Skandal Anggaran

ISU seputar wakil rakyat dari pusat sampai daerah makin sering saja berputar-putar di soal anggaran yang dikelola secara tidak transparan. Seolah ada skandal anggaran yang sengaja dimainkan oleh para wakil rakyat dan eksekutif untuk kepentingan yang lebih sempit. Caranya dengan mengakali anggaran. Ada semacam upaya mencari-cari celah untuk mengucurkan uang negara bagi kepentingan pribadi dan golongan. Lihat saja, di pusat ada program pengadaan laptop bagi semua anggota DPR yang nilainya mencapai Rp 12,1 miliar. (Rencana ini baru dibatalkan, Selasa (27/3/2007) oleh DPR sendiri) Pun biaya pengawalan unsur pimpinan DPR yang menghabiskan anggaran hingga Rp 16,5 miliar! Untuk pengadaan laptop, negara hendak dirugikan berlipatganda. Pertama, tujuan pengadaan laptop itu terkesan mengada-ada sehingga sekadar memboroskan keuangan negara. Kedua, harga laptopnya sudah digelembungkan berkali lipat sehingga ada selisih ‘uang hantu’ sebesar Rp 550 juta. Sebelumnya, DPRD seluruh Indonesia mencak-mencak dan menggeruduk DPR pusat untuk memprotes revisi PP 37/2006 tentang tunjangan komunikasi dewan. Mereka resah karena sebagian di antara mereka sudah menerima dan menghabiskan dana ratusan juta, tapi tiba-tiba didesak untuk dikembalikan. Khusus di Batam, juga diwarnai ’skandal’ anggaran. Paling mutakhir adalah adanya insentif bagi Komisi II Dewan Kota Batam yang ‘disetor’ oleh Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda). Komisi ini membidangi urusan anggaran. Hal ini terungkap setelah ada tawaran Kadispenda untuk memperpanjang kerja sama kemitraan dengan anggota Komisi II yang baru. Karena belum lama ini DPRD Kota Batam lakukan kocok ulang semua personel komisi. Khusus komisi ‘basah’ itu, tiap bulan Dispenda Kota Batam menyetor Rp 50 juta yang dikemas sebagai “insentif kemitraan”. Dananya dicubit dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Untuk ketua komisi dijatah Rp 5 juta per bulan dan para anggota masing-masing Rp 4,5 juta per bulan. Komisi ini diawaki 10 personel. Aneh. Ada kemitraan khusus antara Dispenda dan Komisi II DPRD yang dirasa perlu disediakan ‘insentif’ tambahan tersebut. Bahkan, setoran insentif itu pun atas persetujuan wali kota, sebagaimana diakui mantan Kadispenda Batam, Agussahiman, bahwa itu didasarkan surat keputusan (SK) wali kota. Insentif itu berpotensi melanggar hukum. Sebab, berdasarkan peraturan pemerintah (PP) nomor 21 tahun 2007, tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD, tiap bulan para anggota dan Ketua DPRD sudah mendapat 14 jenis penghasilan berupa gaji pokok plus berbagai tunjangan ini-itu yang diambil dari APBD. Jika ditambah tunjangan “insentif kemitraan” ini, berarti khusus Komisi II, penghasilannya menjadi 15 jenis. Ironis! Di saat banyak rakyat masih hidup menderita, para wakilnya justru bergelimang insentif bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Belum lagi studi banding ke mana-mana yang juga menyedot banyak anggaran. Rakyat diwajibkan setia membayar pajak, sementara para pengelola anggaran dan wakil rakyat kebagian menghambur-hamburkan uang untuk mempertebal kantong sendiri dan untuk hal-hal yang tidak relevan bagi kepentingan rakyat banyak. Alangkah bijaknya apabila dana-dana yang sangat besar dan sangat dibutuhkan masyarakat tersebut dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Bukan dihabiskan untuk membayar DPR/DPRD.(edy)

Efek Domino Bom Karimun

BOM meledak hampir menjadi keseharian masyarakat Indonesia belakangan ini. Dua kali bom di Bali, bom Marriot, bom Kedubes AS, dan banyak lagi peristiwa bom lainnya. Sejak itu pula, berita ancaman bom tak pernah sepi menghiasi pemberitaan media massa. Negara kita pun dicap sebagai negara yang tidak aman, apalagi nyaman.
Bali sebagai ikon pariwisata Indonesia sudah pernah merasakan perihnya dampak bom. Gairah pariwisata Pulau Dewata meredup dan harus terseok-seok untuk bangkit. Ternyata, membangun kembali imej positif jauh lebih sulit dibanding memulai dari awal.
Masyarakat di Provinsi Kepri sebagai satu di antara sejumlah wilayah primadona tujuan investasi di Indonesia, semestinya belajar dari pengalaman itu. Sayang, kesadaran itu belum kita miliki. Terbukti dengan adanya peledakan bom PT Karimun Granite (KG) di Pulau Karimun, Jumat pekan lalu.
Peledakan bom itu tentu bisa mengganggu iklim investasi di Provinsi Kepri. Terlepas dari pro dan kontra penambangan granit, mestinya tidak boleh ada tindakan destruktif seperti itu.. Sebab, sebagai daerah investasi ribuan perusahaan asing, seharusnya kita berusaha sekuat tenaga untuk memberikan kenyamanan kepada mereka dalam menjalankan usahanya.
Lihat saja, akibat peledakan bom itu, beberapa pihak mulai waswas. Peristiwa itu telah menyebabkan kondisi tidak nyaman dan dampaknya mulai meluas. Sektor properti yang mulai kembali bergairah pun, kini waswas. Padahal, para developer sedang berjuang keras agar Pemerintah Pusat bisa memberikan kelonggaran kepemilikan properti bagi orang asing.
Tujuannya adalah bagaimana menarik orang asing sebanyak-banyaknya masuk Indonesia, khususnya Kepri, agar membawa masuk devisa. Bahkan sekaligus menanamkan modalnya di sini. Sayang, di tengah semangat para pengusaha yang sedang menggebu, tahu-tahu ada peledakan bom di perusahaan asing. Sementara di sini ada banyak sekali orang asing. Tentu ini bisa menjadi ‘promosi’ negatif bagi investasi. Akan semakin berat bagi kita untuk menarik penanam modal asing masuk Kepri.
Upaya pemerintah dan pengusaha pun tengah giat-giatnya mempromosikan wilayah ini sebagai tujuan investasi melalui program special economic zone (SEZ) bisa sia-sia. Kepri yang juga sedang berpromosi sebagai tempat penyelenggaraan wisata MICE (Meeting, Incentive, Conference and Exhibition) bisa berantakan. Nah, sebagai warga Kepri yang bertanggungjawab, kita semua harus memiliki kesadaran penuh untuk tidak mengganggu rencana positif yang sedang giat berproses.
Hingga kini, belum ada pihak yang mengaku bertanggungjawab atas peristiwa itu. Polisi pun belum menemukan titik terang siapa dalang dan pelaku peledakan bom itu. Tapi seandainya ada di antara kita, warga Kepri, yang memiliki informasi valid mengenai pelaku peledakan, diharapkan kerjasamanya untuk melaporkan kepada pihak berwenang. Supaya persoalan ini segera terselesaikan, sebelum efeknya makin meluas ke berbagai sektor lainnya.
Jika tak segera diungkap, pada akhirnya kita juga yang kena getahnya. Bila investor sudah tidak betah, mereka masih punya banyak pilihan. Ada banyak negara lain yang menawarkan kondisi yang lebih nyaman dan bersahabat untuk berbisnis. Untuk itu, mari kita sama-sama membuat daerah kita ini nyaman bagi siapa pun. Baik untuk kita sendiri maupun untuk seluruh tamu-tamu kita.(*)

Singapura (Mulai) Marah

SINGAPURA mulai marah. Kemarahan itu muncul akibat larangan ekspor pasir telah menghambat reklamasi dan pembangunan infrastruktur di negeri kecil itu. Perdana Menterinya, Lee Hsien Loong bahkan menyatakan, larangan ekspor pasir oleh Pemerintah Indonesia telah melenyapkan kesempatan kerja sama ekonomi Singapura-Indonesia.
Kita tahu bersama bahwa antara Indonesia dan Singapura tengah kerja sama mengembangkan special economic zone (SEZ) di Batam, Bintan, dan Karimun. Konsep ini pun telah menjadi harapan sebagian besar masyarakat di Provinsi Kepri, karena berharap penerapan konsep tersebut bakal mendorong pertumbuhan ekonomi di provinsi ini.
Di tengah kerja sama itu, ada dua agenda besar yang menjadi pembicaraan hangat antara Pemerintah Indonesia dan Singapura. Yakni perjanjian ekstradisi dan pembahasan batas teritorial. Singapura senantiasa mengulur-ulur pembicaraan mengenai batas wilayah. Negeri Merlion pun tidak mau membuat perjanjian ekstradisi dengan Indonesia.
Soal batas wilayah, negeri Merlion masih enggan lantaran mereka tengah melakukan proyek reklamasi alias penimbunan pasir di laut untuk memperluas wilayahnya. Tentu saja mereka belum mau membahas perbatasan sebelum proyek reklamasi itu selesai pada tahun 2010 mendatang.
Singapura juga menolak perjanjian ekstradisi. Bagaimana tidak, di negeri itu bersembunyi banyak  koruptor asal Indonesia. Padahal, para koruptor itu ikut menyebabkan kebangkrutan Indonesia dengan membawa kabur triliunan rupiah uang negara ke sana.
Meski demikian, Indonesia tidak bisa tergesa-gesa menghadapi Singapura. Meski hanya sebuah negara mini, Singapura memiliki kekuatan finansial dan sangat berpengaruh di kawasan Asia-Pasifik, bahkan dunia. Dengan pengaruhnya itu, Singapura mampu mempengaruhi dunia internasional dalam berbagai perundingan politik dengan negara-negara di sekitarnya, seperti dua negara serumpun, Indonesia dan Malaysia.
Tapi Indonesia tetap belum berada di posisi dilematis hanya untuk sebuah kerja sama ekonomi. Sebab, negara ini memiliki kekayaan sumber daya manusia dan alam yang jauh lebih unggul dibanding Singapura. Sehingga soal tawar-menawar dengan Singapura, perjanjian kerja sama ekonomi tidak boleh menjadi hambatan untuk memperjuangkan sebuah nasionalisme. Dalam soal pasir dan batas wilayah, jika memang serius, maka para pengambil harus membuat keputusan tegas. Apalah artinya sebuah perjanjian ekonomi apabila kedaulatan negara tergadai dan harga diri bangsa terinjak-injak.
Soal special economic zone (SEZ) yang bakal dibantu sepenuhnya oleh Singapura, seharusnya tidak membuat Indonesia menjadi sangat bergantung pada negara itu. Sebab, kunci untuk mensukseskan program tersebut bisa dicapai sendiri. Tidak sedikit orang cerdas dan ekonom kelas dunia yang dimiliki bangsa ini. Tinggal bagaimana pemerintah lebih serius dalam pelayanan kepada para investor. Memangkas birokrasi yang berbelit-belit, memberikan kepastian hukum, dan memberantas praktik-praktik kotor aparat dan birokrat yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi.
Jika pemerintah mampu membuat kebijakan dan iklim investasi yang kondusif, negara ini tidak perlu bergantung kepada negara manapun. Toh, sekalipun ada bantuan Singapura, investor tidak otomatis tertarik jika iklim investasi di Indonesia, khususnya di Batam, Bintan, dan Karimun tidak menunjang. Artinya, sukses atau gagalnya SEZ, tidak berada di tangan Singapura. Bola tetap di tangan Pemerintah Indonesia dan pemerintah daerah setempat.(edy)

Lampu Sepeda dan Celana Hilang Dicuri Orang

Paman Boncel

* Mbah Boncel si Petualang Indonesia Asal Yogya (3-Habis)

TEKAD Supriyanto alias Mbah Boncel untuk mengelilingi Indonesia dengan menggunakan sepeda, paling tidak membuka mata kita semua. Pasalnya Mbah Boncel bisa melihat langsung budaya dan kebiasaan setiap masyarakat di daerah yang dilewatinya.
“Saya melihat masyarakat di Indonesia Barat kelihatannya lebih makmur dibanding di wilayah timur. Sehingga seharusnya masyarakat di wilayah timur itu mendapat perhatian khusus dari orang-orang penting di Indonesia,” ungkap Mbah Boncel saat berada di Kantor Redaksi Tribun, Minggu (11/3).
Selain itu, ia juga merasa beruntung bisa melihat secara langsung wilayah tanah air dari dekat. “Mungkin tidak semua orang bisa merasakan pengalaman seperti saya. Untuk itulah saya selalu menuliskan setiap perjalanan saya di dalam buku,” ujarnya sambil menunjukan buku besar yang berisi catatan perjalanan dengan rapi.
Ia juga bercerita, wilayah Indonesia merupakan daerah yang kaya dengan keindahan alam. Bahkan dari Kupang hingga Sumatera, ia mengaku kerap berhenti di tengah perjalanan, sekadar untuk menikmati pemandangan. Namun di luar itu, ia merasa miris dengan sejumlah perilaku orang-orang yang menjadi bagian bangsa ini.
“Empat celana saya hilang dicuri orang. Bahkan lampu sepeda yang baru saya beli, juga diambil orang. Bahkan pernah pula saya dihadang sejumlah orang di tengah hutan di Sumatera. Mereka mengira saya bawa uang banyak. Saat itu saya pasrah kepada Yang Di Atas saja,” ujar Mbah Boncel.
Orang-orang yang berusaha merampok Mbah Boncel kemudian merebut tas dan sepeda yang dikendarainya. “Saya biarkan saja. Mereka kemudian mengobrak-abrik isi tas. Karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan, para perampok itu berencana membawa sepeda saya. Namun untungnya ketika mereka mencoba menaikinya, secara tiba-tiba rantai sepeda itu macet. Mereka bahkan sempat mencobanya sampai lima kali tapi nggak berhasil,” tambah Mbah Boncel.
Karena tidak berhasil mendapatkan barang-barang milik Mbah Boncel, para perampok itu pergi dengan sendirinya. “Ajaib, setelah sepeda itu macet rantainya, tiba-tiba kembali seperti sedia kala saat saya naiki,” ungkapnya.
Pengalaman lain yang tak bisa dilupakan oleh Mbah Boncel adalah saat melintas di Jakarta. Selain nyaris masuk ke jalur jalan tol, Mbah Boncel sempat menarik perhatian pengguna jalan lain yang melintas. Bahkan ia sering diberi jalan oleh pengendara lainnya dengan sukarela. “Sampai-sampai saya berada di tengah jalur. Sementara pengguna jalan lain justru menepi dan memberi kesempatan kepada saya,” ujar Mbah Boncel dengan tertawa.
Kedatangannya ke Kepri setelah dari Sumatera, bagi Mbah Boncel juga ada misi khusus. Ia ternyata ingin bertemu dengan keponakannya yang kini bekerja dan tinggal di daerah Sengkuang. “Dia itu anak kakak saya. Jadi waktu melintas ke Kepri, saya mampir ke rumahnya, sekaligus untuk menjenguk cucu yang baru lahir,” ungkapnya.
Selama di Batam Mbah Boncel, juga menyempatkan untuk berkeliling sebelum pergi ke Tanjungpinang dan meneruskan perjalanan ke Kalimantan. Ia sempat mengunjungi icon Batam, yakni Jembatan Barelang, serta ke sejumlah tempat di Jodoh/Nagoya, Sekupang dan sebagainya. Kamis hari ini, Mbah Boncel berencana meninggalkan Batam untuk meneruskan perjalanannya mengelilingi Indonesia dengan sepeda bututnya. Selamat jalan Mbah Boncel! (yondaryono)

Pinjam Ponsel untuk Telepon Istri

* Mbah Boncel si Petualang Indonesia asal Yogya (2)

SETELAH menempuh perjalanan selama beberapa bulan, dan mengarungi 12 provinsi, rasa rindu istri pasti dirasakan Mbah Boncel. Namun, ketika rasa itu mulai muncul, ia punya jurus penangkalnya sendiri.
“Saya sering menyanyikan lagu Andai Ku Tahu dari Ungu setiap kali rasa rindu atau rasa sedih menerpa di perjalanan,” ujarnya. Saking rindunya terhadap istri, ia sering menelepon ke rumah hanya sekadar untuk memberitahukan kabarnya. Karena tak membawa ponsel sendiri, ia sering meminjam ponsel orang lain yang dijumpainya di perjalanan sehingga ia bisa menelepon keluarganya. Kalau pas memiliki uang, ia pun mampir ke wartel untuk menghubungi istri dan kedua anaknya.
Selama di perjalanan, Mbah Boncel mengaku tak pernah merasa sakit, meski ia tak mau menjelaskan apa rahasia di balik staminanya tersebut. “Wah kalau yang itu rahasia,” tukasnya sambil tertawa.
Di dalam tas bututnya pun tak ada obat untuk menjaga staminanya. “Saya sama sekali tak membawa obat, pokoknya semuanya diserahkan kepada Yang Di Atas saja,” katanya.
Dalam perjalanan, tak jarang ia sering kelelahan mengayuh sepedanya. Kalau jalannya terlalu menanjak maka ia akan menuntun sepedanya. “Pernah pas di Flores, jalannya terlalu menukik, jadi saya tuntun, bahkan saya angkat sepedanya,” kenangnya.
Meski kelelahan, Mbah Boncel mengaku tak pernah tersesat selama di perjalanan, karena ia selalu mengikuti petunjuk arah. Setiap kali rasa letih menerpa, ia memilih untuk beristirahat.
“Karena itu saya belum pernah mengalami kecelakaan sampai sekarang. Semoga sampai akhir perjalanan nanti saya bisa pulang ke rumah dengan selamat,” paparnya.
Meski lelah dan mencoba beristirahat, tak jarang Mbah Boncel harus tidur sampai larut malam. Pasalnya, ia sering menginap di kantor polisi dan semua polisi yang berada di sana terus mengajaknya mengobrol sampai malam.
“Jadi saya tak pernah memaksakan untuk terus mengayuh sepeda. Karena sering tidur sampai larut malam, saya jadi kurang energi untuk keesokan harinya, sehingga saya memilih untuk beristirahat setiap tiga jam sekali dalam perjalanan,” ungkapnya. Meski lelah, Mbah Boncel mengaku tak pernah menumpang mobil dan terus mengayuh sepedanya. “Pokoknya kalau capek ya istirahat bukan malah numpang mobil,” katanya.
Karena rambutnya yang sudah memutih, tak jarang ia dipanggil dengan julukan Mister oleh orang-orang yang dijumpainya selama dalam perjalanan. “Bahkan kalau saya sudah pakai kacamata hitam saya disapa ‘Halo Mister!’. Mendengar itu, saya cuma tertawa saja. Lumayan buat hiburan,” ujarnya sembari terkekeh.
Keinginan Mbah Boncel sekarang hanya satu. Pulang ke rumah. “Pokoknya kalau bisa sebelum Lebaran saya harus sudah pulang ke Yogyakarta untuk merayakan Lebaran bersama keluarga,” pungkasnya. (hanonsari paramita)

Berbekal Sepeda Butut dan Uang Rp 75 Ribu

* Mbah Boncel si Petualang Indonesia Asal Yogya (1)

USIANYA sudah setengah abad lebih, namun hal itu tak menghalangi Supriyanto (52), alias Mbah Boncel untuk bersepeda keliling Indonesia. Bagaimana suka duka selama perjalanan, berikut ini Tribun menurunkan pengalaman Mbah Boncel secara bersambung.

Saat memulai perjalanannya pada 11 November tahun lalu dari Kota Yogyakarta, pria yang rambutnya sudah memutih ini  hanya membawa lima kaos, dua celana panjang, dan dua celana pendek.
“Semuanya saya masukkan ke dalam tas butut saya beserta uang Rp 75 ribu. Selain itu, saya membawa bekal air minum, pompa, ban luar dan ban dalam, serta peralatan untuk memperbaiki sepeda,” katanya saat mengunjungi Kantor Tribun Batam, Minggu (11/3).
Menurut pria yang akrab dipanggil Mbah Boncel ini, ia memulai rute pertamanya dengan bersepeda menuju ke Surabaya. Setelah sampai ke Surabaya, ia langsung menuju ke Pulau Bali, Lombok, Sumbawa, Flores dan Kupang. Sebenarnya ia ingin pergi ke Papua, namun karena harus menunggu kapal yang baru tiba 25 hari kemudian, akhirnya ia mengurungkan niatnya.
Pria berambut putih ini pun langsung menuju ke Jakarta melalui Jalur Pantura. Rute Surabaya-Jakarta ia tempuh selama dua minggu dengan menggunakan sepeda butut yang sudah dimodifikasi di bagian gearnya, sehingga ia tak kelelahan di jalan.
Selama perjalanan, ia sudah menginap di berbagai fasilitas umum. Mulai dari masjid, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), sampai ke Kantor Polres dan Polsek yang dilewatinya.
Dari Jakarta, ia kemudian menuju ke Pelabuhan Merak dan memulai perjalanannya di Pulau Sumatra. “Saya mulai dari Lampung sampai ke Aceh. Setelah itu, saya ke Batam sesudah menempuh perjalanan dari Medan dan Pekanbaru,” paparnya.
Rencananya, Kamis (15/3) mendatang, ia akan menuju ke Pulau Kalimantan melalui Tanjungpinang. “Pokoknya saya harus sampai ke Merauke dan kembali ke rumah sebelum Hari Raya Idul Fitri tahun ini,” ujarnya mantap.
Lantas apa yang memotivasi bapak dua anak ini untuk menjelajah Indonesia dengan menggunakan sepeda bututnya? Ternyata, keinginan Mbah Boncel sudah muncul sejak ia duduk di bangku SMP. Sejak SMP ia ingin sekali melihat seperti apa wajah Indonesia sebenar-benarnya. “Saya juga ingin menambah pengalaman dengan melihat langsung budaya di Indonesia,” tuturnya.
Selama berada dalam perjalanan, Mbah Boncel mengaku sudah lima kali berganti sepatu dan dua kali mengganti ban dalam. Ia juga mengaku sama sekali tak melakukan persiapan khusus sebelum memulai perjalanan pada 11 November tahun lalu.
“Sejak itu, saya sudah menempuh jarak ribuan kilometer. Dan semua catatan perjalanan saya catat di sebuah buku. Di buku lainnya, saya berhasil mendapatkan beberapa buah stempel dari pejabat-pejabat setempat sebagai bukti jika saya sudah keliling Indonesia,” ungkapnya.
Suka dan duka sudah pasti dialami pria asal Desa Mangiran, Trimurti, Srandakan Bantul ini selama mengayuh sepedanya. Uniknya, ia mengaku tak pernah membayar makanan yang didapatnya dari berbagai restoran terkemuka sepanjang perjalanan. Bahkan setiap kali ia mampir ke sebuah restoran maka pemilik restoran menyambutnya dan memberikan pelayanan spesial untuknya secara gratis.
“Saya tak hanya dapat makanan gratis selama perjalanan, tetapi juga ada saja orang yang memberi bekal. Sehingga sekarang saya malah bisa mengirim uang ke rumah. Kalau bawa uang banyak-banyak nanti malah dirampok orang,” kata pria kelahiran 27 Maret 1954 ini sambil terkekeh.
“Nggak tahu nanti saya akan merayakan ulang tahun di mana. Kalau kemarin pas tahun baru, saya merayakannya di Lampung,” ungkapnya.(hanonsari paramita)

Berbagi Beban

DRAMA dan tragedi tampaknya sealu menimpa bangsa ini. Hampir setiap hari, adegan itu kita saksikan baik lewat tayangan media televisi maupun secara langsung. Kasus bunuh diri seorang ibu dengan empat orang anaknya di Kota Malang Jawa Timur, Sabtu (10/03) lalu, betul-betul mengagetkan kita.  Ironisnya, dari empat anaknya itu, paling kecil berusia sembilan bulan. Sementara yang paling besar baru 10 tahun.
Belum lagi kasus ini tuntas, terjadi lagi kasus penembakan oleh seorang polisi terhadap atasannya. Kejadian ini baru terjadi Selasa (13/3), di wilayah kepolisian Semarang, Jawa Tengah. Sebelumnya, juga dalam bulan Maret ini, polisi menembak mati istri, mertua dan dua orang lelaki lainnya di Bangkalan. Setelah itu, sang polisi mengakhiri hidupnya dengan menembak kepalanya sendiri.
Dalam teori psikologi, banyak faktor yang menyebabkan seseorang nekat membunuh dan melakukan bunuh diri. Ada yang dilatari faktor sosial, ekonomi dan keluarga. Namun Psikolog Senior Universitas Indonesia, Sartono Mukadis, membagi penyebab bunuh diri menjadi beberapa kelompok yakni bunuh diri karena absurditas, eksestensialis dan patologis.
Ketika Sartono menilik beberapa kasus bunuh diri yang terjadi di Indonesia, lebih dominan masuk dalam kelompok patologis. Artinya, bunuh diri yang dilakukan secara sadar yang dipicu oleh rasa panik dan letupan emosi sesaat.
Ada semacam dorongan tiba-tiba yang muncul dari dalam dirinya sehingga dia nekat mengakhiri hidupnya dengan berbagai cara. Dikatakan sadar, karena dalam proses bunuh diri sebelumnya dia mempersiapkan segala peralatan dibutuhkan.
Kalau akan gantung diri, dia terlebih dahulu menyiapkan tali, mencari lokasi yang cukup kuat untuk mengikatkan tali agar ketika tergantung tali tidak putus. Atau menyiapkan kursi agar bisa tergantung atau berbagai persiapan lainnya. Artinya, saat-saat persiapan itu jelas dilakukannya secara sadar.
Begitu juga kalau orang bunuh diri meloncat dari gedung atau dari jembatan. Dia secara sadar mengetahui bahwa tempat ini cocok untuk mengakhiri hidup. Apalagi dorongan dari dalam tubuhnya semakin meningkat. Apakah disebabkan faktor ekonomi, sosial, atau keluarga.
Dorongan dari dalam diri untuk nekat membunug dan bunuh diri itu, seringkali disebabkan telah menumpuknya persoalan-persoalan dalam dirinya sehingga akal sehatnya tidak mampu lagi mencairkan jalan keluar yang positif.
Secara kejiwaan, beban berat yang dialami batin, karena sifatnya yang kaku, tertutup, kurang bergaul atau kurang berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Akibatnya, setiap persoalan yang muncul dipendam sendiri.
Karena tidak pernah dibicarakan dengan orang lain, baik kepada orang tua, kakak, adik, teman atau lingkungan sosial lainnya, maka persoalan itu jadi menumpuk. Ketika tumpukan itu semakin besar, maka bunuh diri dianggap satu-satunya jalan keluar untuk bisa lepas dari beban itu.
Karena itu, membuka diri dan suka bergaul merupakan cara ampuh agar tidak muncul pikiran untuk bunuh diri. Karena faktanya, orang yang hidupnya fleksibel dan suka bergaul, sangat begitu mudah melepaskan beban batinnya.
Dia akan mencurahkan perasaannya, beban batinnya atau membagi persoalannya dengan orang-orang yang dipercayanya. Dengan begitu, beban batinnya akan berkurang karena sudah ditumpahkan keluar. Bahkan persoalan ekonomi sekalipun, kalau diselesaikan secara fleksibel dan berkomukonikasi dengan orang lain, jalan keluar akan mudah ditemukan.
Dengan mencurahkan beban-beban yang ada dalam diri kita pada orang lain, maka akan membuat diri kita survive dari tekanan-tekanan hidup. Orang yang memiliki kelenturan hidup, tidak akan pernah berpikir untuk bunuh diri.
Kasus di Malang ini setidaknya menjadi jawaban. Karena , dari komentar tetangganya, termasuk ayah  dari Junania Mercy (ibu empat anak yang bunuh diri), jelas bahwa dia termasuk orang yang tertutup.
Junania memendam sendiri beban hidup yang dideritanya karena sang suami jarang pulang. Namun di sisi lain, kecintaan pada anaknya begitu mendalam. Makanya, dia membawa keempat anaknya untuk bersama-sama bunuh diri. Sifat ketertutupannya itulah yang membuat beban batinnya makin berat. (*)