Pahlawan Bung Tomo?

HINGGA peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2007, nama Bung Tomo belum masuk dalam daftar sebagai pahlawan nasional. Penggerak perjuangan Arek-arek Suroboyo, Jawa Timur, tersebut selama ini dipakai sebagai ikon perlawanan terhadap tentara NICA (Belanda) yang kembali ke Indonesia dengan membonceng tentara Sekutu.
Pemerintah beralasan, hingga saat ini Pemerintah Provinsi Jawa Timur belum mengajukan permohonan kepada Badan Pembina Pahlawan Pusat. Lembaga independen yang tediri dari Kepala Pusat Kesejaharan TNI, Perpustakaan Nasional, Badan Arsip Nasional, kalangan perguruan tinggi, dan pakar sejarah tersebut berwenang meneliti persyaratan seseorang dapat diberi gelar sebagai pahlawan nasional.
Pemberian gelar pahlawan memang bisa memicu kontroversi. Sebagai contoh, belakangan ini muncul keberatan terhadap pemberian gelar pahlawan nasional kepada Tuanku Iman Bonjol. Kelompok yang mengajukan keberatan menyebut, Tuanku Imam Bonjol sebagai satu di antara pemimpin kaum Paderi,  membiarkan pasukannya melakukan pelanggaran hak asasi manusia ketika menyerang wilayah Sumatera Utara.
Begitu pula gelar pahlawan terhadap Ny Tien Soeharto (almarhum) yang diberikan di era pemerintah Soeharto. Istri mantan Presiden Soeharto itu dianggap tidak punya peran signifikan dalam gerakan melawan penjajah pascakemerdekaan. Perannya sebagai anggota Laskar Putri Indonesia (LPI) yang berfungsi di garis belakang (logistik) dianggap tidak istimewa karena banyak perempuan lain melakukan aktivitas serupa di masa itu.
Tampak jelas, pemberian gelar pahlawan nasional tergantung apakah ada pihak yang mengusulkan dan seberapa gigih pengusul memberi fakta serta data mengenai peran sosok bersangkutan. Artinya, harus ada sikap proaktif dari pihak lain, terutama pemerintah daerah setempat, untuk mengajukan warganya sebagai pahlawan nasional.
Kalau kelompok pengusul mendapat dukungan dari penguasa, upaya menjadikan seseorang menjadi pahlawan nasional akan mudah tercapai. Sebaliknya, kalau sosok yang diusulkan berada di wilayah abu- abu (gray area) dan tidak dikung penguasa, peluangnya menjadi menyempit.
Dalam benak orang awam, seorang pahlawan nasional merupakan sosok yang sangat berjasa terhadap bangsa dan negara. Perannya begitu besar dalam menentukan nasib dan arah bangsa ini di masa itu hingga masa kemudian.
Peran Bung Tomo dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan di Surabaya, sangat kasat mata. Ia membakar semangat Arek-arek Suroboyo dengan pidato berapi-api. Pertempuran di Surabaya yang menewaskan perwira tinggi pasukan Inggris, Brigadir Jenderal Malaby, membawa pengaruh besar.
Peristiwa lain yang terkait erat dengan Hari Pahlawan yaitu perobekan bendera merah, putih biru di atas Hotel Oranye, Surabaya. Dengan merobek warna biru, bendara Kerajaan Belanda itu berubah menjadi Merah Putih. Sebuah  tindakan heroik yang tak lepas dari peran Bung Tomo sebagai sang orator.
Tentu agak mengejutkan kalau pemerintah daerah setempat tidak mengajukan ayah dari Bambang Sulistomo tersebut sebagai pahlawan nasional. Bisa jadi, Bung Tomo dan keluarga tidak pernah berpikir muluk-muluk untuk mendapatkan gelar sebagai pahlawan nasional.
Seorang pahlawan sejati memang tidak pernah punya pamrih dan keinginan untuk mendapat penghargaan di belakang hari. Pahlwaan sejati melakukan sesuatu dengan tulus dan ihklas tanpa berharap imbalan apapun.
Oleh karena itu sungguh ironis ketika orang-orang yang merasa dirinya pahlawan dan pejuang harus berjuang kembali mendapatkan suatu pemberian dari pemerintah. Seharusnya pemerintah dapat menghargai jasa pahlawannya, bukan sebaliknya sang pahlawan harus kembali berjuang agar mendapat perhatian.
Dalam realitas, sebutan pahlawan tidak melulu otoritas pemerintah, tetapi juga pengakuan dari
masyarakat. Pengakuan masyarakat punya kekuatan tersendiri terhadap orang yang telah mendarma baktikan diri kepada kepntingan banyak orang.
Meski pemerintah memberikan gelar pahlawan nasional kepada seseorang, sedangkan masyarakat menganggap perannya sangat kecil, tentu percuma. Sebaliknya, walau tidak ada pemberian gelar dari pemerintah tetapi masyarakat mengakui, sosok bersangkutan akan selalu dikenang dan jadi panutan.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: