Polisi Kembali Bikin Heboh

POLISI lagi-lagi jadi sorotan. Urusannya tetap sama, yaitu pengendalian emosi dan penggunaan senjata api. Polisi yang bikin kali ini bernama Bigadir Polisi Satu (Briptu) Hance, anggota Unit Pelayanan Pengaduan dan Penegakan Disiplin (P3D) Polwiltabes Semarang, Jawa Tengah.
Ia nekat menembak hingga tewas atasannya, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Lilik Purwanto, Wakil Kapolwiltabes Semarang, sekitar pukul 07.30 WIB, Rabu (14/3). Bukan hanya itu saja, Hance juga menyandera koleganya di P3D (dulu bernama provost), Aipda Titik dan AKP Indratiningrum.
Karena tak mau menyerah, setelah dikepung pasukan Resmob Polda Jawa Tengah dan Resmob Polwiltabes Semarang, Hance tewas diberondong senjata laras panjang M-16. Dengan demikian dalam waktu hampir bersamaan dua polisi tewas di ruang kerja Wakapolwiltabes Semarang.
Minggu lalu, Briptu Rifai Yulianus, anggota Polres Bangkalan, Madura, Jawa Timur, juga bikin heboh. Ia menembak mati istrinya, mertua, dan dua pria lain yang diundang ke rumahnya. Setelah puas menghabisi empat orang tersebut, Rifai bunuh diri dengan cara menembak keningnya sendiri.
Senin (12/3) lalu, anggota Sartnarkoba Polda Jawa Barat,  Brigadir Polisi Sofyan, tewas di depan empat perwira polisi. Leher korban tertembus peluru revolver dinasnya sendiri. Sofyan celaka karena kelalaiannya ketika memainkan senjata api yang saat itu berisi empat butir peluru. Maksud hati ingin bercanda, tetapi justru kehilangan nyawa.
apa yang menyebabkan Hance jadi gelap mata? Sementara ini diduga karena ia tak terima dimutasikan ke Polres Kendal. Ia ingin mutasi tersebut dibatalkan. Sebuah motif yang kedengaran sangat sepele namun akibatnya begitu tragis.
Bisa jadi motif tersebut benar. Namun jarang sekali tindakan nekat seseorang –seperti dilakukan Hance– hanya didasarkan oleh motif tunggal. Oleh karena itu, agar jajaran Polri dapat mengambil hikmah dan mencegah kejadian serupa terus terulang, kasus Hance, Rifai, dan oknum polisi lainnya harus diusut secara tuntas serta menyeluruh.
Selama ini kasus semacam itu ditutup begitu saja dengan alasan pelakunya ikut tewas. Padahal kalau polisi dapat mengungkap akar persoalan, terutama latarbelakang persoalan yang sebenarnya, akan sangat berguna bagi pembinaan para personel di jajaran Polri.
Tes psikologi memang perlu dilakukan secara berjala kepada seluruh personel Polri, namun rasanya cara tersebut tidak cukup. Polri mempunyai lembaga konseling yang bisa diakses sewaktu-waktu untuk melayani para anggota yang sedang menghadapi masalah, baik terkait dengan kehidupan keluarga, pekerjaan, atau masalah lainnya.
Seseorang –siapapun dia– ketika merasa tak mampu mengurai persoalan hidup, memerlukan orang lain sebagai tempat ‘mengadu’ atau setidaknya untuk mencurahkan sisi hati (curhat). Kalau ia tidak menemukan kanalisasi yang tepat mak akan terus bertumpuk dan sewaktu-waktu bisa meledak menjadi sebuah tindakan anarkis.
Konseling tidak hanya melibatkan para psikolog tetapi juga para pimpinan yang lebih tahu mengenai prilaku sehari-hari anak buahnya. Sikap care dan concern dari unsur pimpinan   sangat diperlukam karena satu di antara tugas pimpinan adalah menyelesaikan masalah di ranah kewenangannya.
Celakanya, fungsi tersebut seringkali diabaikan. Para pimpinan acapkali justru menjadi sumber masalah. Budaya kekerasan, mengeksploitasi, tidak mau mendengarkan, dan sikap sewenang- wenang sering menjadi pemicu munculnya persoalan.
Bisa jadi Hance bukan hanya tak puas kepada mutasi terhadap dirinya. Harus diteliti apakah ia mempunyai dendam kepada atasannya tersebut. Kalau terenyata ada unsur dendam, apakah yang menyebabkan ia begitu dendam sehingga nekat menembak Wakapolwiltabes dan menyandera dua koleganya.
Kasus penembakan tersebut seolah menjadi rangkaian cerita duka yang terus melanda negeri ini. Apakah kita harus pasrah begitu saja menghadapi semua fenomena negatif tersebut? Ada sebagian orang mengatakan, kasus-kasu seperti itu tidak perlu dibesar-besarkan karena bisa terjadi di bagian dunia manapun. Tetapi ada juga berpendapat,  berbagai cerita duka itu merupakan sebuah sinyal mengenai ada sesuatu yang tak beres dan harus segera diluruskan.
Rasanya, kalau kita hanya berpangku tangan dan pasrah merenungi berbagai musibah itu,  tragedi demi tragedi akan terus belanjut.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: