Ketika Nasionalisme Berbicara…

SUASANA kantor mendadak berubah ricuh. Komputer-komputer yang biasanya sibuk digunakan awak redaksi mendadak menganggur. Teriakan-teriakan bermunculan di ruangan redaksi yang biasanya sepi di malam Minggu. Sepupu saya yang masih ABG pun tak ketinggalan histeris waktu menelepon dari Jogjakarta. Sepupu saya dari Solo mendadak membatalkan jadwal traktiran ulang tahunnya. Semua teman chatting di Yahoo Messenger mendadak mengubah status mereka. Mulai dari Indonesia Libas Lawanmu! Ayo Indonesia! Go Indonesia! Stop press! Indonesia-Arab Saudi! Dan berbagai dukungan lainnya bermunculan di dunia maya itu.
Apa pasal? Nasionalismelah yang berbicara. Nasionalisme yang selama ini dilupakan. Nasionalisme yang terpaksa dipinggirkan karena rasa pesimis terhadap nasib Bangsa Indonesia yang tak kunjung membaik. Tapi mendadak nasionalisme itu muncul kembali ke permukaan meski hanya untuk beberapa saat. Nasionalisme untuk mendukung Indonesia kembali.
Semua rakyat Indonesia tiba-tiba ingin menonton sepakbola. Rasa senasib sepenanggungan dan keinginan yang sama agar tim Indonesia menanglah yang berbicara. Keinginan melipur berbagai lara dan duka yang terus mendera negeri kepulauan ini dan keinginan untuk bangkit dari keterpurukan seakan lebur menjadi satu.
Ya, keinginan untuk menghapus semua duka. Menepis semua lara. Mengobati segala luka. Membuat penonton rela berdesak-desakan di Stadion Gelora Bung Karno mendukung tim Merah-Putih. Mereka yang datang dari berbagai penjuru Indonesia dipastikan memenuhi stadion kebanggaan Indonesia itu.
Tak hanya rakyat yang ingin melipur semua duka itu. Presiden SBY ternyata juga ingin menyembuhkan duka yang sama. Mendukung tim Indonesia. Mulai dari awak redaksi kantor saya di Batam, sepupu saya di Jogja dan Solo yang mendadak histeris di telepon sewaktu Elie Aboy melesakkan gol sampai rakyat kecil yang mampu mengakses saluran televisi pasti memiliki keinginan yang sama. Menang. Semua suku bangsa, bahasa dan ras yang hidup di wilayah Indonesia pasti akan bersatu padu untuk mendukung tim Merah-Putih. Pertempuran antarsuku, agama, ras dan antargolongan pasti akan dilupakan di Poso, Ambon, Aceh dan di berbagai tempat lainnya sebelum dan selama pertandingan berlangsung. Semua pertempuran yang malah semakin melukai bangsa ini.
Hanya kemenangan yang mampu menyembuhkan luka bangsa ini. Luka karena wabah penyakit, bencana alam, dan pemerintah yang korup yang tak alpa terus mendera rakyat Indonesia. Hanya kemenangan yang mampu membuat rakyat tersenyum. Sedikit saja tersenyum sebelum mereka kembali menghadapi rutinitas hidup yang tak mudah. Mulai dari harga bahan bakar minyak yang semakin mencekik sampai terakhir harga susu yang ikutan mencekik.
Sedikit senyum yang pastinya akan sedikit mendinginkan hati dan pikiran yang selama ini lelah menghadapi tuntutan hidup. Presiden SBY juga pasti tersenyum dengan senyuman khasnya ketika Elie Aboy mencetak gol. Ia akan sedikit melupakan “pertengkarannya” dengan DPR, dan sedikit melupakan persoalan bangsa yang terus mendera.
Meski nasionalisme sudah berbicara, tapi kenyataan berkata lain. Indonesia dihempaskan tim yang sudah pernah tampil di Piala Dunia itu. Indonesia dikalahkan tim yang pernah dipermalukan Ukraina dengan skor 4-0 di Piala Dunia 2006 itu. Sebuah gol di menit-menit akhir pertandingan akhirnya menghancurkan harapan dan asa seluruh rakyat Indonesia ketika tim Merah-Putih dikalahkan Arab Saudi.
Nasionalisme yang gagal? Tidak juga. Paling tidak, sebelum dan selama pertandingan digelar, semua rakyat Indonesia bersatu padu dengan satu keinginan untuk mendukung Indonesia. Indah rasanya melihat semua keinginan itu. Lalu jika keinginan itu gagal? Tak mengapa. Masih ada kesempatan lain untuk memperbaiki. Masih ada asa yang bisa dirajut. Jangan putus asa. Tunjukkan Indonesia sudah lebih baik. Bukan hanya dalam segi sepakbola, tetapi di semua segi kehidupan. Jaga dan pelihara kesatuan dan nasionalisme yang sudah kita tunjukkan selama pertandingan 14 Juli 2007 kemarin. Kita bisa memetik pelajaran betapa indahnya kebersamaan. Jangan ada pertikaian lagi, jangan ada pertempuran lagi, jangan ada perselisihan lagi. Kita buat Indonesia jadi lebih baik. Dan percaya, Indonesia pasti akan lebih baik!!!(ruri)

2 Responses to “Ketika Nasionalisme Berbicara…”

  1. Mr.Nunusaku Says:

    Selama 62 tahun dalam kekuasaan bangsa sendiri apa yang kita rasakan sebagai bangsa Indonesia….?
    Kemakmuran belum terasa hanya dalam mimpi…?
    Kemelaratan masih menhantui hidup bangsa kita,
    penderitaan dan kemiskinan pusung lapar dan pemerintah
    yang kropsi membuat kita disebut masih sebagai bangsa pengemis. Sedangkan kita sudah merdeka selama 62 tahun
    tidak dapat mengatur sumber kekayaan alam kita, dan masih memohon bantuan luar. Lalu kita bertaya mengapa hal semacam ini terjadi…? apakah kita gak ada kemampuan
    untuk melepaskan bangsa ini dar kemelaratan…?

    Jawabannya : YANG MEMIMPIN BANGSA INI ADALAH SEMUANYA PEMIMPIN YANG JAHAT, RAKUS KEKAYAN DUNIA.
    MEMBUAT BANGSA INI TETAP MELARAT KARENA PEMIMPIN YANG KURANG BIJAKSANA, HANYA BISA MEMERAS SATU DENGAN LAIN MEMBUAT NEGARA INI SEBUT NEGARA BERSTATUS MANUSIA KRIMINAL.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: