Ulah Para Pemimpin Absurd

HARI-HARI belakangan ini, orang-orang yang hidup di Pulau Batam, Bintan, dan Karimun, Kepulauan Riau (Kepri), dilanda kegundahan. Harapan akan meraih pertumbuhan ekonomi yang melaju kencang, kian meluntur. Tentu gundah, lantaran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sendiri yang menjanjikan akan menerapkan program sepcial economic zone (SEZ) alias kawasan ekonomi khusus di kawasan ini, ternyata belum tampak kemajuan berarti menuju penerapan konsep itu.
Dalam pikiran mereka, hal yang dijanjikan langsung oleh seorang presiden saja eksekusinya bisa berlarut-larut. Bahkan, masyarakat semakin diombang-ambingkan dalam sebuah ketakpastian soal sebuah aturan sebagai dasar pijakan bagi konsep “juru selamat” guna membangkitkan kembali gairah perekonomian di daerah itu.
Kemarin berita bagus, hari ini bisa berbalik 180 derajat menjadi berita yang amat buruk. Informasi yang beredar di tengah masyarakat maupun dalam ulasan media massa setempat, senantiasa simpang-siur.
Seperti kutipan berikut ini:
“Undang-undang SEZ bakal beres dalam enam bulan ke depan,” kata Ismeth Abdullah, Gubernur Kepri yang dikutip hampir semua koran. Ketika berita gembira itu masih dinikmati oleh sebagian besar masyarakat, thau-tahu keluar berita sebaliknya. “Konsep SEZ sama sekali tidak jelas. Yang disodorkan kepada kami justru mengadopsi utuh PP No 36/200 tentang Free Trade Zone. Lantas apa yang spesial dari SEZ itu? Mohon kami diberikan konsep tertulis supaya jelas ketika menyusun undang-undangnya,” lontar Irmady Lubis selaku anggota Pansus RUU Investasi, di Gedung DPR, Jakarta sana.
Mendengar (atau membaca) berita seperti ini, tentu saja membuat drop mental pengusaha maupun masyarakat yang sangat berharap pada program khusus itu.
Tapi mau bagaimana. Semua yang sedih dan gundah dalam ketakpastian itu adalah mereka- mereka yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu apa kata penguasa. Sungguh amat disayangkan, negara seolah-olah sengaja tarik-ulur soal dasar hukum itu. Apalagi satu-demi satu perusahaan asing mulai angkat koper meninggalkan Batam. Seperti kasus kaburnya Bos PT Livatech, Jackson Goh, di awal tahun 2007 ini.
Kini, masyarakat Kepri tinggal menunggu satu pukulan telak untuk roboh hingga tak sanggup bangkit lagi. Apalagi kalau bukan pernyataan bahwa, “Ternyata, SEZ tidak bisa diberlakukan saat ini karena bla…bla…blaaa….”.  Persis seperti ketika pemerintah menolak menerapkan FTZ di Batam, beberapa waktu lalu. merupakan bukti bahwa pemerintahan kita ternyata dipegang orang-orang berpikiran absurd. Menyedihkan.(eddymesakh.wordpress.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: