Pinjam Ponsel untuk Telepon Istri

* Mbah Boncel si Petualang Indonesia asal Yogya (2)

SETELAH menempuh perjalanan selama beberapa bulan, dan mengarungi 12 provinsi, rasa rindu istri pasti dirasakan Mbah Boncel. Namun, ketika rasa itu mulai muncul, ia punya jurus penangkalnya sendiri.
“Saya sering menyanyikan lagu Andai Ku Tahu dari Ungu setiap kali rasa rindu atau rasa sedih menerpa di perjalanan,” ujarnya. Saking rindunya terhadap istri, ia sering menelepon ke rumah hanya sekadar untuk memberitahukan kabarnya. Karena tak membawa ponsel sendiri, ia sering meminjam ponsel orang lain yang dijumpainya di perjalanan sehingga ia bisa menelepon keluarganya. Kalau pas memiliki uang, ia pun mampir ke wartel untuk menghubungi istri dan kedua anaknya.
Selama di perjalanan, Mbah Boncel mengaku tak pernah merasa sakit, meski ia tak mau menjelaskan apa rahasia di balik staminanya tersebut. “Wah kalau yang itu rahasia,” tukasnya sambil tertawa.
Di dalam tas bututnya pun tak ada obat untuk menjaga staminanya. “Saya sama sekali tak membawa obat, pokoknya semuanya diserahkan kepada Yang Di Atas saja,” katanya.
Dalam perjalanan, tak jarang ia sering kelelahan mengayuh sepedanya. Kalau jalannya terlalu menanjak maka ia akan menuntun sepedanya. “Pernah pas di Flores, jalannya terlalu menukik, jadi saya tuntun, bahkan saya angkat sepedanya,” kenangnya.
Meski kelelahan, Mbah Boncel mengaku tak pernah tersesat selama di perjalanan, karena ia selalu mengikuti petunjuk arah. Setiap kali rasa letih menerpa, ia memilih untuk beristirahat.
“Karena itu saya belum pernah mengalami kecelakaan sampai sekarang. Semoga sampai akhir perjalanan nanti saya bisa pulang ke rumah dengan selamat,” paparnya.
Meski lelah dan mencoba beristirahat, tak jarang Mbah Boncel harus tidur sampai larut malam. Pasalnya, ia sering menginap di kantor polisi dan semua polisi yang berada di sana terus mengajaknya mengobrol sampai malam.
“Jadi saya tak pernah memaksakan untuk terus mengayuh sepeda. Karena sering tidur sampai larut malam, saya jadi kurang energi untuk keesokan harinya, sehingga saya memilih untuk beristirahat setiap tiga jam sekali dalam perjalanan,” ungkapnya. Meski lelah, Mbah Boncel mengaku tak pernah menumpang mobil dan terus mengayuh sepedanya. “Pokoknya kalau capek ya istirahat bukan malah numpang mobil,” katanya.
Karena rambutnya yang sudah memutih, tak jarang ia dipanggil dengan julukan Mister oleh orang-orang yang dijumpainya selama dalam perjalanan. “Bahkan kalau saya sudah pakai kacamata hitam saya disapa ‘Halo Mister!’. Mendengar itu, saya cuma tertawa saja. Lumayan buat hiburan,” ujarnya sembari terkekeh.
Keinginan Mbah Boncel sekarang hanya satu. Pulang ke rumah. “Pokoknya kalau bisa sebelum Lebaran saya harus sudah pulang ke Yogyakarta untuk merayakan Lebaran bersama keluarga,” pungkasnya. (hanonsari paramita)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: