Bercermin Diri pada FFI 2007

FESTIVAL Film Indonesia (FFI) 2007 yang digelar di Pekanbaru, Riau, berlangsung sukses. namun perhelatan yang menelan biaya Rp 7,2 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Riau tersebut memicu munculnya isu tidak sedap.
Sejumlah kalangan menengarai ada kebocoran dana karena terjadi selisih dalam penggunaan anggaran. Menurut laporan sementara, panitia pusat mendapat alokasi dana Rp 1,9 miliar sedangkan panitia lokal menerima alokasi Rp 5 miliar.
Panitia pusat hanya mengaku menerima dana Rp 475 juta, sehingga ada selisih Rp 1,4 miliar. Selain itu, televisi nasional yang menjadi media partner perhelatan tersebut mengaku hanya mendapat alokasi dana Rp 474 juta, bukan Rp 2 miliar seperti disebut-sebut selama ini.
Bintang film kawakan, Deddy Mizwar, yang ditunjuk sebagai Ketua Penyelenggara FFI 2007 berjanji akan mempertanggungjawabkan semua penggunaan dana secara transparan. Ia bahkan menyebut kalau perlu melibatkan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Komisi pemberantasan Korupsi (KPK).
Deddy berharap, keterlibatan dua lembaga negara tersebut dapat menghilangkan semua rumors yang muncul belakangan ini terkait dengan penyelenggaraan FFI 2007. Tentu saja lontaran Deddy Mizwar perlu mendapat respon dari pihak terkait untuk terlibat dalam penyusunan pertanggungjawaban penggunaan anggaran FFI 2007.
Di sisi lain, ribut-ribut penggunaan dana tersebut membawa hikmah positif. Setidaknya penyelenggara dan pihak-pihak terkait diingatkan oleh pihak lain agar berhati-hari dalam mengeluarkan uang dan bekerja lebih tertib  ketika menyusun laporan pertanggungjawaban.
Dinamika seperti itu harus dilihat dari sudut pandang positif, semata-mata untuk menciptakan good governance (tata kelola yang baik) karena bagaimanapun dana dari APBD tersebut merupakan uang rakyat, khususnya warga Riau.
Keberanian Provinsi Riau menjadi tuan rumah FFI 2007 boleh dibilang sebagai sebuah terobosan yang berani, Kritik tajam datang silih berganti. para pengkritik menganggap acara itu hanya membuang-buang biaya tanpa membawa manfaat langsung kepada warga Riau.
Namun pihak yang pro menyebut, warga Riau memperoleh banyak manfaat, meski tidak secara langsung. Paling tidak, kebudayaan, potensi, dan hasil pembangunan di wilayah Riau dapat diketahui serta dikenal semakin banyak pihak, baik di dalam maupun luar negeri.
Manfaat lain, Riau merupakan pemerintah daerah pertama yang memberikan apresiasi terhadap kehidupan dunia perfilman nasional yang beberapa tahun lalu ‘mati suri’. Sejak FFI digelar pada era 1970-an, penyelenggaraan memang selalu dilakukan di Jakarta, sehingga boleh dibilang Riau menjadi daerah pertama di luar wilayah ibukota.
Penyelenggaraan FFI terhenti selama 12 tahun dan baru mulai diadakan lagi pada 2004. Tenggang waktu selama 12 tahun itu lah yang banyak disebut dengan masa suram dunia perfilman nasional akibat kalah bersaing dengan hasil karya sejumlah production house yang ditayangkan di layar kaca.
Dari kacamata pemikiran positif,  langkah Pemerintah Provinsi Riau, patut menjadi referensi bagi pemerintah daerah lain. Setidaknya dari sudut keinginan untuk memperkenalkan secara lebih luas mengenai potensi, budaya, pariwisata, bahkan investasi di daerahnya masing-masing.
Tentu saja niat baik itu memang harus didukung oleh sistem adminsitrasi keuangan yang baik sehingga nantinya tidak menjadi bumerang. Acapkali niat baik selalu berakhir penuh kontoversi ketika terjadi penyimpangan dalam penggunaan dana dan salah urus dalam mengelola kegiatan sehingga melenceng dari tujuannya.
Kita semua tentu berkeinginan agar film indonesia bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Sebuah kenginan mulia namun tidak mudah, mengingat serbuan film asing ke tanah air begitu dahsyat seperti air bah. Kita sering berpikir, membanjirnya film asing bisa mempengaruhi identitas kita sebagai bangsa dan meredusir budaya nasional.
Sebuah tantangan bagi kita semua, terutama masyarakat perfilaman nasional, untuk mampu menghasilkan karya terbaik, bukan sekadar dilihat dari keuntungan yang masuk tetapi membawa pencerahan kepada masyarakat luas. Dengan film, kita bisa ikut mengubah pandangan dunia mengenai negeri ini.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: