Investor Pergi Tanpa Permisi

DATANG kelihatan wajah, pergi kelihatan punggung. Artinya, saat datang permisi, saat pergi pun harusnya permisi.
Tapi pepatah itu tak berlaku bagi beberapa investor asing yang menanamkan modalnya di Batam. Ketika masuk mereka cukup dipermudah, namun ketika keluar, mereka minggat begitu saja tanpa permisi. Padahal mereka berbisnis di Indonesia, sebuah negara yang menjunjung adat ketimuran (masihkah🙂.
Lebih menyakitkan lagi, mereka juga tidak memenuhi kewajibannya, yakni melunasi hak-hak para karyawan dan buruh. Sehingga nasib para pekerja menjadi tak menentu. Mau tak mau harus menghadapi hidup tanpa mata pencaharian, setidaknya sampai mendapatkan pekerjaan baru.
Rabu, 9 Januari 2008, Pihak Otorita Batam (OB) mengungkapkan bahwa selama tahun 2007, sedikitnya ada lima penanam modal asing (PMA) menutup usahanya dan menghilang tanpa melapor. Kepala Biro Hubungan Masyarakat OB Rusliden Hutagaol mengakui hal itu dan menyesalkan tindakan para investor tersebut. Padahal, OB lah yang memberikan izin investasi ketika masuk mereka masuk.
Lucunya, OB justru mengetahui adanya perusahaan hengkang dari media massa yang memberitakan mengenai aksi para buruh menuntut tanggungjawab pemilik modal. Dan OB baru sadar ketika para buruh itu kangsung menggelar unjukrasa di Kantor DPRD dan Kantor OB.
Ketidaktahuan OB mengenai hengkangnya investor sebenarnya tidak perlu terjadi jika saja lembaga itu selalu melakukan kontrol terhadap para investor, asing maupun domestik. Paling tidak investor yang mempekerjakan ratusan hingga ribuan orang.
Kenyataannya, seolah-olah OB hanya tertarik melakukan promosi untuk menarik investor baru dan menafikan investor lama. Tidak mau tahu apa yang terjadi pada investor yang sudah ada. Baik mengenai perkembangan usaha maupun apa saja yang dibutuhkan mereka demi kenyamanan berusaha.
Pada kesempatan itu Rusliden mengatakan, kendati ada investor hengkang, tetap saja ada peningkatan nilai investasi sepanjang tahun 2007. Dikatakan, investasi asing di Batam naik 56 persen dari 184.994.162 dolar AS (2006) menjadi 288.528.794 dolar AS.
Namun, persoalannya tidak sesederhana itu. Bukanlah berita gembira apabila nilai investasi meningkat, tetapi juga ada persoalan yang ditinggalkan investor yang minggat. Karena seolah-olah nasib para pekerja dipermainkan.
Seperti hengkangnya PT Livatech Electronic dan Polestar. Hingga kini nasib ribuan buruh di kedua perusahaan itu masih tidak jelas. Sudah sewajarnya OB sebagai institusi yang bertanggungjawab pada investasi, ikut mencarikan jalan keluar bagi para buruh yang ditelantarkan itu. Misalnya mencari si investor untuk dimintai pertanggungjawabannya. Karena semestinya OB memiliki data mengenai asal-usul investor bersangkutan.
OB berjanji, ke depan akan membentuk tim monitoring yang terdiri atas Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM), Biro Humas OB, dan Bina Usaha OB untuk mengecek keaktifan PMA yang beroperasi di Batam. Tim ini bertugas memantau perkembangan PMA setiap bulan agar ketahuan jika berencana hengkang.
Sayang, tak lama lagi OB tugas akan berakhir dan digantikan oleh Badan Pengelola Kawasan (BPK) ketika status free trade zone (FTZ) sudah berjalan efektif di Batam. Maka upaya OB tersebut sepatutnya dilanjutkan oleh BPK. Satu hal lagi, selama ini seolah-olah kita terlalu mempermudah masuknya investor. Kemudahan investasi memang penting, namun sikap hati-hati juga tak kalah pentingnya. Kaburnya sejumlah investor asing tanpa permisi kiranya menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk lebih berhati-hati.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: