Gejolak Tempe

KITA bangsa besar, bukan bangsa tempe. Kalimat itu disampaikan mendiang Presiden Soekarno dalam pidato 17 Agustus 1963. Melalui kalimat itu, Soekarno ingin menunjukkan bahwa bangsa Indonesia tak boleh diremehkan oleh bangsa lain.
Namun 45 tahun kemudian, tempe menjadi bahan pembicaraan seru. Betapa tidak, para perajin tempe dan tempe mendadak bersuara lantang, bahkan menggelar demo besar-besar di Istana Presiden dan Gedung DPR, Senin (14/1/2007).
Mereka mengaku tak bisa lagi memproduksi dan berdagang tempe, yang konon merupakan makanan khas Indonesia, karena karena kenaikan gila-gilaan harga bahan baku berupa kedelai. Pada awal Januari 2007 harga eceran kedelai tertinggi Rp 3.450 per kilogram. Sejak November 2007, harga kedelai berangsur naik dengan cepat, mulai Rp 5.450 hingga Rp 6.950 per kilogram.
Harga lebih meroket lagi memasuki Januari 2008. Harga eceran kedelai mencapai Rp 7.250 per kilogram, atau mengalami lonjakan 110 persen dibandingkan dengan harga Januari 2007. Tentu saja kondisi ini membuat perajin dan pedagang tempe tidak berani melanjutkan usahanya karena tidak mungkin menaikkan harga jual kepada konsumen.
Biang keladi dari semua itu adalah dilepasnya kedelai ke mekanisme pasar sebagai konsekuensi logis dari perdagangan bebas. Mekanisme pasar tentu saja tergantung kepada keinginan para pedagang kedelai dalam menentukan harga.
Para perajin dan pedagang tempe menginginkan pemerintah kembali turut campur dalam mengatur harga kedelai, tidak begitu saja melepas ke mekanisme pasar. Harga menjadi tidak terkendali, juga karena para pemasok menjadikan momentum itu untuk mengambil keuntungan sebesar-besarnya melalui mekanisme harga jual.
Kondisi tersebut tentu saja menjadi pukulan telah bagi usaha kecil menengah, setelah mereka terkena dampak kenaikan berbagai bahan kebutuhan pokok lainnya akibat harga minyak mentah dunia tak terkendali. Padahal usaha kecil menengah (UKM) merupakan tulang punggung perekonomian negeri ini, sehingga masih mampu bertahan dari guncangan ekonomi makro yang terus terjadi sejak krisis 1997 lalu.
Golongan ekonomi lemah paling tersudut akibat kenaikan harga kedelai, kelangkaan minyak tanah bersubsidi, dan pasokan gas yang tidak lancar. Kalau tempe dan tahu menghilang dari pasar, tentu menambah kesulitan wong cilik untuk memenuhi konsumsi makanan sehari-hari. Harus diakui, tempe dan tahu merupakan lauk favorit bagi kelompok marginal karena selama ini harganya relatif murah dan mengandung nilai gizi lumayan.
Bagi kelompok berpunya, hilangnya tempe dan tahu tidak menjadi masalah besar. Dengan kemampuan ekonominya, mereka masih bisa membeli daging, ikan, atau lauk pauk lainnya Tidak dengan dengan masyarakat berpengahsilan kecil dan menengah.
Kenaikan harga kedelai itu seharusnya menjadi berkah bagi petani. Namun logika tersebut belum tentu benar karena mayoritas petani di Jawa dan daerah sentra pertanian lainnya mengalami gagal panen akibat bencana banjir.
Kalaupun ada petani yang tidak tertimpa musibah, keuntungan justru diperoleh para pedagang. Sebagaimana diketahui, para petani kita menjadi pihak yang sangat lemah dalam rantai perdagangan. Mereka kalah bargaining (tawar menawar) dengan para pedagang karena dihimpit kebutuhan yang yang mendesak.
Belum lagi harus bersaing dengan kedelai impor yang lebih bagus kualitasnya, lebih murah, dan jelas pasokannya. Tak pelak, pemerintah memang harus segera membuat skema untuk membantu para perajin tempe dan tahu, terutama dalam pengendalian harga.
Pengamat ekonomi Faisal Basri mengusulkan agar pemerintah memberikan subsidi kepada para UKM, terutama perajin tahu dan tempe. Memang muncul pertanyaan, apakah subsidi tersebut tidak mengganggu keuangan pemerintah. Dilihat dari sudut itu memang bisa mengganggu Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang kini terbebani oleh kenaikan harga minyak mentah dunia.
Namun, kalau pemerintah tidak mampu memberi solusi untuk mengatasi gejolah harga kedelai dan kesulitan yang dihadapi perajin tahu-tempe, berarti bangsa ini memang benar-benar bangsa tempe. Jangan sampai negeri ini tidak sanggup mengatasi kelangkaan tempe.(***)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: