Benda Bersejarah Dibuang dan Dicuri

TAK ada yang bisa membantah kalau Indonesia adalah negara yang sangat kaya dengan peninggalan sejarah, bahkan prasejarah. Berbagai peninggalan sejarah dan prasejarah bisa ditemukan dimana saja, baik yang di museum maupun menjadi koleksi pribadi. Benda-benda peninggalan masa lalu tidak hanya memiliki nilai historis yang tidak ada bandingnya dan memiliki nilai nominal yang sangat mahal.
Namun kenyataannya, banyak benda-benda sejarah itu tidak diurus sebagaimana mestinya. Ada yang dibuang begitu saja dan tidak terurus sehingga hancur. Di Kepri, banyak dokumen sebagai bukti sejarah pendudukan Belanda dan Jepang dibuang ke tempat sampah.
Beruntung, dokumen-dokumen tersebut diselamatkan Aswandi Syahri, kolektor naskah kuno di Tanjungpinang. Kini tumpukan dokumen yang diantaranya burgerlijke stand (catatan sipil)  akte kelahiran orang Eropa dan nama warga Tionghoa yang meninggal di Tanjungpinang pada tahun 1946 tersebut, masih terjaga baik.
Sengaja atau tidak sengaja dokumen-dokumen yang diselamatkan Aswandi tersebut berpindah ke tempat sampah, yang jelas hal ini sebuah keteledoran yang sangat fatal. Hal ini menunjukkan kalau sistem penyimpanan dokumen bersejarah tidak dilakukan dengan baik,  sehingga dianggap limbah atau kertas sampah.
Dari Solo, peristiwa nyaris serupa terjadi bahkan  lebih memprihatinkan. Sepuluh arca-5 arca batu dan 3 arca perunggu- peninggalan abad ke-9., hilang dari  Museum Radya Pustaka Solo. Selain arca, benda lain yang ikut hilang yakni  1 lampu gantung perunggu, 1 piring porselin dari Cina abad ke-7 serta tempat buah kristal pemberian Napoleon Bonaparte kepada Pakoeboewono VI.
Lenyapnya benda bernilai sejarah tinggi ini diduga dilakukan secara terencana dengan melibatkan pagawai museum. Modus operandinya, dilakukan pembuatan duplikat arca yang asli. Selanjutnya duplikat tersebut ditukar dengan yan asli. Dugaan arca asli yang bernilai tinggi ini dijual kepada kolektor benda antik.
Belakangan  lima dari 11 arca yang lenyap dari Museum Radya Pustaka Solo itu ditemukan di rumah pengusaha  Hasyim Djojohadikusumo. Menurut informasi, makelar barang antik menjual arca tersebut Hasyim yang kakak Jenderal (Purn) Prabowo Subianto dengan harga yang sangat murah.
Arca Ciwa Mahadewa dijual Rp 35 juta, arca Durgamahisasuramardhini Rp 200 juta, arca Agastya Rp 90 juta, arca Mahakala Rp 100 juta, dan arca Durga Mahisasuramardhini II dijual  dengan harga Rp 80 juta.
Kasus pencurian ini tercium pertama kali oleh Andrea Amborowatiningsih (24), mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, pada 16 Agustus 2005. Ambar, panggilan Andrea, waktu itu menjadi pegawai honorer di sana. Kecurigaan Andrea akan benda-benda peninggalan di museum tersebut sudah bukan yang asli,  membuatnya dipecat.
Penjualan benda-benda peninggalan sejarah dan prasejarah di Indonesia sebenarnya bukan hal yang baru. Ambil contoh, banyak arca-arca di candi-candi di Indonesia yang sudah tidak utuh karena dicuri dan dijual kepada kolektor benda antik di dalam maupun luar negeri.
Agaknya kasus Solo ini harus diambil hikmahnya agar benda bersejarah, baik berupa dokumen maupun benda-benda lain, benar-benar dijaga. Pasalnya, peninggalan sejarah tersebut merupakan aset bangsa.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: