Bencana Angkutan

NASIB manusia di tangan Tuhan. Kecelakaan bisa terjadi di mana saja. Di negara-negara modern yang konon teknologinya sudah teramat maju pun, insiden buruk di ranah angkutan masih bisa terjadi. Di Jepang yang sistemnya sudah teruji dan dapat diandalkan kecelakaan kereta api juga kerap berulang.
Bukannya hendak bersembunyi di balik lemah dan “kuno”nya teknolgi angkutan di tanah air, namun kecelakaan angkutan yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini memang terasa di luar kendali kita semua.
Akhir tahun 2006 ditutup dengan musibah tenggelamnya KM Senopati. Bergulir satu hari saja, tepat tanggal 1 Januari 2007, giliran musibah angkutan udara. Pesawat AdamAir hilang tak terlacak bersama puluhan penumpangnya. Kedua insiden tersebut, sampai saat ini masih meninggalkan persoalan dan misteri.
Setelah dua musibah besar itu, musibah kereta api ikut mewarnai gonjang-ganjing angkutan di tanah air. Kereta anjlok, kereta masuk sungai, kereta terguling, terjadi silih berganti.
Terakhir yang masih hangat di benak kita semua adalah musibah kebakaran KM Levina I, Kamis (22/2), yang sebelumnya diawali dengan musibah patahnya badan pesawat AdamAir saat mendarat di Bandara Juanda Surabaya.
Melihat polanya, barangkali di benak sebagian masyarakat timbul pertanyaan kenapa insiden udara seolah erat berkaitan dengan insiden di lautan. Dulu, kecelakaan laut yang terjadi terlebih dahulu baru disusul udara. Sekarang kecelakaan angkutan udara, baru disambung angkutan laut.
Tanpa mencoba mengkait-kaitkan kedua insiden tersebut, sepertinya insiden yang menimpa angkutan kita memang saling jalin-menjalin. Insiden-insiden yang terjadi seolah menggambarkan betapa karut-marutnya  sistem angkutan kita.
Sebagai angkutan publik, yakni angkutan yang dipakai oleh banyak anggota masyarakat, maka setiap musibah yang telah menimpa seharusnya menjadi inspirasi untuk memperbaiki sistem dan perilaku penyelenggara angkutan transportasi.
Dalam beberapa kasus, insiden yang terjadi sebenarnya lebih banyak karena faktor kealpaan manusia. Penyelenggara angkutan seringkali lupa untuk selalu melakukan checking dan perawatan alat angkutannya secara benar.
Di samping itu, pemerintah juga nampak terlalu lunak dalam menerapkan aturan pengadaan sarana angkutan. Pada banyak kasus kecelakaan, ternyata faktor usia armada angkutan selalu mengambil peran utama.
Pada kasus kecelakaan kereta api, kapal, dan pesawat udara, ternyata selalu melibatkan armada-armada yang sudah masuk kategori out of date. Tua dan terawat, itu kesan yang muncul dari beberapa kendaraan yang mengalami musibah.
Pertanyaannya sekarang, tidak bisakah pemerintah melakukan pembenahan dan aturan ketat soal faktor usia armada angkutan untuk menciptakan keamanan dan kenyamanan bagi penumpang? Mungkinkah saat kir atau pemeriksaan kendaraan yang berlangsung dalam periode waktu tertentu di instansi terkait dilakukan secara sungguh-sungguh? Barangkali kita sudah saatnya berorientasi pada keselamatan, kemanan dan kenyamanan penumpang, ketimbang mengutamakan sisi bisnisnya belaka.
Oleh karenanya, setiap terjadi kecelakaan seharusnya membuat  kita makin berupaya memperbaiki diri. Memang mustahil untuk tidak ada kecelakaan lagi, tetapi kita harus bisa menekan musibah sekecil mungkin. Jangan sampai terjadi kecelakaan karena faktor yang terlalu sepele. Kita perlu makin menerapkan budaya belajar dari pengalaman, agar kecelakaan tak selalu berulang.
Hanya dengan perubahan sikap, kita bisa berharap pelayanan angkutan umum bisa lebih baik. Tanpa itu, setiap kali kita pasti hanya bisa merasa prihatin saat melihat kecelakaan terjadi.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: