Peliknya Mengatur Energi Primer

PADA awal 2008 ini, PT Pelayanan Listrik Nasional (PLN) Batam tengah menghadapi persoalan cukup pelik. Betapa tidak, harga gas yang menjadi energi primer di pembangkit tenaga listrik milik PT PLN Batam lebih mahal daripada alokasi dana yang disediakan.
Sejak awal Desember, PT Gas Negara mematok harga gas 5,7 dolar per MMBTU. Padahal PT PLN Batam hanya mematok harga gas paling mahal 3-3,5 dolar per MMBTU. Tak pelak, mantan Direktur Utama PT PLN Batam Ir Ifyandri yang baru menyerahkan jabatan kepada Zainuddin, menyebut persoalan tersebut merupakan pekerjaan rumah direksi baru.
Ada tiga alternatif yang bisa diambil untuk meretas kebuntuan. Alternatif pertama, pemerintah sebagai pemegang saham PT Gas Negara sekaligus regulator, menetapkan harga gas sesuai kemampuan PT PLN Batam, yaitu 3,5 dolar.
Kompensasinya, persentase profit sharing (pembagian keuntungan) dikurangi. Alternatif kedua, pemerintah memberikan subsidi langsung kepada pelanggan PT PLN Batam, seperti dilakukan di daerah lain. Alternatif terakhir, sekaligus patut dihindari yaitu menyesuaikan tarif regional listrik di Batam sesuai dengan tingkat harga gas.
Dengan tarif yang ada sekarang dan harga gas 5,7 dolar per MMBTU, tentu akan menggerus keuangan PT PLN Batam. Kalau kondisi keuangan PT PLN Batam terus tergerus, tak mustahil terjadi kelangkaan listrik seperti daerah lain. Pemadaman bergilir mau tak mau harus dilakukan.
Tentu saja kondisi seperti itu akan mengganggu iklim usaha dan bisnis di Batam yang pada 2008 ini memasuki era free trade zone (FTZ). Masuknya investasi ke wilayah Batam harus didukung suplai listrik dengan harga kompetitif.
Masalah suplai listrik sebenarnya tidak menjadi persoalan. Kemampuan pembangkit listrik milik PT PLN Batam dan perusahaan-perusahaan mitranya cukup untuk memenuhi kebutuhan. Persoalannya pada harga energi primer yang dipatok PT Gas Negara. Sedangkan pembangkit listrik dengan batubara baru beroperasi pada awal 2010.
Kunci persoalan memang berada di tangan pemerintah. Kalau pemerintah bisa meregulasi harga gas bagi perusahaan jasa layanan publik seperti PT PLN Batam, tentu persoalan akan selesai. Tentu tidak mungkin PT PLN Batam dokenai tarif sesuai dengan harga pasar yang berkisar antara 5,5 dolar-6 dolar per MMBTU.
Harga pasar hanya cocok untuk pengiriman gas ke luar negeri (ekspor). Alangkah bijaksana kalau pemerintah memberikan harga khusus kepada PT PLN Batam, setidaknya hingga pembangkit  listrik dengan batubara siap diopersionalkan.
Meski begitu performace keuangan PT Gas Negara tetap harus diperhatikan. Jangan sampai pemberian harga khusus kepada PLN batam justru membuat perusahaan plat merah itu menjadi kolaps. Kalau sampai PT Gas Negara terpuruk otomatis pasokan ke PT PLN Batam juga akan terganggu. Jadi dua-duanya harus mendapat perhatian yang sama.
Memang sebuah ironi, di negeri yang sangat kaya dengan sumber daya mineral ini terkendala pasokan energi primer pembangkit listrik. Satu faktornya, kita belum mampu mengeksploitasi dan mengekplorasi sumber daya mineral di bumi pertiwi ini.
Kita masih mengandalkan perushaan asing,  sehingga tidak leluasa untuk mengatur pembagian, distirbusi, dan harganya. Selain itu, pasar ekspor lebih menggiurkan. Wajar saja karena perusahaan- perushaan yang menangani sumber daya mineral berorientasi kepada profit. Ya karena mereka telah mengeluarkan investasi tidak sedikit untuk menambang kekayaan alam tersebut.
Minyak bumi tidak bisa lagi diandalkan. Selain jumlahnya sudah berkurang banyak, harganya juga sudah melonjak seiring dengan fluktuasi harga minyak mentah di pasaran dunia akibat berbagai faktor.
Energi primer alternatif memang sudah banyak ditemukan, mulai dari energi matahari, angin, dan  biogas. Namun, selain belum terbiasa dengan energi alternatif itu, juga belum ditemukan teknologi untuk mengatasi kelemahan-kelehamannya dalam terapan.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: