Diskriminasi Hukum

STATUS tersangka yang diberikan kepada mantan Duta Besar (Dubes) RI di Malaysia, Jenderal (Purn) Rusdihardjo, memicu misteri. Publik baru tahu status tersebut setelah Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar mendadak menyampaikan kepada pers pada Kamis (3/1) lalu.
Padahal, mantan Kapolri di era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tersebut sudah berstatus sebagai tersangka sejak Maret 2007 lalu. Pada waktu itu KPK masih dipimpin Taufiequrrahman Ruki. Tak pelak muncul pertanyaan, mengapa pada saat itu Ruki tidak menyampaikan kepada publik mengenai status Rusdihardjo, padahal untuk kasus lain KPK begitu terbuka.
Muncul dugaan, Ruki sungkan (segan) mengungkapkan kepada publik karena sama-sama mantan perwira tinggi Polri. Rusdihardjo menyandang bintang empat di pundak sebelum pensiun dan menjadi Dubes, sedangkan Ruki pernah punya dua bintang.
Namun Ruki punya alasan tersendiri. Ia mengatakan, tidak akan kewajiban bagi KPK untuk mengumumkan kepada publik mengenai perkara yang tengah ditangani, termasuk status hukum seseorang.
Selain itu, ia beralasan untuk menjaga nama baik Indonesia di mata dunia internasional karena pada saat itu Rusdihardjo masih menjabat sebagai Dubes RI di Malaysia. Kurang etis mempublikasikan status tersangka seorang dubes padahal masih aktif berdinas.
Tentu alasan Ruki itu membuka peluang lebar untuk diperdebatkan. Dalam hukum ada prinsip yang menyatakan equality before the law (persamaan di depan hukum), artinya siapapun mempunyai kedudukan yang sama dan harus mendapat perlakuan sama ketika berurusan dengan hukum.
Seorang gubernur, wali kota, atau bupati yang terjerat kasus hukum dengan gamblang diungkapkan oleh KPK. Demikian pula para pejabat di sebuah departemen. Bahkan pada masa lalu, Ketua DPR Akbar Tandjung ditangkap dan ditahan Kejaksaan Agung tanpa ada upaya menutup-nutupi.
Upaya penegakan hukum itu dipublikasikan secara luas, sehingga dunia internasional pun mengetahui dengan gamblang. Toh semua itu tidak mengganggu nama baik negeri ini di dunia internasional.
Sebaliknya, dunia internasional semakin respek dengan negeri ini ketika melakukan tindakan tegas dan transparan terhadap orang-orang yang memang melakukan tindak pidana, pejabat tinggi sekalipun. Sebaliknya dengan memberikan pengecualian kepada Rusdihardjo, KPK menerapkan standar ganda.
Kasus itu sesungguhnya mencoreng muka kita di negeri orang karena terungkap informasi dari Badan Pencegah Rasuah Malaysia (semacam badan antikorupsi) yang menyebut adanya tansfer uang mencurigakan dari rekening pejabat Konsulat Indonesia di Penang. Dari penelusuran Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) dana mendurigakan itu mencapai Rp 13,8 miliar.
Belakangan terungkap praktik tidak terpuji di Kedubes dan Konsulat RI di Malaysia berupa pungutan liar bagi WNI yang hendak mengurus dokumen keimigrasian. Kasus tersebut melibatkan Duber Ri di Malaysia sebelum Rudihardjo, yaitu Hadi A Wayarabi Alhadar dan Kabid Imigrasi Suparba W Amiarsa.
Wayarabi telah divonis 30 bulan penjara, sedangkan Rusdiharjo belum dapat diproses lebih lanjut karena tengah tergolek di rumah sakit. Sesuai kebiasaan di KPK, besar kemungkinan Rusdihardjo, bakal dijebloskan tahanan setelah sebmbuh dari sakitnya.
Kurang fair rasanya kalau para tersangka/terdakwa lain dalam kasus pungutan liar tersebut menghuni sel tahanan, sedangkan lainnya tidak. Seorang tersangka/terdakwa memang tidak harus ditahan, apalagi kalau sudah mengembalikan uang yang jadi masalah.
Namun KPK dan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi harus mempertimbangkan kredibilitas dan kewibawaannya dari tuduhan diskriminatif. Akan muncul pertanyaan, kalau yang lain ditahan mengapa yang ini tidak? Meski harus diakui yang adil itu tidak harus sama.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: