Memenangkan Cinta

RHR Dodi Sarjana

A brand is not developed in one night. Success story a brand is determined in decades, not in years. (Al Ries and Laura Ries).

SADARKAH kita, jika sedari membuka mata di pagi hari, hingga “ritual” memejamkan mata di malam hari, parade iklan seolah tiada habis-habisnya mengisi perputaran hidup manusia? Kehidupan kita seolah nyaris dipenuhi iming-iming beragam iklan.
Jika dalam rengkuhan waktu yang sama, semua media massa tersaji di sekitar kita, maka begitu kita terbangun di pagi hari, mata langsung menangkap tayangan iklan di televisi. Lalu saat kita memungut koran yang dilemparkan loper di depan pintu, mata kita pun langsung “dihibur” oleh iklan yang terselip di antara berita.
Ketika kita mandi, sementara istri memasak di dapur, iklan yang dikumandangkan pesawat radio juga akan menembusi dinding-dinding kamar mandi dan menyeruak di antara peralatan dapur. Mengusik telinga.
Dalam perjalanan ke kantor, iklan juga mencuri perhatian. Billboard maupun spanduk yang bertebaran di sepanjang jalan, ikut andil memberikan indikasi terjadinya persaingan bisnis yang semakin ketat.
Banjir produk, saat ini, tengah mengepung konsumen. Dalam satu produk sejenis, banyak pilihan yang ditawarkan kepada pembeli. Dengan itu konsumen dimanjakan. Celakanya, dalam kondisi tertentu, banyak konsumen yang tidak lagi peduli fungsi dan kualitas barang yang mereka pilih. Sepanjang apa yang ada dalam ingatanya itulah yang akan dia wujudkan.
Dalam era berjubelnya produk di pasaran, barang-barang yang sering dikomunikasikan kepada masyarakat lah yang akan menancap di otak manusia. Suka tidak suka, komunikasi produk yang intens seringkali menjadi penuntun dan pendorong konsumen untuk menentukan pilihan dalam membeli barang.
Jujur harus diakui, selama ini ada kelemahan konsumen yang dimanfaatkan produsen atau marketer. Why They Buy karya psikolog kondang Robert Settele dan Pamela Alreck, menyatakan, kebanyakan orang tak bisa menjawab ketika ditanya mengapa seseorang membeli apa yang ingin mereka beli?
Barangkali sebenarnya mereka tahu, tetapi sulit menemukan alasan yang tepat. Yang lebih celaka lagi dan ini sering terjadi, mereka ternyata benar-benar tak mengerti latar belakang dan motif membeli barang.
Pembeli-pembeli tersebut, membelanjakan uangnya hanya karena dorongan sesaat, tersulut sikap emosinal belaka. Para pembeli di ranah ini memang tidak bisa dikategorikan sebagai market andalan. Mereka gampang goyah dan terbius imajinasi iklan.
Namun, jika kita bisa mengelolanya, menumbuhkan rasa setia di hati mereka terhadap produk kita, bukan tidak mungkin mereka berubah menjadi market potensial.(*)

Kalau Tanya Gaji, Saya Ditampar…

meri.jpg* Gadis asal NTT dikurung empat tahun
* Dijadikan sekretaris tanpa digaji
* Dua kali dipaksa gugurkan kandungan

Kalau saya tanya gaji, mau minta pulang atau saya menolak ketika diajak berhubungan intim, pasti saya ditampar dan diancam akan dibunuh

INILAH tragedi hidup yang dialami oleh Merlin, sebut saja begitu, seorang perempuan 22 tahun asal Nusa Tenggara Timur (NTT). Meski lama menetap di Jakarta, tapi bisa juga tertipu bos penyalur tenaga kerja dari Tanjungpinang. Ia dikurung selama empat tahun tanpa digaji.
Kisahnya bermula saat Merlin bertemu dengan seorang pria bernama Aris (nama samaran), pemilik PT TM. Perusahaan ini adalah sebuah penyalur tenaga kerja lokal yang berada di kawasan Jl Ir Sutami, Kota Tanjungpinang, Ibukota Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
Merlin tergiur iming-iming akan dijadikan sekretaris dengan gaji Rp 1,8 juta per bulan. Sehingga ia rela melepaskan pekerjaannya di sebuah klinik di Jakarta dan pindah ke Kota Tanjungpinang pada bulan April 2003.
Benar, Merlin memang dijadikan sekretaris oleh Aris selama sembilan bulan pertama. “Tetapi saya tak pernah digaji,” kata Merlin saat ditemui di Shelter Engku Putri, sebuah rumah singgah yang khusus menampung korban trafficking dan kekerasan dalam rumah tangga, di Tanjungpinang, Minggu (29/4/2007).
Yang bikin Merlin semakin menderita, selain tak digaji, ia juga tidak diperkenankan keluar ruangan dan selalu dijadikan pelampiasan nafsu seks Aris. Merlin juga mengaku bahwa Aris selalu mengancam akan membunuhnya apabila ia berani melarikan diri. Ia juga sempat mengalami kekerasan berupa tamparan di wajahnya.
“Kalau saya tanya gaji, mau minta pulang atau saya menolak ketika diajak berhubungan intim, pasti saya ditampar dan diancam akan dibunuh,” tutur Merlin.
Akibat perbuatan lelaki tersebut, Merlin sempat hamil dua kali. Namun lelaki tersebut memberikannya jamu untuk menggugurkan janin dalam kandungannya. Hal itu terjadi pada Februari 2006.
Pada kehamilan yang kedua, ternyata Merlin hamil di luar rahim. Saat itu Merlin sudah hamil dua bulan. Kejadian itu terjadi pada 2 Maret 2007. MerlinĀ  pun menjalani operasi kandungan, sekaligus usus buntu.
Setelah semuanya selesai, Merlin meminta kepada lelaki tersebut agar ia diperkenanakan bekerja di luar rumah. Akhirnya MerlinĀ  pun mendapat pekerjaan di Jalan Gambir untuk merawat orang tua.
Suatu hari, Merlin mengambil inisiatif menelepon seorang kawan lamanya di Jakarta dan menceritakan nestapa yang ia alami. Dan ternyata sang kawan cepat tanggap. Ia mengontak seorang anggota DPRD Batam. Sang anggota dewan pun menghubungi Merlin untuk melaporkan diri ke Shleter Engku Putri. “Saya ingin pulang ke kampong,” kata Merlin.
Wanita berkulit hitam manis itu kini hanya berharap kejadian buruk yang dialaminya bisa segera terselesaikan. Kasus ini sementara dalam penyidikan Polresta Tanjungpinang.(aji)