Keselamatan Penerbangan

KECELAKAAN pesawat kembali terjadi. Kali ini menimpa pesawat Boeing 737-200 Mandala rute Jakarta-Malang, nomor penerbangan RIL-260. Pesawat itu mengalami patah as roda depan ketika melakukan landing di Bandara Abdurrahman Saleh, Malang, Kamis (1/11).
Tak ada korban jiwa dalam kecelakaan tersebut, namun dampaknya cukup besar. Manajemen Manedala Airlines menghentikan sementara opersional semua pesawat Boeing 737-200 sampai didapat kepastian semunya laik terbang.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sudah memulai penyelidikan kecelakaan pesawat  tersebut. Informasi awal yang diterima KNKT, saat mendarat pesawat sempat mental di landas pacu (run way).
Kalau informasi awal itu benar,  wajar saja kalau  hidung pesawat menghujam ke tanah dan as roda depan patah. Tidak tertutup kemungkinan patahnya as roda depan karena pesawat mengalami hard landing (pendaratan keras), seperti pernah dialami pesawat Garuda yang terhempar dan terbakar di wilayah Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta,  pada Maret 2007 lalu.
Untuk kasus kecelakaan Garuda di Yogyakarta, KNKT dalam kesimpulan akhirnya secara tersirat menekankan adanya kesalahan pilot dan kopilot alias human error. Pesawat terlalu menukik dan terlalu cepat  ketika mendarat sehingga terpental hingga tiga kali di landasan.
Pada hari saat yang sama pesawat rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Boeing 737- 500 Garuda,  nyaris celaka ketika hendak mendarat di Bandara Syamsuddin Noor, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Pesawat itu sempat berputar-putar (holding) selama 45 menit di sekitar bandara karena cuaca buruk. Hujan deras mengguyur wilayah bandara dan sekitarnya.
Selama holding, pesawat terus bergoyang-goyang sehingga para penumpang, termasuk Presiden SBY dan Ny Ani Yudhoyono,  waswas. SBY dan istri sempat berdoa dan mendapat penjelasan dari Direktur Operasional Garuda Ari Sapari yang ikut dalam penerbangan itu.
Ketika melakukan pendataran di landasan yang basah dengan teknik positive landing, terjadi hentakan sehingga penumpang terguncang, khususnya penumpang bagian belakang. Sebuah pengalaman menegangkan, karena pesawat itu membawa RI 1 dan Ibu Negara,
Masih di hari yang sama, pesawat Batavia rute Jakarta-Banjarmasin yang ditumpangi Menteri Agama Maftuh Basyuni terpaksa melakukan divert (pengalihan pendaratan) ke Bandara Sepinggan, Balikpapan (Kalimantan Timur), juga akibat cuaca buruk. Pilot tidak berani mengambil risiko dengan nekat mendarat di Bandara Syamsuddin Noor.
Tiga peristiwa itu menunjukkan dunia penerbangan kita perlu mendapatkan perhatian serius. Kepiawaian pilot dalam menghadapi cuaca buruk, kemampuan teknis, dan menjaga kondisi pesawat, merupakan faktor yang sangat vital. Pilot pesawat Garuda yang membawa rombongan Presiden ke Banjarmasin tetap memutuskan mendarat di Bandara Syamsuddin Noor dan tidak memilih divert ke bandara lain terdekat seperti pilot Batavia.
Sebuah keputusan berani dan tentu saja penuh risiko. Wajar saja sang pilot dan koplit mendapat aplaus ketika pesawat rombongan Presiden berhenti dengan sempurna di apron. manakala pilot gagal mendapatkan pesawat, tentu ceritanya akan menjadi lain.
Departemen Perhubungan, dalam hal ini Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dan KNKT perlu segera mengevaluasi kembali seluruh faktor yang terkait dengan keselamatan penerbangan nasional. Tak kalah penting, menguji kembali kemampuan serta ketrampilan para pilot serta kopilot, untuk mendapatkan kepastian apakah mereka masih laik terbang.
Belajar dari pengalaman kasus kecelakaan pesawat Garuda di Yogyakarta yang mengakibatkan 23 orang tewas, prosedur baku dalam kondisi darurat perlu ditekankan lagi kepada para pilot dan kopilot. Meski tak membawa korban, pendaratan bermasalah di Malang dan keputusan tetap mendarat di Banjarmasin perlu mendapat evaluasi serius.
Menjadikan cuaca sebagai kambing hitam memang tidak sulit. Toh cuaca tidak bisa membela diri ketika disalahkan. Apalagi pada saat ini memang musim hujan. Kalau memang faktor manusia (human) yang lebih dominan, tidak perlu malu-malu atau merasa gengsi ketika harus menyatakannya.
Kondisi penerbangan kita, terutama menyangkut keselamatan, merupakan cermin diri kita di mata dunia internasional. Jangan sampai ‘cekal’ yang dilakukan negara-negara Uni Eropa terulang kembali.(*)

One Response to “Keselamatan Penerbangan”

  1. bendut Says:

    makanya disaranin ke KNKT tiap bandar pake airport surface movement radar di bandara jadi ga ada istilah ban pecah waktu mau take off atw landing


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: