Berbagi Beban

DRAMA dan tragedi tampaknya sealu menimpa bangsa ini. Hampir setiap hari, adegan itu kita saksikan baik lewat tayangan media televisi maupun secara langsung. Kasus bunuh diri seorang ibu dengan empat orang anaknya di Kota Malang Jawa Timur, Sabtu (10/03) lalu, betul-betul mengagetkan kita.  Ironisnya, dari empat anaknya itu, paling kecil berusia sembilan bulan. Sementara yang paling besar baru 10 tahun.
Belum lagi kasus ini tuntas, terjadi lagi kasus penembakan oleh seorang polisi terhadap atasannya. Kejadian ini baru terjadi Selasa (13/3), di wilayah kepolisian Semarang, Jawa Tengah. Sebelumnya, juga dalam bulan Maret ini, polisi menembak mati istri, mertua dan dua orang lelaki lainnya di Bangkalan. Setelah itu, sang polisi mengakhiri hidupnya dengan menembak kepalanya sendiri.
Dalam teori psikologi, banyak faktor yang menyebabkan seseorang nekat membunuh dan melakukan bunuh diri. Ada yang dilatari faktor sosial, ekonomi dan keluarga. Namun Psikolog Senior Universitas Indonesia, Sartono Mukadis, membagi penyebab bunuh diri menjadi beberapa kelompok yakni bunuh diri karena absurditas, eksestensialis dan patologis.
Ketika Sartono menilik beberapa kasus bunuh diri yang terjadi di Indonesia, lebih dominan masuk dalam kelompok patologis. Artinya, bunuh diri yang dilakukan secara sadar yang dipicu oleh rasa panik dan letupan emosi sesaat.
Ada semacam dorongan tiba-tiba yang muncul dari dalam dirinya sehingga dia nekat mengakhiri hidupnya dengan berbagai cara. Dikatakan sadar, karena dalam proses bunuh diri sebelumnya dia mempersiapkan segala peralatan dibutuhkan.
Kalau akan gantung diri, dia terlebih dahulu menyiapkan tali, mencari lokasi yang cukup kuat untuk mengikatkan tali agar ketika tergantung tali tidak putus. Atau menyiapkan kursi agar bisa tergantung atau berbagai persiapan lainnya. Artinya, saat-saat persiapan itu jelas dilakukannya secara sadar.
Begitu juga kalau orang bunuh diri meloncat dari gedung atau dari jembatan. Dia secara sadar mengetahui bahwa tempat ini cocok untuk mengakhiri hidup. Apalagi dorongan dari dalam tubuhnya semakin meningkat. Apakah disebabkan faktor ekonomi, sosial, atau keluarga.
Dorongan dari dalam diri untuk nekat membunug dan bunuh diri itu, seringkali disebabkan telah menumpuknya persoalan-persoalan dalam dirinya sehingga akal sehatnya tidak mampu lagi mencairkan jalan keluar yang positif.
Secara kejiwaan, beban berat yang dialami batin, karena sifatnya yang kaku, tertutup, kurang bergaul atau kurang berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Akibatnya, setiap persoalan yang muncul dipendam sendiri.
Karena tidak pernah dibicarakan dengan orang lain, baik kepada orang tua, kakak, adik, teman atau lingkungan sosial lainnya, maka persoalan itu jadi menumpuk. Ketika tumpukan itu semakin besar, maka bunuh diri dianggap satu-satunya jalan keluar untuk bisa lepas dari beban itu.
Karena itu, membuka diri dan suka bergaul merupakan cara ampuh agar tidak muncul pikiran untuk bunuh diri. Karena faktanya, orang yang hidupnya fleksibel dan suka bergaul, sangat begitu mudah melepaskan beban batinnya.
Dia akan mencurahkan perasaannya, beban batinnya atau membagi persoalannya dengan orang-orang yang dipercayanya. Dengan begitu, beban batinnya akan berkurang karena sudah ditumpahkan keluar. Bahkan persoalan ekonomi sekalipun, kalau diselesaikan secara fleksibel dan berkomukonikasi dengan orang lain, jalan keluar akan mudah ditemukan.
Dengan mencurahkan beban-beban yang ada dalam diri kita pada orang lain, maka akan membuat diri kita survive dari tekanan-tekanan hidup. Orang yang memiliki kelenturan hidup, tidak akan pernah berpikir untuk bunuh diri.
Kasus di Malang ini setidaknya menjadi jawaban. Karena , dari komentar tetangganya, termasuk ayah  dari Junania Mercy (ibu empat anak yang bunuh diri), jelas bahwa dia termasuk orang yang tertutup.
Junania memendam sendiri beban hidup yang dideritanya karena sang suami jarang pulang. Namun di sisi lain, kecintaan pada anaknya begitu mendalam. Makanya, dia membawa keempat anaknya untuk bersama-sama bunuh diri. Sifat ketertutupannya itulah yang membuat beban batinnya makin berat. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: