Rumitnya Mengelola Asuransi Orang Miskin

ASURANSI Kesehatan untuk Keluarga Miskin (Askeskin) terus menjadi pembicaraan. Masalahnya, banyak rumah sakit yang menerima pasien pemegang kartu Askeskin, menjerit akibat keterlambatan pembayaran klaim dari kas pemerintah. Bahkan, ada rumah sakit yang mempunyai tagihan hingga puluhan miliar kepada pemerintah melalui PT Asuransi Kesehatan (Askes).
Operasional rumah sakit menjadi terganggu, terutama untuk pengadaan obat, alat kesehatan habis pakai,  pengadaan makanan bagi pasien, dan pembayaran jasa medis dokter serta perawat.  Ketidaklancaran pembayaran paling parah terjadi pada 2007.
menurut data di PT Askes, pada 2005 jumlah penduduk miskin yang ditanggung pemerintah melalui program Askeskin hanya mencapai 36,14 juta jiwa. Anggaran yang disediakan Rp 2,23 triliun.
Sisa anggaran 2005 sekitar Rp 1,1 triliun. Ditambah dengan anggaran 2006 sebesar Rp 3,6 triliun,  masih mencukupi untuk membiayai klaim rumah sakit yang merawat pemegang kartu Askeskin. Namun jumlah penduduk yang ditanggung bertambah menjadi 60 juta jiwa.
Persoalan muncul ketika memasuki tahun anggaran 2007. Alokasi dana di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) anjlok menjadi Rp 1,7 triliun, sedangkan sisa anggaran 2006 hanya Rp 126 miliar. Celakanya penduduk miskin yang harus ditanggung bertambah menjadi 76,4 juta jiwa.
Departemen Kesehatan menyisihkan anggaran sehingga terkumpul  Rp 3,526 triliun, namun dana yang dibutuhkan untuk meng-cover keluarga miskin seharunsya Rp 4,6 triliun. Selain kurang, pencairan dana kepada rumah sakit tersendat-sendat.
Muncul berbagai informasi mengenai ketidaklancaran pencairan dana. Ada informasi yang menyebut, dana yang dialokasikan untuk Askeskin dipakai untuk kepentingan lain. Informasi lain mengatakan, sejumlah rumah sakit terlambat mengirimkan data ke PT Askes mengenai jumlah pemegang kartu Askeskin yang dilayani.
Karut marut dalam pengelolaan pembayaran klaim Askeskin mengakibatkan beberapa rumah sakit menghentikan pelayanan kepada pemegang Askeskin. Alasannya, perusahaan farmasi mengancam menghentikan pasokan obat kecuali klaim obat untuk pemegang Askeskin dibayar lebih dulu.
PT Askes paling repot menghadapi persoalan tersebut. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut diberi tugas mengatur dan menjadi jembatan antara rumah sakit dengan pemerintah –dalam hal ini Departemen kesehatan dan Departemen Keuangan– dalam pencairan dana. Tak pelak,  PT Askes sering menjadi sasaran kritik tajam dari masyarakat.
Proses verifikasi data dari rumah sakit juga sering menjadi masalah. Verfikasi yang dilakukan PT Askes terbentur pada perbedaan sumber data penduduk miskin. Pemko/pemkab kebanyakan mengabil data dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), sedangkan PT Askes berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik.
Di lapangan, distribusi kartu Askeskin menimbulkan kerumitan tersendiri. Seringkali tetrjadi kesalahpahaman dalam memandang apakah seseorang patut mendapat kartu Askeskin. Sama rumitnya ketika pemerintah membagikan kartu bagi pihak yang berhak mendapatkan bantuan langsung tunai (BLT) sebagai kompensasi kenaikan harga BBM.
Ada juga oknum yang sengaja menyalahgunakan  kartu Askeskin dan kartu BLT. Oknum tersebut justru memberikan kartu Askeskin kepada sanak keluarganya yang sebenarnya tidak masuk kriteria keluarga miskin.
Namun kebanyakan karena faktor keragaman persepsi dalam melihat apakah seseorang/keluarga masuk kategori keluarga miskin. Oleh karena itu, sebaiknya pemerintah daerha ikut membantu melakukan verifikasi klaim pembayaran Askeskin setelah mempunyai persamaan persepsi dengan PT Askes.
Selain itu pemerintah perlu mencantumkan mata anggaran untuk Askeskin sesuai kebutuhan di lapangan. Termasuk menambah premi per orang per bulan dari Rp 5.000 menjadi Rp 8.000. Premi Rp 5.000 tampaknya sudah out of date, tidak sesuai dengan tingkat harga terkini yang terdongkrak inflasi.(*)

One Response to “Rumitnya Mengelola Asuransi Orang Miskin”

  1. Anonymous Says:

    apa kabar orang orang koruptor


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: