Memerangi Narkoba

KECANDUAN narkoba memang sangat sulit dihilangkan. Aktor dan bintang sinetron Roy Marten kembali terjebak dalam jerat narkoba. Untuk kedua kalinya, Roy ditangkap polisi ketika tengah menggelar pesta shabu-shabu.
Kali ini suami aktris Ana Maria itu ditangkap jajaran Poltabes Surabaya ketika tengah menikmati shabu- shabu di Hotel Novotel, Surabaya, Selasa (13/11). Padahal Roy datang ke Surabaya untuk memenuhi undangan Badan Narkotika Nasional (BNN) yang menggelar acara penandatanganan nota kesepahaman kampanye melawan penyalagunaan barang haram itu.
Sebelum ditangkap, Roy sempat memberi testimoni menggebu-gebu mengenai penyalahgunaan narkoba di hadapan Kapolri Jenderal (Pol) Sutanto yang menghadiri acara itu. Terkesan, Roy sudah benar-benar tobat dan memberi dukungan penuh kepada gerakan pemberantasan narkoba di Tanah Air.
Namun kenyataan berkata lain. Roy mengonsumsi barang terlarang bersama tiga residivis kasus narkoba. Seorang di antaranya dikenal sebagai bandar shabu-shabu. Apa yang dialami Roy Marten saat itu, senada dengan isi testimoninya dalam para yang digelar BNN di Suirabaya.
Dalam testimoninya, Roy menyebut pengguna narkoba seharusnya tidak ditahan menjadi satu dengan para pengedar dan badar. Alasannya, posisi pengguna berbeda dengan pengedar dan badar narkoba.
Para pengguna yang berada dalam satu tahanan dengan pengedar dan bandar narkoba, sulit untuk keluar dari lingkaran setan. Kualitas kejahatan para pengguna akan mengingkat ketika mereka selesai menjalani hukuman. Roy bahkan menyebut, peredaran narkoba dalam tahanan dan penjara sudah bukan menjadi rahasia lagi.
Apa yang diungkapkan Roy ternyata terbukti. Setelah ia menjalani hukuman selama delapan bulan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang,  ia berkumpul dengan para residivis dan bandar narkoba. Roy tak mampu keluar dari lingkaran setan, selalu terjebak di lubang yang sama.
Melihat pengalaman Roy Marten dan para selebriti lain yang cenderung mengulang kembali perbuatannya, sistem pembinaan dan pengawasan di rumah tahanan negara (rutan) dan LP perlu mendapat perhatian serius. Pemberantasan narkoba yang dilakukan di luar tembok rutan dan LP seolah tak berarti banyak ketika para terdakwa dan terpidana kasus tersebut dapat dengan mudah mengakses narkoba.
Perlu sebuah terapi dan metode pembinaan yang tepat bagi para pengguna narkoba yang menjani hukuman. Selama berada di balik terali besi, para pengguna itu bukan hanya menjalani hukuman tetapi juga berperang melawan dirinya sendiri.
Sebagai orang yang tengah menderita ‘sakit’ para pengguna perlu mendapat pendampingan secara serius agar mereka mampu melawan kecanduan serta kecenderungan untuk kembali mengonsumsi narkoba. Rasanya upaya seperti harus segera dilakukan mengingat jumlah pengguna narkoba terus bertambah.
Sedangkan bagi mereka yang berperan sebagai pengedar, bandar, dan pembuat narkoba harus mendapat hukuman setimpal. Lokasi penahanan/pemidanaan mereka harus benar-benar steril dari barang haram tersebut. Meski mereka tetap punya hak untuk berhubungan dengan orang luar –semisal keluarga maupun handai taulan– komunikasi mereka harus tetap terpantau.
Dalam banyak kasus, para pengedar, bandar, dan produsen narkoba masih bisa menjalankan bisnis mereka dari balik tembok penjara. Apalagi kalau mereka ditempatkan di LP yang mudah diakses oleh anggota kelompoknya di luar.
Perlu dipikirkan adanya LP Khusus Narkoba di lokasi yang benar-benar steril, seperti di Nusakambangan, Jawa Tengah. beberapa narapidana kakap kasus narkoba memang telah dipindahkan ke Nusakambangan, namun belum ada metode khusus yang diterapkan kepada mereka untuk benar-benar bertobat dan meninggalkan dunia kejahatan itu.
Mereka sekadar dialenasikan dengan dunia luar, tanpa dibina dan dipantau secara khusus, sehingga ketika usai menjalani pidana benar-benar menjadi sosok yang tidak punya niat lagi melanggar hukum. Padahal, polisi telah mencoba melakukan pembinaan khusus terhadap narapidana kasus terorisme.
Polisi berharap para narapidana kasus terorisme itu dapat memberi bantuan untuk mencegah terjadinya aksi pengeboman dan menyadarkan anggota kelompok teroris. Bukan tidak mungkin para narapidana kasus narkoba mendapat peluang yang sama.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: