Bencana Alam Penghujung 2007

RAMALAN Jucelino Nobrega da Luz,  warga Brazil yang mengaku sebagai pakar gempa, mengenai terjadinya gempa besar dan tsunami di pesisir barat Sumatera pada 23 Desember, memang tak terbukti. Namun, di penghujung 2007 ini terjadi bencana alam yang tak kalah dramatis dengan ramalan Jucelino.
Tepat di hari Natal, kawasan Sumatera Barat, terutama Kota Padang, dilanda banjir besar. Di sejumlah tempat juga diikuti dengan tanah longsor. Sehari kemudian di Jawa Tengah terjadi bencana tanah longsor, tepatnya  di Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Wonogiri.
Puluhan orang tewas tertimbun longsoran tanah di Karanganyar. Lokasi paling parah yaitu di Kecamatan Tawangmangu, sebuah kawasan yang selama ini dikenal sebagai tempat pariwisata di kaki Gunung Lawu.
Banjir dan tanah longsor yang terjadi Kabupaten Wonogiri membuat jalan yang menghubungkan wilayah itu dengan Surakarta (Solo) dan Pacitan (Jawa Timur), terputus. Kota solo sendiri dilanda banjir cukup besar.
Jalur Solo ke Surabaya (Jawa Timur) terganggu karena terjadi banjir di wilayah Sragen (Jawa Tengah). Banjir dipicu meluapnya Bengawan Solo, sebuah sungai terpanjang di Pulau Jawa yang membelah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Curah hujan tinggi memang menjadi faktor penyebab terjadi banjir dan tanah longsor. Namun, cuaca bukan satu-satunya penyebab. Ketidakseriusan dalam mengelola lingkungan, terutama pengaturan hutan, kawasan hijau, dan sungai mempunyai kontribusi sangat signifikan terhadap bencana tersebut.
Berbeda dengan gempa, curah hujan tinggi dapat diprediksikan dengan bantuan teknologi. Begitu pula longsor. Oleh karena itu, banjir dan longsor merupakan bencana alam yang sangat mungkin dicegah.
Sayangnya, ingatan kita mengenai bencana tersebut baru muncul ketika semuanya sudah terjadi. Pada saat musim penghujan belum tiba, tak ada langkah serius untuk mempersiapkan diri menghadapi datangnya air dari langit itu. Sungai-sungai dibiarkan penuh dengan sampah dan endapan tanah. hutan- hutan yang gundul tak segera diberi penyekat agar tanah tak terkikis air, dan saluran pematusan tak terurus.
Musibah yang terjadi si sebuah daerah juga tidak membuat daerah lain tergugah untuk segera melakukan langkah-langkah pencegahan. Lihat saja di Batam dan kawasan lain di Kepulauan Riau. Pemotongan bukit jalan terus, penataan ruang hijau untuk menghambat erosi dan longsor masih sebatas bunyi-bunyian.
Keterbatasan dana selalu menjadi alasan. Padahal, ketika terjadi bencana, untuk memulihkan kembali kondisi diperlukan biaya yang sangat jauh lebih banyak.
Kita semua tahu, bencana alam tidak hanya menimbulkan penderitaan kepada para korban, tetapi juga mempengaruhi kondisi perekonomian. Ketika jalur penting terputus oleh banjir atau tanah longsor, pengiriman aneka kebutuhan terhambat. Dampaknya harga-harga menjadi mahal karena kekurangan pasokan.
Mahalnya harga tentu memicu terjadi inflasi (kemerosotan nilai uang). Sudah menjadi fenomena yang terus berulang, kebutuhan terhadap barang kebutuhan pokok meningkat tajam menjelang Lebaran, Natal, dan tahun baru.
Celakanya, ketika tingkat kebutuhan melonjak, pasokan barang terganggu akibat bencana alam. Dalam kondisi seperti itu yang menjadi korban lagi-lagi masyarakat berpenghasilan rendah. Mereka lah yang paling merasakan dampak dari inflasi.
Segala bencana alam yang kini sedang melanda negeri ini hendaknya menjadi momentum betapa pentingnya perang terhadap illegal logging, praktik KKN yang merusak lingkungan, dan keteledoran mengelola alam.
Ironisnya upaya keras untuk memberantas illegal logging justru dikebiri oleh sejumlah pihak yang seharusnya ikut bertanggung jawan terhadap kelestarian alam. Orang-orang yang dengan susah payah dijaring sebagai pelaku illegal logging, tidak mendapatkan hukuman setimpal dan membayar kompensasi terhadap perbuatannya. Sayang sekali.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: