Kekerasan dan Suap dalam Proses Hukum

PENGADILAN Negeri (PN) Batam, Rabu (12/12), heboh ketika terdakwa kasus narkoba bernama Hidayat M Wali, memukul Jaksa Penuntut Umum Djoko Santoso, usai dijatuhi hukuman empat tahun penjara. Bertambah seru ketika Hidayat ganti dikeroyok sejumlah oknum karyawan Kejaksaan Negeri (Kejari) Batam yang ada di ruang sidang.
Tak kalah mengejutkan, Hidayat mengaku pernah memberikan uang Rp 25 juta kepada jaksa agar tidak dituntut hukuman teralu berat, setidaknya di bawah 4 tahun penjara. Tak pelak Hidayat menjadi kalap ketika jaksa mengajukan tuntutan empat tahun penjara dan hakim mengetok palu 4 tahun penjara.
Pemukulan dan pengeroyokan, merupakan perbuatan melanggar hukum. Namun ironisnya terjadi di ruang sidang. Artinya pasti ada sesuatu di balik persidangan kasus kepemilikan shabu-shabu tersebut.
Naif rasanya seorang terdakwa yang nasibnya sangat tergantung kepada hsil persidangan, berani melakukan perbuatan melanggar secara terbuka dan di ruang persidangan, kalau tidak mampunyai alasan kuat. Kejadian tersebut mirip dengan ulah terdakwa Achmad Djunaedi, mantan Dirut Jamsostek, yang melempar jaksa dengan papan nama terbuat dari kayu usai dijatuhi hukuman di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan..
Ulah menghebohkan terdakwa ternyata menguak kasus pemberian suap ratusan juta dari Djunaedi kepada tiga oknum jaksa di Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Selatan. Sampai pada akhirnya ketiga oknum aparat penegak hukum tersebut diadili karena kasus suap.
Belajar dari kasus tersebut, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Batam dan bagian pengawasan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau mendalami kasus pemukulan yang dilakukan Hidayat dan pengeroyokan terhadap terdakwa. Bukan tidak mungkin tudingan Hidayat yang menyebut telah memberi suap Rp 25 juta kepada jaksa bukan hanya isapan jempol.
Isu itu menjadi penting untuk didalami secara serius, untuk menjaga kewibawaan korps kejaksaan. Sebagai lembaga yang mendapat amanah menegakkan hukum, sudah seharusnya aparat lembaga tersebut benar-benar bersih serta punya integritas tinggi.
Menyangkut faktor integritas, rasanya sudah bukan saatnya untuk memberikan toleransi hanya untuk melindungi orang per orang. Sikap serius dan tegas, justru akan meningkatkan rasa kepercayaan para pencari keadilan terhadap lembaga kejaksaan. Sebaliknya, kalau pemeriksaan dilakukan justru ditujukan untuk melindungi oknum yang bersalah, citra lembaga menjadi taruhannya.
Dalam kasus suap. sesuai ketentuan hukum, baik pemberi maupun penerima uang haram harus sama- sama diadili. Suap tidak akan terjadi kalau tidak ada ada pihak yang secara sadar memberikan setoran untuk kepentingan dirinya. Ada dua pihak yang sama-sama melakukan sebuah perbuatan melanggar hukum secara sadar.
Jumlah uang suap hendaknya tidak menjadi tolok ukur untuk mengusut kasus tersebut. Memang di masa kini uang Rp 25 juta bukan jumlah yang besar, dibandingkan dengan kasus-kasus korupsi dan suap lainnya.
Efek jera bukan hanya ditujukan kepada masyarakat awam yang melanggar hukum, tetapi lebih penting di kalangan aparat sendiri. Sudah bukan menjadi rahasia umum, praktik suap, pemerasan, dan pungutan liar merupakan fenomena yang terus terjadi dalam proses penegakan hukum di negeri ini, seolah sulit untuk dihentikan.
Kalau efek jera tidak diberikan secara konsisten, praktik tak terpuji kian sulit diberantas, bahkan kian meraja lela. Dalam kondisi seperti itu, apa yang dilakukan aparat lembaga penegak hukum tak ubahnya hanya semacam panggung sandiwara.
Di sisi lain, insiden di PN Batam sebenarnya tidak terlalu terkait dengan sistem keamanan. Jumlah personel keamanan yang ditempatkan di pengadilan tak berarti banyak ketika polisi, jaksa, dan hakim tidak menjaga martabatnya sendiri.
Hanya untuk kasus-kasus tertentu, semacam terorisme, jaringan narkoba, dan kejahatan terorganisir lainnya, diperlukan personel keamanan yang cukup. Aparat keamanan lebih tahu dalam mengukur sebuah kondisi yang perlu diterapkan standar keamanan tertentu. Dengan demikian kehadiran personel keamanan tidak menjadi mubazir.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: