Menguji Integritas Anggota KPU

KOMISI II Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) akhirnya berhasil memilih tujuh calon anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) melalui voting di gedung DPR, Jakarta, Kamis (4/10). Voting dilakukan setelah dilakukan fit and propert test (tes uji kelayakan) yang dilakukan selama tiga hari, 1-3 Oktober 2007.
Tujuh nama itu selanjutnya akan diserahkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan dalam bulan ini dijadwalkan akan dilantik. Sangat menarik penjelasan Wakil Ketua Komisi II DPR  Sayuti As’yatri yang menyebut di balik proses seleksi itu, DPR lebih mementingkan integritas calon  daripada aspek lain.
Ia menyebut tata krama dan kesopanan juga merupakan faktor yang sangat dipertimbangkan, alasannya faktor itu diperlukan untuk sebuah tim seperti KPU. Tak pelak ia menjamin tujuh calon anggota KPU itu bisa diandalkan,”katanya.
Ada seorang calon yang bergelar profesor(guru besar) tapi tak lolos seleksi karena ketika ditanya menjawab dalam bahasa Inggris. Sang profesor dinilai arogan dan substansi jawaban  tidak kena.
Satu dari tujuh calon anggota KPU paling populer di kalangan anggota Komisi II adalah Mantan Ketua KPUD Kalimantan Selatan Abdul Hafiz Anshary. Sejumlah anggota komisi II mengakui Hafiz sangat pandai dalam berkomunikasi, cerdas,  dan punya keilmuan.
Tentu saja hasil riil  fit and proper test yang dilakukan Komisi II DPR baru dapat dilihat hasilnya ketika para anggota KPU tersebut menjalankan tugasnya mengurus proses tahapan pemilu. Sorotan tajam kepada KPU sebagian besar menyangkut integritas dan transparansi dalam pengadaan logistik pemilu.
Biaya Pemilu 2009 diperkirakan mencapai Rp 21 triliun, termasuk di antaranya untuk pengadaan logistik berupa surat suara, kotak suara, berita acara penghitungan, dll. Mengelola sedemikian banyak tentu memerlukan kepiawaian tersendiri dan integritas tinggi.
Kalau faktor tersebut dilupakan, tidak mustahil nasib tujuh calon anggota KPU untuk Pemilu 2009 ini tak beda jauh dengan anggota KPU pimpinan Nazaruddin Sjamsuddin. Setidaknya ada tiga personel KPU yang harus menghuni penjara karena dinyatakan terbukti terlibat dalam korupsi pengadaan logistik pemilu.
Tak kalah penting menjaga netralitas anggota KPU karena mereka bertindak sebagai wasit pertarungan para calon anggota parlemen dan pasangan calon presiden/wakil presiden. Oleh karena itu sangat wajar kalau ada syarat yang menyatakan bahwa anggota KPU harus steril dari anggota partai politik.
Untuk menghindari penyimpangan yang pernah terjadi di masa lalu,  KPU baru seharusnya segera mempersiapkan mekanisme pengadaan logistik pemilu dan barang-barang inventaris lainnya untuk kepentingan pesta demokrasi tersebut. Mekanisme baru tersebut harus dapat menjadi pagar bagi anggota KPU untuk tetap dapat menjaga integritas, terutama mencegah munculnya para calon proyek.
Sudah bukan rahasia lagi, pada masa lalu para calo proyek berkeliaran mencari mangsa. Mereka mengaku dapat menggolkan proyek pengadaan logistik namun minta imbalan luar biasa besar. Para pengusaha banyak yang tergiur dengan janji tersebut sehingga kemudian terlilit sebuah konspirasi untuk melakukan mark up harga.
KPU harus berani mengumumkan secara terbuka, terutama kepada pihak yang hendak mengikuti tender, untuk tidak memberikan pemberian apapun kepada semua karyawan dan anggota KPU. Selain itu perlu perhitungan yang matang dalam menyusun skedul pengadaan barang-barang yang diperlukan untuk menghindari mepetnya waktu dan pengeluaran biaya yang tidak perlu.
Akan lebih bagus personel (auditor)  Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sudah proaktif berkoordinasi dengan KPU sejak awal sehingga tidak menyulitkan proses penyusunan laporan dan pertanggungjawaban penggunaan keuangan. Bukankah lebih baik mencegah terjadinya penyimpangan daripada memberikan tindakan setelah penyimpangan terjadi.
Tak kalah penting masyarakat ikut memberikan pengawasan produktif terhadap langkah dan kebijakan KPU sehingga ketika muncul  indikasi terjadinya penyimpangan bisa dilakukan upaya pencegahan lebih dini. Perlu digarisbawahi, integitas seseorang bisa dengan cepat berubah ketika ia mempunyai kekuasaan dan bergelimang uang.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: