Gertak Sambal dari Indonesia

ANGGOTA Ikatan Relawan Rakyat Malaysia (Rela) atau di Indonesia sejenis aparat trantib, bertindak arogam dengan menangkap Musliana Nurdin, istri diplomat asal Indonesia di Chowkit, Malaysia, Sabtu lalu.
Musliana  yang sedang berbelanja di kawasan Masjid Jamiek, Kuala Lumpur, ditangkap dengan alasan identitas berupa karti diplomatik yang ditunjukkannya palsu. Sikap arogan Rela ini menambah panjang daftar perlakuan tidak menyenangkan  oleh aparat di Malaysia terhadap warga negara Indonesia.
Sebelumnya,  sejumlah Polisi Diraja Malaysia mengeroyok wasit karate Indonesia Donald Kolopita sampai babak belur sehingga memantik reaksi keras di dalam negeri. Kasus itu mereda, tiba-tiba mereka mengklaim lagu Rasa Sayange  (versi Malaysia:Rasa Sayang) dan digunakan untuk promosi pariwisatanya, sehingga menimbulkan perang kata-kata, terutama di dunia maya atau internet.
Sikap arogan ini belum termasuk tindakan lain Malaysia yang masih menjadi catatan buruk yang mempengaruhi keharmonisan hubungan Indonesia-Malasyia. Sejak era kepemimpinan Presiden Soekarno, persoalan perbatasan dan penyerobotan pulau oleh Malaysia belum bisa diterima oleh Indonesia.
Belum lagi perlakuan arogan aparat dan warga Malaysia terhadap tenaga kerja Indonesia (TKI). Sikap merendahkan bangsa Indonesia terlihat dengan populernya istilah Indon yang merendahkan martabat bangsa Indonesia. Herannya, Malaysia selalu mendengungkan-dengungkan  sebagai bangsa serumpun.
Bila melihat berbagai kasus tidak menyenangkan oleh Malaysia, sepertinya ada hal yang perlu dipertanyakan. Berbagai reaksi keras di Indonesia terhadap sikap Malaysia, terkesan tidak mendapat respon bahkan seperti angin lalu saja. Mungkin Malaysia hanya menganggap reaksi-reaksi selama ini, bahkan ancaman Ganyang Malaysia  hanya sebagai gertak sambal yang tidak pernah terbukti.
Ada kesan Malaysia beranggapan Indonesia tidak mungkin melakukan pembalasan yang bersifat arogan karena dalam hitung-hitungan untung rugi, akan merugikan Indonesia sendiri. Mungkin saja reaksi keras terhadap penangkapan istri diplomat Indonesia ini, tetap akan bernasib sama. Ibarat  anjing  menggonggong  kafilah berlalu.
Apakah Indonesia juga akan menerima persoalan ini selesai seiring dengan perjalanan waktu? Tentu sangat tergantung dari kebijakan pemimpin bangsa ini. Yang jelas, harus ada sikap jelas dan tindakan yang tegas agar kasus ini tidak terulang. Penyelesaian melalui jalur diplomasi memang penyelesaian yang paling aman dibandingkan dengan cara konfrontasi.
Tapi jika penyelaian diplomasi itu tidak memberikan manfaat ke depan, mengapa tidak Indonesia menempuh jalan konfrontasi seperti mengeluarkan travel warning, menarik dubes RI dari Malaysia. Dan jika kemudian memang harus terjadi kofrontasi, sebaiknya Indonesia menunjukkan harga diri bangsa sebagai bangsa yang tidak penakut.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: