Wajib Militer

PEMERINTAH, dalam hal ini Departemen Pertahanan (Dephan) berniat mengajukan Rancangan Undang-undang (RUU) Pembentukan Komponen Cadangan atau semacam wajib militer (wamil). Rencana itu kontan mengundang pro dan kontra di kalangan masyarakat.
Menarik disimak pendapat mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Wiranto yang menyatakan setuju pada rencana itu, tetapi memberi catatan pemerintah untuk mencari waktu (timing) yang tepat bagi pelaksanaannya.
Sorotan utama adalah terkait pendanaan program pelatihan kemiliteran bagi warga sipil tersebut. Komponen biaya itu menyangkut honorarium peserta dan pelatih, akomodasi, pembelian mesiu, dan pemeliharaan perlatan yang dipakai. Tentu saja biaya untuk wajib militer dibebankan kepada anggaran negara.
Padahal, pada saat ini ada banyak sekali sektor yang harus mendapat perhatian utama dalam penyusunan Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN). Sektor yang seharusnya menjadi prioritas yaitu menyangkut perekonomian rakyat.
Hampir semua pengamat dan pelaku ekonomi berharap, APBN dan APBD mampu menjadi stimulus untuk menggerakkan roda perekonomian rakyat sehingga mampu mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan. Biaya untuk wajib militer dipandang tidak masuk dalam skala prioritas karena tidak secara langsung dapat menggerakan roda perekonomian.
Di sisi lain, jumlah anggota militer reguler masih memadai dibandingkan dengan tingkat ancaman dari negara lain terhadap kedaulatan Republik Indonesia. Berbeda misalnya dengan Korea Selatan yang tingkat ancaman serangan dari negara-negara tetangga begitu tinggi sehingga sudah lama menerapkan wajib militer.
Begitu juga dengan Amerika Serikat (AS) yang akibat politik luar negeri banyak mengintervensi urusan negara lain –sering disebut politik luar negeri kapal perang– memerlukan pasukan cadangan dalam jumlah banyak di luar personel militer reguler.  Oleh karena itu masuk akal kalau Wiranto menyebut perlu dipikirkan masak-masak dari segi waktu.
Setelah reformasi, militer tidak lagi ikut campur di bidang kamtibmas, politik, dan pemerintahan. Dengan demikian TNI bisa lebih berkonsentrasi pada tugas menjaga kedaulatan negeri ini dari serangan negara asing. Melihat kondisi itu rasanya UU mengenai wajib militer bukan sesuatu yang bersifat mendesak.
Akan lebih baik dana untuk wajib militer bisa dialokasikan untuk melengkapi sistem persenjataan strategis TNI dan meningkatkan kemampuan para prajurit. Untuk menjaga kedaultan kita, rasanya sektor itu yang lebih penting. Apalagi sudah lama muncul fenomena, kualitas persenjataan strategis TNI  tertinggal jauh dari militer negara-negara tetangga.
Sudah bukan rahasia lagi, prosentase pesawat tempur, kapal perang, sistem rudal yang dimiliki negeri ini termasuk kategori out of date alias ketinggalan zaman, bahkan di antaranya sudah tidak dapat difungsikan secara optimal. Meskipun jumlah personel cukup, kalau peralatan tidak memadai, hanya akan menjadi sia- sia.
Perlunya angkatan bersenjata yang kuat tidak berarti kita berniat melakukan invasi ke negara lain atau mencari gara-gara dengan pihak asing. Sebuah negara yang punya kekuatan militer andal lebih punya bargaining (nilai tawar) lebih besar dengan negara asing dan tentu saja mempunyai kewibawaan.
Diplomasi luar negeri kita dengan negara lain sering kali tidak efektif karena pihak asing tahu persis kualitas persenjataan stategis kita sangat tertinggal. Sebut saja perjanjian Defence Cooperating Agreement (DCA) antara RI dengan Singapura yang terkatung-karung karena banyak kalangan menilai isinya merguikan kepentingan negeri ini.
Sangat mungkin posisi kita lemah ketika berharapan dengan Singapura karena Negeri Singa itu mempunyai dana besar dan perlatan tempur canggih yang bisa ‘dibarter’ dengan wilayah Indonesia. Andai saja secara ekonomi dan peralatan militer kita sejajar dengan Singapura, tentu negeri itu tidak begitu saja bisa memaksakan kehendak.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: