Ribut Pencairan Duit Tommy

PUTRA kesayangan mantan Presiden Soeharto, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto,  kembali jadi sorotan tajam. Bukan soal keberadaannya di luar Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang, Jakarta. Bukan pula soal kehidupan pribadinya terkait dengan sejumlah wanita.
Kali ini terkait dengan pencairan dana Rp 90 miliar dari simpanan Tommy di Bank Banque Nationale de Paris (BNP) Paribas Cabang London Inggris. Lebih heboh lagi, pencairan dana tersebut dilakukan melalui rekening Departemen Hukum dan HAM, ketika departemen itu dipimpin Yusril Ihza Mahendra dan berlanjut hingga berganti ke tangan Hamid Awaluddin.
Fakta tersebut bertolak belakang dengan upaya yang dilakukan Kejaksaan Agung di Pengadilan Distrik Guernsey, Inggis, untuk mendapatkan uang Rp 425 miliar yang diklaim milik Tommy. Bank Paribas dan pemerintah Inggris menolak mencairkan uang itu karena menduga uang diperoleh dari hasil kejahatan.
Bagaimana mungkin Tommy mencairkan sebagian uang itu –Rp 90 miliar– melalui rekening Departemen Hukum dan HAM? Ternyata lembaga pemerintah itu pernah mengeluarkan jaminan bahwa duit itu masuk kategori tak bermasalah.
Lebih unik lagi, pengacara yang berhasil meyakinkan Departemen Hukum dan HAM mengenai status duit tersebut adalah dari Kantor Pengacara Ihza dan Ihza yang notabene milik Yusril Ihza Mahendra. Yang bergerak di lapangan memang bukan Yusril Ihza Mahendra tetapi pengacara dari Kantor Ihza dan Ihza bernama Hidayat Achyar.
Sayang belum ada kejelasan gamblang dari pemerintah mengenai kontroversi pencairan dana tersebut. Baik Yusril maupun Hamid memilih bungkam. Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono yang pernah menjadi Duta Besar RI di London mengakui pihaknya pernah mengantar seorang pejabat Departemen Hukum dan HAM mengurus pencairan uang tersebut di Inggris.
Dilihat dari kronologinya, Yusril Ihza Mahandra yang harus memberi penjelasan paling awal. Selain karena saat itu ia menjadi orang pertama di jajaran Departemen Hukum dan HAM, pencairan duit Tommy Soeharto menggunakan jasa kantor pengacara yang sebagian sahamnya dimiliki Yusril.
Kalau tidak ada penbjelasan gamblang, dengan cepat orang akan mengira ada faktor patgulipat dalam pencairan dana milik Tommy tersebut. Betapa tidak, pengacara luar negeri yang pernah disewa Tommy gagal mencairkan duit besar tersebut.
Wajar saja kalau orang berpikir, berapa banyak succes fee yang diterima Kantor Pengacara Ihza dan Ihza setelah berhasil mencairkan sebagian duit Tommy Soharto. Selain itu akan muncul pertanyaan, mengapa seorang pejabat eselon I di Departemen Hukum dan HAM mau ikut turun tangan pergi ke Inggris untuk mengurus pencairan dana.
Dari kasus ini dapat dilihat bahwa pemerintah punya sikap ambivalen. Di satu sisi menjamin harta Tommy tersebut tidak terlibat masalah, di sisi lain ikut berjuang di pengadilan Inggris agar uang tersebut masuk ke pundi-pundi negara.
Langkah Kejaksaan Agung –yang mewakili kepentingan pemerintah– juga agak mengejutkan karena selama ini Tommy tidak perah dijaring dalam kasus korupsi. Bahkan gugatan perdata  PT Timor Nusantara –importir mobil Timor milik Tommy– terhadap pemerintah dikabulkan Mahkamah Agung (MA).
Kabarnya Kejaksaan Agung  telah menyiapkan setumpuk bukti untuk menunjukkan bahwa harta Tommy yang disimpan di Inggris tersebut merupakan hak negara. Ada keuntungan di pihak pemerintah Indonesia, yaitu Bank Paribas dan pemerintah Inggris mempunyai pendapat serupa sehingga ada pihak lain yang bisa dijadikan ‘sekutu’.
Namun, sikap Departemen Hukum dan HAM yang memberi fasilitas kepada Tommy untuk mencairkan sebagian uang pada 2004-2005, bisa dipakai sebagai pukulan balik oleh kuasa hukum kerluarga Cendana tersebut. Oleh karena itu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus mempu bersikap tegas dan lugas dalam memandang masalah tersebut.
Kalau persoalan tersebut –ambivalensi sikap Indonesia– dibiarkan berlarut-larut, reputasi bangsa ini di luar negeri akan makin tercoreng. Orang akan menuding para pembantu presiden jalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi, sehingga seolah-olah ada negara dalam negara. Kalau itu terjadi betapa ironisnya kita.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: