang cukup menyita perhatian adalah kecelakaan pesawat AdamAir di Majene Sulawesi Tengah. Pesawat dan penumpangnya hilang di laut. Dan dua hari lalu, AdamAir kembali menjadi berita gara-gara mendarat darurat di bandara Juanda Surabaya.
Yang paling terkini, kemarin kapal Devina I terbakar dalam pelayaran dari Tanjung Priok ke Bangka. Belasan penumpang tewas.  Seperti bencana dan tragedi lain, pejabat-pejabat berwenang pun mulai meributkan antisipasi. Mereka mengatakan, seharusnya tragedi tidak terjadi kalau ini dan itu. Entahlah, mungkin gara-gara selalu telat mengantisipasi pula, pulau-pulau di Kepulauan Riau diributkan setelah ludes dikeruk. Budaya.(*)

One Response to “Selalu Telat Antispasi”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: