Rusuh Mimika

WARGA Kabupaten Mimika, Papua, dicekam ketakutan. Sejumlah massa dari Suku Paniai mengamuk dan menyerang Polsek Mimika Baru, setelah tokoh yang dihormati suku itu, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Yance Ikomow tewas, Sabtu (3/11). Polsek Mimika Baru jadi sasaran karena Kepala Satuan Samapta Polres Mumika itu tewas setelah terlibat cekcok serta adu fisik dengan Kapolsek AKP Yulius Ywan berseta anak buahnya di markas polisi tersebut.
Korban tewas bukan hanya Yance, tetapi seorang warga Suku Paniai bernama Derek Gobay. Jenazah Gobay dtemukan sekitar 50 meter dari Polsek Mimika Baru setelah massa menyerang tempat itu dengan panah, parang, dan batu.
Massa rupanya sangat kecewa terkait kematian Yance, sehingga jenazahnya diarak keliling kota dan ditempatkan di lapangan Tmika Indah. Warga Suku Paniai terus meratapi jenazah Yance dan Gobay sambil menarikan tarian perang. Mereka menuntut agar Kapolsek Mimika Baru AKP Yulisan Yawan di bawa ke lapangan Timika Indah untuk dihukum mati.
“Nyawa harus dibalas nyawa.” Begitu tuntutan massa ketika berdialog dengan Wakil Kepala Polda Papua, Berigjen (Pol) Andi Lolo yang didampingi Direktur Reserse danKriminal Kombes Paulus Waterpauw. Tentu saja permintaan itu tidak bisa dipenuhi.
Belum jelas betul apa penyebab kematian Yance. Sebuah informasi menyebut ia tewas akibat dikeroyok anggota Polsek  Mimika Baru. Informasi lainnya mengatakan Yance mendadak terkena serangan jantung dan jatuh pingsan usai cekcok dengan Yulius Yawan.
Bahkan beredar informasi Yance tewas ditembak Yulis Yawan ketika terjadi pertengkaran dimarkas Polsek Mimika Baru. Ketidakjelasan itu muncul karena keluarga korban menolak dilakukan otopsi terhadap jenazah Yance.
Pada Sabtu, Wakil Kepala Polda Papua gagal mencapai kata sepakat dengan massa Suku Paniai. Tawaran Andi Lolo untuk memberi ganti rugi berupa uang dan sejumlah babi ditolak mentah-mentah. Karena suasana tidak kondusif dan malam mulai larut, perundingan dihentikan.
Perundingan pada Minggu (4/11), kembali menemui jalan buntuk. Massa bahkan membakar rumah-rumah warga di sekitar lapangan Timika Indah. Setidaknya 10 rumah dilalap si jago merah dan penghuninya lari ketakutan ke lokasi lebih aman. Tembakan peringatan ke udara yang dilepaskan pasukan Brimob dan TNI seolah tak membuat massa surut nyali.
Aparat  kemudian menangkap 16 orang di sekitar lokasi kerusuhan. Bahkan, ada seorang yang ikut melakukan kerusuhan di jantung Kota Timika –ibukota Kabupaten Mimika– berusaha merampas senjata laras panjang yang dibawa anggota Polres setempat.
Sehari sebelumnya, massa merampas senjata api genggam seorang anggota intelijen Kodam Cendrawasih yang terluka akibat terkan panas. Begitu pula sebuah senjata laras panjang seorang anggota Brimob lenyap.
Tentu situasi ini perlu segera diatasi. Apalagi tak jauh dari Timika terdapat lokasi penambangan dan emas yang dikelola perusahaan asal Amerika Serikat (AS), PT Freeport. Selain itu, situasi tak terkendali dapat dengan mudah dimanfaatkan kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) untuk ikut bermain.
Memang tidak mudah memberi pengertian kepada massa di Papua. Mereka memegang adat begitu kuat, terutama menyangkut hilangnya nyawa manusia. Dalam fenomena perang suku yang sering terjadi di kawasan itu, keseimbangan jumlah korban di kedua belah pihak sangat menentukan apakah perang itu dapat diakhiri atau tidak.
Kalau jumlah korban tewas belum sama di kedua belah pihak, peperangan akan terus berlanjut. Perang baru dapat dihentikan kalau jumlah korban tewas di kedua belah pihak sama. Tak heran, warga Suku Paniai tetap bersikukuh minta agar nyawa Yance diganti dengan nyawa Yulius Yawan.
Mengerahkan pasukan, baik dari Polri maupun TNI hanya mampu menciptakan situasi kondusif dalam jangka waktu pendek. Target utama, perundingan damai dengan tokoh-tokoh suku Paniai, sehingga menghasilkan win-win solution.
Rasanya polisi perlu melibatkan tokoh agama setempat yang dihormati Suku Paniai. Dalam banyak hal, suku-suku di Papua yang miskin pendidikan dan ekomomi, lebih menghormati tokoh agama daripada aparat keamanan.
Kasus Mimika seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi aparat keamanan dan pemerintah, terutama dalam menjalin komunikasi sengan suku-seuku setempat. Mereka merasa sering termarjinalkan, tidak mendapat perhatian selayaknya, dan diperlakukan tidak adil. Perlu membangun kembali kepercayaan dengan mereka sehingga warga lain tak ikut jadi korban.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: