Sebuah Putusan yang Kebablasan

  • Kontroversi Pilkada Ulang di Sulsel

PUTUSAN Mahkamah Agung  (MA) mengenai pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan ternyata tidak mampu menyelesaikan masalah. Situasi politik di wilayah tersebut justru kian memanas karena dua kubu, pasangan Syahrul Yasin Limpu-Agus Arifin Nu’mang (Sayang)  dan Amin Syam- Mansyur Ramli (Sayang), saling mengerahkan massa.
Bahkan pegawai negeri sipil (PNS) ikut menggelar aksi untuk mendukung terpilihnya Sayang dan minta agar amin Syam yang kini berstatus sebagai pejabat Gubernur Sulawesi Selatan, segera meninggalkan posisinya. Para PNS yang masih mengenakan seragam dinas itu menolak putusan Mahmakah Agung mengenai pemilihan ulang di empat kabupaten.
Para PNS itu mendesak agar pemerintah segera melantik pasangan Sayang menjadi Gubernur Sulawesi Selatan. Tak pelak aktivitas di Kantor Gubernur dan pemerintah daerah di wilayah itu menjadi terganggu, karena para PNS itu mendemo kantornya sendiri dan DPRD.
Fenomena tersebut sangat unik karena seharusnya PNS tidak terlibat dalam aksi dukung mendukung yang terkait dengan politik. Para PNS masih mempunyai hak politik yaitu sebagai pemilih dalam pilkada, sehingga di luar itu seharusnya bertindak sebagai pihak yang netral.
PNS sebagai abdi negara dan abdi masyarakat  tetap harus loyal  dalam menjalankan tugasnya di birokrasi pemerintahan, siapapun pejabat publik yang terpilih melalui sebuah mekanisme demokrasi. Kalau PNS secara terang-terangan melakukan dukungan terhadap sosok tertentu yang belum secara resmi dilantik, tentu ini menjadi sebuah tanda tanya besar.
Berbagai pihak memandang, Mahkamah Agung melampaui wewenangnya terkait dengan sengketa pilkada di Sulawesi Selatan. Menurut ketentuan undang-undang, Mahkamah Agung diberi wewenang istimewa untuk memutuskan siapa yang berhak menjadi kepala daerah , bukan membatalkan dan memerintahkan pemilihan ulang.
Boleh saja Mahkamah Agung berpendapat, pemungutan suara di empat kabupaten bermasalah. Namun MA harus memutuskan, siapa pemenang pilkada di empat daerah kabupaten itu, bukan memerintahkan pemilihan ulang.
Seperti ketika memutus sengketa pemilihan Wali Kota Depok, Mahkamah Agung menyatakan Nur Mahmudi Ismail merupakan pemenang pilkada setelah meneliti bukti-bukti yang diajukan mantan Menteri Kehutanan itu. Dengan memerintahkan pemilihan ulang, sama saja MA memberi peluang terjadinya sengketa baru yang tak ada putusanya, yaitu para pihak bisa memperkarakan lagi hasil pemilihan ulang tersebut.
Di luar ranah hukum, Mahkamah Agung bisa dianggap sebagai pemicu konflik horizontal. Konflik itu akan terus berlanjut dan kemungkinan semakin membesar ketika Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Sulawesi Selatan bersedia menggelar pemilihan ulang di empat kabupaten.
Tim sukses kedua belah pihak harus melakukan penggalangan agar dapat memenangi pemilihan ulang. Dana, waktu, dan tenaga harus tercurah kembali. Hasilnya belum tentu memuaskan semua pihak. Ya sama saja kerja dua kali dengan hasil serupa. Bisa dikatakan, pemilihan ulang sangat berisiko tinggi.
Secara yuridis, KPUD sebagai pihak yang dikalahkan oleh Mahkamah Agung bisa mengajukan peninjauan kembali (PK) meski ada ketentuan yang menyebut putusan sengketa pilkada yang dijatuhkan lembaga peradilan tertinggi itu bersifat final. Pengajuan PK memang jalan satunya-satunya yang bisa ditempuh dan risiko menabrak ketentuan formal masih dapat ditoleransi.
Upaya Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga Ketua Umum Partai Golkar untuk menjembati sengketa pilkda di Sulawesi Selatan patut dihargai. Kalla minta kepada pasangan Sayang dan Asmara mencari titik temu sehingga persoalan itu tidak perlu sampai berlatur-larut dan menghabiskan energi rakyat.
Penyelesaian di luar hukum memang lebih cepat, tidak bertele-tele, dan relatif tidak perlu banyak mengeluarkan biaya. Namun, yang perlu diperhatian penyelesaian seperti itu hendaknya tidak menginggalkan bom waktu di masa mendatang.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: