Janji Calon Wali Kota Tanjungpinang

PROSES demokrasi Tanjungpinang memasuki babak baru dengan dimulainya penyampaian visi misi calon wali kota (cawako) Tanjungpinang di hadapan wakil rakyat, DPRD Tanjungpinang. Meski  proses  pilkada ini masih dililit persoalan hukum antara Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Tanjungpinang dengan pasangan Rivai-Rudi Chua yang gagal ikut pilkada, namun babak kampanye cawako sudah dimulai.
Di hadapan dewan yang terhormat, tiga pasangan cawako dan calon wakil wali kota (cawako) yakni pasangan Tatik-Edward, Syahrial-Salam, dan Andi Anhar-Said Agil  memaparkan visi misi ke depan bila kelak terpilih memimpin Tanjungpinang.
Seperti biasanya kampanye calon pemimpin pemerintahan, para kandidat mengobral janji yang bisa menuai simpati rakyat agar memilihnya. Pasangan Tatik-Edward mengajak masyarakat Tanjungpinang melanjutkan program pemerintah yang dipimpin Tatik saat, minta pengusaha besar merangkul pengusaha kecil, janji mengatasi krisis air dan listrik,  membangun koneksi Bintan-Batam, dan  menjadikan budaya Melayu sebagai payung dan pemersatu budaya di Tanjungpinang.  Tatik segera mencanangkan gerakan sejuta bunga, meningkatkan peranan perempuan di segala bidang.
Dengan visi misinya, sangat jelas Tatik-Edwar berusaha merangkul semua  lapisan masyarakat, termasuk perempuan yang bisa jadi merupakan suara terbesar pada pilkada di Tanjungpinang.
Pasangan Syahrial-Salam yang merupakan pasangan muda, Syahrial 32 tahun dan Salam 35 tahun, memposisikan diri sebagai wakil genarasi muda yang akan  melakukan perubahan. Itu akan diwujudkan dengan janji  meningkatkan sumber daya manusia, membangun iklim dunia usaha dan menempatkan budaya Melayu sebagai pemersatu juga menjadi programnya.
Pasangan ini berencana mengadakan Dinas Pasar sebagai payung dunia usaha, mambangun  BLK, sekolah kejuruan, pelabuhan bongkar muat,  Islamic Center, terminal, dan rumah sehat sederhana bagi PNS golongan satu dan dua. Keduanya pun ingin membina pedagang kaki lima karena kaum ekonomi lemah sangat banyak di Tanjungpinang.
Pasangan Andi Anhar dan Said Agil dengan bersemangat menjanjikan, akhir 2008 air bersih akan aliri Kota Tanjungpinang dan  tahun 2009 Tanjungpinang terang benderang.  Pasangan ini berencana membangun gelanggang remaja, sanggar kesenian, pembenahan  infrastruktur  landasan pesawat, meningkatkan gaji PNS, mendirikan BLK mandiri, membangun  gedung pertemuan pemuda, museum sejarah dan maritim, membuat hydrant umum,  menyerukan agar berobat gratis dan membantu ormas-ormas wanita.
Melihat program-program ini, sangat tepat kalau ini adalah janji-janji manis yang belum tentu terlaksana. Namanya juga visi misi, tentu yang ada adalah janji yang sebenarnya tidak serta merta bisa dilaksanakan  oleh kepala pemerintahan. Artinya, program-program tersebut hampir seluruhnya harus melalui proses penyusunan anggaran dan disetujui oleh wakil rakyat alias DPRD, tentunya.
Pada visi misi nii tidak terlihat sikap pribadi pasangan cawako terhadap masyarakat luas, termasuk terhadap kelompok masyarakat minoritas. Padahal sikap pribadi ini lebih penting  dibandingkan program- program yang sifatnya rencana pembangunan yang harus disusun setiap tahun anggaran.
Meski hal tersebut tidak diungkapkan, mudah-mudahan dalam hati dan pikiran wali kota dan wakil wali kota  yang akan datang, kepentingan rakyat berada di atas segalanya, termasuk di atas kepentingan diri, kerabat, termasuk partai politik yang menjadi kendaraan politiknya.(*)

Advertisements

Dedikasi Cahya Harumkan Kepri

TAK banyak bicara, tetapi terus  membangun dan mengembangkan perbulutangkisan nasional di Kepri, itulah yang dilakukan  Ir Cahya, bos Arsikon Group, sebuah perusahaan pengembang properti di Batam. Tapi gembar-gembor, Cahya mulai membangun dan terus membangun sejumlah GOR Bulutangkis di Batam.
Tak sedikit yang merasa pesimis melihat pembangunan fasilitas olahraga bulutangkis ini. Pasalnya Batam adalah kota industri yang identik dengan masyarakat pekerja. Minat masyarakat terhadap cabang olahraga bulutangkis sendiri tidak sebesar di kota-kota besar lainnya di Indonesia seperti di Bandung, Jakarta, dan Surabaya.
Mungkin karena sudah tekad, Cahya tidak bergeming dengan tipelogi masyarakat Batam tersebut. Dia bahkan mendatangkan pelatih tangguh tingkat nasional untuk menempa pebulutangkis di Batam.  Jika dihitung secara nominal, upaya Cahya ini  dipastikan sangatlah besar, bahkan untuk ukuran pengusaha sukses sekalipun.
Pembangunan sarana dan prasarana yang dilakukan Cahya tidak otomatis membuat prestasi olahraga bulutangkis Kepri langsung melesat.  Namun sedikit demi sedikit mulai tumbuh bibit-bibit calon pebulutangkis andal. Denyut olahraga bulutangkis pun terlihat mulai. Prestasi mengharumkan Batam di dunia bulutangkis pun mulai terlihat. Artinya, upaya keras tanpa pamrih yang dilakukan Cahya mulai terlihat.
Namun Cahya tetaplah Cahya yang mengaku hanya mencoba untuk berbuat dan berusaha. “Saya benar- benar belum seberapa,” ujar Cahya  setelah menerima  penghargaan dari Pengurus Besar (PB) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), atas dedikasinya di dunia bulutangkis dalam hal Pengadaan Prasarana dan Sarana GOR Bulutangkis.
Cahya mengaku apa yang dilakukannya hanya sebagai bentuk kesadaran membangun dan mengembangkan perbulutangkisan di Kepri dan tingkat nasional. Apalagi Cahya menyadari kemampuan  pemerintah membangun bulutangkis secara total masih terbatas.
Kesadaran Cahya ini memang pantas diberi acungan jempol dan menjadi contoh. Apalagi di jaman ini orang lebih mementingkan diri sendiri  dan kepentingan ekonomi, sehingga selalu beralasan maju mundurnya olahraga di tanah air sudah menjadi tugas pemerintah.
Mudah-mudaha desikasi Cahya terhadap olahraga khususna bulutangkis, menjadi ispirasi pengusaha lain untuk ikut menyumbangkan dedikasinya untuk cabang olahraga lain yang bisa mengharumkan nama Kepri bahkan Indonesia di tingkat internasional.(*)