PNS dan Korupsi

MENARIK lontaran Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Taufiequrrahman Ruki mengenai rumus peningkatan kesejahteraan pegawai negeri sipil (PNS). Ternyata rumusnya sederhana, yaitu jangan korupsi.
Rumus tersebut memang sederhana tetap tidak mudah diaplikasikan. Ada dua pengertian korupsi yang dikenal pada saat ini, yaitu pengertian seperti diatur dalam UU Tindak Pidana Korupsi dan pengertian secara lebih luas.
Secara yuridis, dapat dikatakan korupsi kalau melakukan perbuatan memperkaya diri, badan, atau orang lain dengan cara melawan hukum hukum sehingga dapat merugikan keuangan negara. Dengan demikian, kalau melakukan perbuatan melawan hukum tetapi tidak merugikan keuangan negara tidak masuk dalam pengertian korupsi menurut ketentuan UU.
Ada ketentuan lain di luar UU tindak Pidana Korupsi yang sebenarnya mau dalam pengertian korupsi secara luas. Melakukan pungutan liar, menerima suap, menggelapkan atau mencuri uang milik perusahaaan orang lain,  dan berbuat curang,  masuk kategori korupsi dalam pengertian luas.
Apa yang dikatakan Ruki benar adanya. Manakala para pegawai negeri sipil dan tentu saja para pejabat publik, beraini mengatakan tidak kepada korupsi –baik dalam pengertian yuridis maupun pengertian luas– penghasilan negara akan meningkat tajam. Ketika pendapatan negara tinggi, tentu saja pemerintah dapat memberikan penghasilan lebih layak kepada para pegawainya.
Sebenarnya rumus Ruki itu masih kurang sempurna karena ia hanya menyebut PNS. Padahal tidak semua pejabat publik yang mempunyai kekuasaan sebagai pengambil keputusan, seorang PNS.
Para menteri, gubernur, wali kota/bupati, pimpinan lembaga tinggi negara bukan seorang PNS. Kalau mereka tetap menjalankan korupsi meski para bawahannya yang notabene PNS bekerja secara jujur,  tentu tidak ada artinya.
Bukankah para pejabat publik merupakan panutan dari para anak buahnya yang PNS? Kalau para pejabat publik, termasuk anggota DPR/DPRD berprilaku tak terpuji, tentu dengan cepat akan diikuti oleh abak buahnya.
Reformasi birokrasi penting memang faktor untama untuk mencegah terjadinya korupsi. Selain itu perlu terus menerus dikampanyekan bahwa memilih pekerjaan sebagai PNS merupakan sebuah pengorbanan karena gajinya jelas tidak pernah bakal menyukupi kebutuhan hidup layak plus gaya hidup masyarakat urban.
Celakanya, persepsi masyarakat sudah terlanjur terbangun bahwa dengan menjadi pegawai negeri bakal terangkat status sosialnya dan mendapatkan penghasilan tinggi. Tentu saja, ketika dalam kenyataan ternyata penghasilan tidak seperti diharapkan, muncul budaya mencari tambahan alias nyeper.
Kebiasaan yang terus berlanjut dan berlangsung lama akhirnya menjadi sebuah budaya buruk. Dalam bentuk yang sederhana, tidak disiplin dalam pekerjaan alias menyalahgunakan jam kerja, merupakan indikasi awal korupsi.
Sektor pengadaan barang, tender proyek, dan pengadaan jasa, merupakan bidang yang paling banyak menjadi lahan terjadinya korupsi. Praktik mark up dalam pengadaan barang dan jasa sudah dianggap sebagai sebuah kelaziman.
Para penyedia barang dan jasa selalu dihadapkan pada dilemana. Manakala menolak permintaan mark up,  pengadaan barang dan jasa dapat dialihkan kepada pihak lain. Manakala mereka mengikuti permintaan mark up harga,  mereka juga akan terkena dampaknya.
Sebut saja rekanan pengadaan alat pemidai sidik jari yang dipasang di kantor-kantor imigrasi, Dirut PT Sentral Filindo, Eman Rachman. Ia ikut dijaring sebagai terdakwa dan diadli di Pengadilan Tipikor, terkait dengan pengadaan pemidai sidik jari tersebut.
Eman yang dulunya pengusaha sukses dan mapan, mendadak jatuh miskin karena tak kuasa menolak praktik korupsi dalam proyek tersebut. Orang-orang semacam Eman sering menjadi sapi perah oknum pejabat dan PNS, sehingga ketika aksi pat gulipat itu terungkap akan menjadi korban pertama.
Oleh karena itu sangat tepat apa yang dikatakan Ketua KPK  Taufiequrrahman Ruki. Kalau mau makmur jangan pernah korupsi.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: