Komersialisasi Penderitaan Dede

PENYAKIT yang diderita Dede “si manusia pohon” mengundang perhatian dunia, setelah sebuah televisi asing, Fox TV, menyiarkan gambarnya.
Penyakit Dede yang unik, dengan kondisi kaki dan tangan seperti akar pohon, dinilai akan sangat menarik sebagai sebuah tontonan. Bahkan, rencananya penderitaan Dede bakal difilmkan.
Publikasi Fox akhirnya mengundang lebih bayak publikasi, terutama di Indonesia. Media massa cetak dan elektronik ramai-ramai menayangkan berita dan gambar Dede.
Heboh di media massa berhasil memancing otoritas kesehatan di Indonesia untuk memberikan perhatian ‘lebih’. Dinas Kesehatan Jawa Barat akhirnya mengunjungi Dede di rumahnya kemudian memboyongnya ke rumah sakit Hasan Sadikin (RSHS) untuk dirawat. Bahkan, kemarin, Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari langsung menjenguk Dede di RSHS atas perintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Padahal sudah bertahun-tahun, Dede menderita, hingga ditinggalkan istrinya sendiri. Selama bertahun-tahun tidak ada yang memerhatikan dia, sampai akhirnya dia ditemukan oleh Fox TV yang melihat sebuah ‘peluang bisnis’.
Penderitaan Dede akan dibuat dalam bentuk film dokumenter untuk Discovery Channel berjudul “half man half tree” alias manusia setengah pohon. Kedua pihak pun menandatangani kontrak. Dede tidak langsung teken kontrak dengan Fox, tapi diwakili Hanny Enterprise. Perusahaan ini telah menerima sejumlah uang dari Fox, namun tidak jelas, apakah sudah membagikannya dengan Dede.
Yang pasti, Dede hanya diberi uang 500 dolar AS atau sekitar Rp 4 juta. Juga dipertemukan dengan Dr Anthony Gaspari, seorang ahli penyakit kulit (dermatologi) dan ilmu kekebalan tubuh (imunologi) ternama dari AS, atas permintaan Fox. Sampel jaringan kutil di tubuh Dede dibawa ke AS untuk diteliti.
Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari mengecam komersialisasi gambar Dede oleh Fox TV dan Discovery Channel. Menkes menganggap Fox memperoleh untung jutaan dolar AS, sementara Dede hanya dapat 500 dolar AS.
Pantaskah Menkes berang atas apa yang dilakukan televisi asing tersebut? Mestinya pemerintah kita introspeksi diri. Tidak hanya bereaksi ketika sebuah kasus telah mendapat sorotan luas. Seandainya penyakit Dede itu menular dan berbahaya, tentu reaksi lambat pemerintah sama saja mempertaruhkan keselamatan warga negara. Sebab, menurut hasil diagnosa sementara, Dede mengidap Epidermodisplasia veruciformis dan giant cutaneous horn disebabkan oleh human papiloma virus (HPV). Tentu berbahaya apabila virus itu telah menyebar ke orang lain.
Sehingga, terlepas dari adanya komersialisasi atau tidak, yang pasti, berkat pemberitaan televisi tersebut lah penderitaan Dede mendapat perhatian masyarakat dan pemerintah. Sehingga pemerintah, dalam hal ini Menteri Kesehatan, tidak perlu kebakaran jenggot dan marah-marah, jika selama ini Departemen Kesehatan sendiri tidak peduli dengan penderitaan Dede. Hal yang perlu dilakukan Menkes adalah menyelidiki apakah penyakit tersebut menular atau tidak dan melakukan tindakan preventif untuk melindungi masyarakat lainnya dari penyakit tersebut.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: