Mental Masyarakat Kian Sakit

INDONESIA sedang sakit. Bahkan sudah pada tahapan kronis. Tak hanya wabah penyakit dan aneka moda transportasi saja yang menjelma menjadi mesin pembunuh. Masyarakat bahkan tak perlu lagi menanti datangnya malaikat maut pencabut nyawa. Karena di negeri ini banyak bertebaran jiwa- jiwa sakit yang setiap saat bisa menjelma menjadi monster pencabut nyawa. Merenggut nyawa sendiri, bahkan merampas paksa nyawa orang-orang lain, termasuk orang yang dicintainya.
Kasus terakhir di Malang, Jawa Timur, Minggu (10/3) kemarin, menjadi gambaran kian merosotnya kesehatan mental masyarakat Indonesia. Seorang ibu bernama Junania Mercy (36) mengakhiri hidupnya bersama empat anaknya sekaligus dengan cara minum potasium yang sangat beracun itu.
Jauh hari sebelumnya, di Bandung, Jawa Barat, seorang ibu bernama Anik Koriah (31), juga menganiaya tiga anak kandungnya hingga tewas. Sebelumnya lagi, seorang bernama Mujinem (30), ditemukan tewas gantung diri bersama dua orang anaknya. Dan banyak lagi kasus bunuh diri lainnya.
Tentu kasus-kasus bunuh diri itu tidak timbul karena iseng. Apalagi sekadar mencari sensasi. Seperti kasus Ny Mercy yang diduga bunuh diri lantaran usaha bengkel moge suaminya bangkrut dan membuat kondisi ekonomi kaluarganya semakin menurun. Padahal, biaya hidup keluarganya sangat tinggi.
Di dalam sebuah masyarakat, tentu ada pengaruh ekonomi, sosial, dan politik. Tekanan-tekanan dari ketiga hal itu bisa menjadi ‘bahan bakar’ yang  mendorong orang untuk bunuh diri. Celakanya, negara seolah lepas tanggungjawab sehingga kasus bunuh diri pun kian sering terjadi.
Tak heran bila ahli jiwa RSU dr Soetomo, dr Nalini Agung SpKJ mengatakan, pemerintah telah mengabaikan kesehatan mental masyarakat. Padahal, sejak tahun 2004 lalu, badan kesehatan dunia WHO telah memperingatkan Pemerintah Indonesia agar lebih memperhatikan kesehatan mental masyarakatnya. Karena diprediksi, pada tahun 2015 mendatang, kesehatan mental masyarakat Indonesia akan lebih parah lagi. Dan apabila tidak segera diatasi, kasus gangguan mental akan menyerupai kasus narkoba, HIV/AIDS, dan lainnya.
Seharusnya negara menyadari bahwa sebagian besar pelaku bunuh diri telah mengalami gangguan depresi, putus asa, dan tidak berdaya. Ketika himpitan ekonomi dan sosial tidak memberi pilihan, kebijakan politik justru tidak memihak. Orang-orang putus asa pun tidak punya pilihan lain, sehingga bunuh diri menjadi pilihan terbaik.
Di samping belum adanya kemauan politik yang kuat untuk memperhatikan kondisi kesehatan mental masyarakat, lingkungan tempat tinggal pun tak menyediakan pilihan yang lebih baik. Lantaran masyarakat masa kini yang semakin individualistis.
Seandainya ada kepedulian dari lingkungan sekitar yang memberi dukungan sosial. Atau pengurus negara lebih peduli terhadap kesehatan mental masyarakat dengan menyediakan lebih banyak psikater atau psikolog yang ditempatkan di pusat-pusat layanan kesehatan. Tentu mereka bisa membantu mengobati jiwa-jiwa yang sakit itu. Sehingga bunuh diri pun tidak lagi menjadi pilihan favorit bagi orang-orang ’sakit jiwa’ untuk keluar dari himpitan masalah ekonomi, sosial, dan politik yang dialaminya.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: