Peran Keluarga Perangi Narkoba

ADA yang menarik dalam pesanĀ  Monsiegnor Leopoldo Girelli, Duta Besar Vatikan untuk Indonesia dalam rangkaian kunjungannya ke Batam kemarin. Girelli mengungkapkan hal-hal universal yakni pentingnya peranan keluarga terhadap masa depan generasi muda saat ini.
Secara khusus dan dalam konteks Batam, dia menyoroti rapuhnya peran keluarga. Dampaknya, banyak kaum muda yang notabene penerus bangsa terlibat dalam penyalahgunaan narkoba, miras, dan kegiatan kriminal lainnya.
Selama ini, pemerintah, aparat, sekolah, dan lingkungan selalu menjadi kambing hitam akan maraknya penggunakan narkoba dan miras. Padahal ibarat kerambol, salah satu penyebab penyalahgunaan narkoba dan miras adalah lemahnya peran keluarga dalam membentuk sikap dan mental kaum muda.
Peran keluarga ini sendiri, seperti diungkapkan Girelli, sangat dipengaruhi oleh keharmonisan antara suami- istri dalam keluarga. Seperti diketahui, banyak pengguna narkoba beralasan hal itu dilakukan sebagai pelampiasan, pelarian, ingin mendapat perhatian , ingin menunjukkan eksistensi, dan tidak memiliki iman akan agamanya yang kuat.
Hal itu memang bisa terjadi jika antara suami-istri tidak terjalin komunikasi yang harmonis, sehingga berdampak pada anak-anak, kalangan generasi muda. Perlu diingat, pendidikan dan sikap mental seseorang sangat dipengaruhi keluarga dalam hal ini orangtua. Jika orantua membesarkan anaknya dengan menggunakan materi semata, maka anak akan tumbuh dengan kepribadian yang materalistik dan konsumerisme.
Seperti diketahui, keluarga adalah bagian terkecil dari kelompok sosial atau masyarakat. Artinya, menciptakan masyarakat yang sadar dan taat hukum harus dimulai dari keluarga. Hampir pasti, generasi muda yang berlatarbelakang keluarga yang harmonis, akan tumbuh sebagai generasi muda dengan sikap mental yang lebih baik. Bukan menghukum, namun seperti ungkapan lama mengatakan, tak jauh rebung dari bambu, sikap keluarga sangat mempengaruhi sikap dan mental pertumbuhan anak.
Terlepas Girelli seorang dubes, yang jelas pesan universal ini bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja termasuk pemerintah dan aparat penegak hukum, untuk merangkul keluarga dalam pembinaan generasi muda. Agaknya, cara ini lebih efektif sebagai tindakanĀ  preventif mencegah generasi muda terjerat narkoba, miras, seks bebas, dan kriminalitas.
Penegakan hukum pun akan lebih efektif jika aparat hukum melakukan sosialisasi bahaya narkoba, seks bebas, dan kejahatan lain melalui imbauan yang mengajak keluarga lebih berperan dalam membentuk pribadi anak-anak mereka. Diyakini sosialisasi dengan cara ini lebih efiktif dibandingkan jika peringatan- peringatan hanya mencantumkan bahaya dan ancaman hukuman dalam memerangi narkoba.(*)

Advertisements