Pesta di Tengah Bencana

HARI ini, tahun 2007 telah berlalu. Berbagai persitiwa, baik menggembirakan maupun menyedihkan, telah kita lalui. Memasuki 2008, tak jelas apa yang bakal terjadi meski berbagai prediksi para pakar dan paranormal, menghiasi berbagai media massa.
Yang pasti, di beberapa wilayah masih tergenang banjir dan para korban bencana alam masih banyak yang belum ditemukan. Sebuah pekerjaan rumah yang langsung ada begitu memasuki tahun 2008.
Menyambut pergantian tahun, di berbagai tempat digelar berbagai pesta. Ada yang harus membayar, tapi tak sedikit peringatan pergantian tahun dapat dihadiri siapa saja secara cuma-cuma.
Namayna sebuah pesta, tentu berbiaya. Puluhan, bahkan ratusan juta rupiah mengalir untuk menggelar pesta menyanut tahun baru. Sebuah kontradiksi ketika di sisi lain para korban bencana alam di negeri ini tengah didera kelaparan.
Skala bencana begitu luas. Hampir semua wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur tergenang banjir, demikian pula di Nusa Tenggara Barat dan Sumatera Selatan. Tentu saja, musibah itu menguras anggara pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang terkena bencana.
Tak terhitung lagi berapa kerugian yang dialami para korban. Harta benda memang bisa dihitung, namun tidak demikian dengan korban nyawa. kehilangan anggota keluarga, apalagi kalau korban merupan tiang penyangga ekonomi keluarga, tentu membawa pengaruh sangat besar.
Bagi sebagian orang, mungkin terbersit pemikiran, mengapa biaya untuk penyelenggaraan pesta menyambut tahun baru disalurkan kepada mereka yang saaat ini benar-benar dalam kondisi memprihatinkan. Kalaupun acara yang sudah dirancang jauh hari itu tidak bisa dibatalkan begitu saja, apakah mungkin dimanfaatkan untuk menggalang rasa solidaritas sosial?
Hanya nurani yang bisa bicara. Akan menjadi ironi kalau kita sebagai sesama anak bangsa tidak mau mengulurkan tangan, sedangkan orang asing justru lebih peduli terhadap kondisi di tanah air.
Harga diri kita baru menggelora ketika melihat orang asing sibuk memberi bantuan. Lebih ironis kalau rasa nasionalisme kemudian diwujudkan dalam bentuk kecurigaan dan tuduhan bahwa bantuan asing mempunyai maksud tertentu.
Padahal, bukan seperti itu wujud harga diri dan  kecintaan terhadap tanah air. Bukan pula dengan menyelewengkan bantuan atau mempersulit penyalurannya kepada para korban. Jangan sampai kita punya sikap lebih individual ketimbang orang-orang yang selama ini kita pandang menganut paham kapitalisme dan liberalisme.
Tindakan riil lah yang paling penting. Tak penting lagi apakah yang memberi bantuan dan pertolongan menggunakan baju partai politik atau organisasi sosial poltik. Bukan saatnya menuding bantuan yang mereka berikan dimaksudkan untuk mencari dukungan dan simpati terkait agenda politik.
Kalaupun di belakang hari mereka mendapatkan gain (keuntungan) karena kepedulian terhadap para korban bencana alam, tentu wajar dan sah-sah saja. Ibarat cerita mengenai telur Colombus yang legendaris itu. Colombus terpilih sebagai pemimpin ekspedisi pelayaran mencari tanah baru setelah berhasil menegakkan telur di atas meja.
Colombus memecahkan telur lebih dahulu baru menegakkan di atas meja. Orang-orang  lain tidak melakukannya sehingga gagal. Muncul protes, “Kalau hanya seperti itu caranya, kami pun juga bisa.” Persoalannya, kalau memang bisa mengapa tidak dilakukan? Dengan kata lain, lakukan sesuatu dan Anda akan mendapatkan hasilnya.
Persoalan itu lah yang berada di depan mata memasuki tahun 2008. Riil dan tak perlu menunggu prediksi paranormal. Dengan bertindak tepat pada saat ini, kita justru mampu memprediksikan sendiri apa hasil yang akan didapat pada hari-hari kemudian.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: