Smart Card BBM Bikin Bingung

PEMERINTAH berniat melakukan pembatasan pembelian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di Batam dengan metode smart card alias kartu pintar. Dengan sistem tersebut, sepeda motor hanya boleh membeli BBM bersubsidi sebanyak dua liter per hari, sedangkan mobil  pribadi sebanyak 5-7 liter per hari.
Belum ada kejelasan kapan program pembatasan pembelian BBM bersubsidi itu dilaksanakan. Ada pejabat yang menyebut bakal dimulai pada April, namun ada pejabat lain mengatakan pada bulan Juni. Batam dipilih sebagai pilot project dengan alasan jumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) relatif sedikit, tidak sampai 100 SPBU, sehingga mudah dikontrol.
Jumlah kendaraan bermotor juga dianggap tidak begitu banyak dibandingkan dengan daerah lain. Selain itu, pemerintah menilai tingkat kesejahteraan warga Batam lebih tinggi sehingga dipandang cukup mampu membeli BBM nonsubsidi.
Tiga alasan tersebut tentu saja sangat terbuka untuk diperdebatkan, terutama alasan ketiga mengenai tingkat kesejahateraan warga Batam dinilai lebih tinggi daripada warga di daerah lain. Betulkah tingkat kesejahteraan di Batam lebih tinggi sehingga mampu membeli BBM nonsubsidi? Tentu jawabannya akan berbeda-beda.
Jumlah penduduk Batam sekitar 730 ribu orang, sebagian besar memperoleh pendapatan sebagai pekerja,  berdagang, dan sektor informal lainnya. Sebagai daerah perbatasan dengan negara tetangga, dan kondisi alamnya, biaya hidup di Batam boleh dibilang lebih tinggi daripada daerah lain.
Hampir semua produk makanan harus didatangkan dari luar, karena tidak produk pertanian, sayuran, dan daging yang dihasilkan dari Batam. Rantai perdagangan yang panjang membuat harga-harga kebutuhan pokok lebih tinggi dibandingkan daerah lain.
Begitu pula pengaruh gaya dan pola hidup warga Singapura yang banyak bersentuhan dengan Batam membuat biaya hidup menjadi lebih tinggi. Wajar saja kalau kemudian tingkat penghasilan juga lebih tinggi.
Dengan demikian, perbandingan antara pendapatan dan pengeluaran sebenarnya tidak begitu jauh dengan daerah lain. Oleh karena itu, rasanya kurang bijaksana kalau sepeda motor ikut dibatasi dalam pembelian BBM bersubsidi.
Masyarakat dengan pengasilan menengah bawah di Batam hanya mampu membeli sepeda motor yang pada saat ini harganya relatif terjangkau, apalagi melalui kredit. Pada masa lalu, harga sepeda motor memang tidak terpaut jauh dengan mobil bekas eks Singapura.
Namun seiring dengan regulasi baru yang membatasi masuknya mobil- mobil bekas berharga murah dari Singapura, kelompok menengah ke bawah hanya mampu membeli sepeda motor. Bagi yang belum beruntung mampu membeli sepeda motor, mereka memanfaatkan jasa ojek motor, selain angkutan umum.
Oleh karena itu, kalau sepeda motor dibatasi dalam membeli BBM bersubsidi, biaya hidup di Batam kian melonjak. Tukang ojek akan menaikkan tarif, padahal tidak semua kawasan terjangkau angkutan umum. Para pemilik sepeda motor pribadi harus merogoh kocek lebih dalam untuk kepentingan transportasi. Tak pelak harga kebutuhan juga ikut terdongkrak.
Di sisi lain belum ada kejelasan dari pemerintah bagaimana pola dan mekanisme pembelian BBM bersubsidi dengan smart card.  Hingga saat ini para pejabat terkait di Batam masih bingung menjelaskan, bahkan ada yang mengaku belum mendapatkan informasi secara resmi dari pemerintah pusat.
Belum juga jelas bagaimana wujud riil smart card . Seharusnya pemerintah pusat lebih dulu menyiapkan bentuk sosialisasi dan skema organisasi kerja yang gamblang untuk melaksanakan kebijakan itu sebelum melontarkan wacana kepada masyarakat.
Kalau masih mentah, tapi sudah dilontarkan kepada masyarakat, akibat yang ditimbulkan adalah kebingungan. Sudah harga-harga terus merangkak naik, masih ditambah lagi dengan ketidakjelasan mengenai pembatasan pembelian BBM bersubsidi.(*)

3 Responses to “Smart Card BBM Bikin Bingung”

  1. Myzone Says:

    SmartCard gak seperti namanya adalah rencana yg paling konyol dari pemerintah.

    1. Dijamin 101% akan muncul makelar2 BBM yg menjual BBM di harga tengah antara BBM subsidi dan non Subsidi.
    2. Angkot, truk, bis, dan kendaraan niaga lainnya serta spd motor juga dijatah. Banyangkan bgmn kondisi tranportasi kita saat diterapkan?
    3. Berapa jatah perhari yang ideal? Berarti tiap2 hari mesti antri? berapa pemborosan waktu yang terjadi jika semua mesti mengisi BBM tiap hari?
    4. dll ekses negatif yang timbul?

    Yang lebih efektif untuk menyiasati sisa Subsidi yang masih ditanggung pemerintah pasca kenaikan BBM ini dgn USD 120 / barrel adalah dengan memberlakukan PAJAK PROGRESIF untuk kendaraan pribadi sesuai kelas, harga dan ccnya.

    Contoh:
    Xenia Rp. 100juta, Pajak Tahunan 5%, pajak = 5juta/tahun
    Innova Rp. 200juta, pajak Tahunan 7,5%, pajak = 15juta/thn
    CRV Rp.300 juta, pajak Tahuan 10%, pajak = 30juta/tahun
    BMW Rp. 500juta, Pajak Tahuan 15%, pajak = 75juta/tahun
    dst sampai 20% untuk mobil2 dgn harga jual diatas 500juta

    Bayangkan dgn mobil pribadi sebanyak 10juta kendaraan dan rata2 pajak tahunan Rp. 10juta/tahun saja, maka pemerintah akan mendapatkan Rp. 100 TRILYUN. Uang ini dipakai untuk mensubsidi BBM buat angkot, Truk, Bis, kendaraan niaga lainnya, spd motor, Mesin perahu nelayan, mesin2 traktor petani, dsb.

    Sehingga tidak ada kenaikan BBM lagi. Jika ada pemilik kendaraan pribadi yang protes, suruh naik spd motor aja. Dah enak2 pake AC, dgr audio tape, duduk di jok kulit buaya, masih omonk gak sanggup bayar? Kebangetan.

    Dgn sistem pajak beginian, tidak akan timbul ekses negatif maupun manipulasi. Setiap yang mau memperpanjang atau mengurus STNK baru, mesti menyertakan bukti penyetoran pajak tsb ke Samsat. Penyetoran dilakukan di Bank yg ditunjuk pemerintah langsug ke rek Pemerintah. Jadi tidak bakal terjadi manipulasi.

    Anggaran 100 TRilyun tsb sebagian dapat dipakai untuk membangun prasara tranportasi massal yang nyaman, aman, dan bersih diseluruh Indonesia secara bertahap.
    Monorail? 4 Trilyuun? Maaaaah, keciiiiiiiil. Gak perlu merenggek2 ke negara lain. Ambil aja dari 100Trilyun tsb.

  2. Ardiansyah Says:

    ane setuju ma ma comment Myzone

  3. Fajar Says:

    ya gitu lah….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: