Tawaran SBY Picu Blunder

* Soal Status Hukum Soeharto

BLUNDER. Itulah yang terjadi setelah Jaksa Agung Hendarman Supandji menemui Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut, putri tertua Soeharto, di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta, Sabtu (12/12007) dini hari. Hendarman bukan ingin menjenguk Soeharto yang tengah sakit keras di tempat itu, melainkan menyampaikan pesan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terkait penyelesaian kasus mantan penguasa Orde Baru itu.
Jaksa Agung mengaku, beberapa jam sebelumnya mendatangi RSPP, ia mendapat petunjuk dari SBY yang ketika itu tengah berada di Malaysia untuk melakukan kunjungan kenegaraan. Menurut Hendarman, Presiden memberi petunjuk agar menyelesaikan gugatan perdata yang diajukan pemerintah terhadap Soeharto dan Yayasan Supersemar, melalui perundingan di luar pengadilan sehingga menghasilkan win-win solution.
Rupanya langkah Hendarman memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Tim kuasa hukum Soeharto menyebut tawaran yang diberikan SBY melalui Jaksa Agung itu tidak etis. Alasannya, kurang tepat membahas masalah hukum di saat Tim Dokter Kepresidenen tengah berjuang keras memulihkan kondisi Soeharto yang memasuki masa sangat kritis.
Tim kuasa hukum Soeharto juga menyebut tawaran itu hanya sia-sia belaka karena perundingan di luar persidangan dengan Jaksa Pengacara Negara (JPN) dari Kejaksaan Agung, yang telah dilakukan selama ini, menemui jalan buntu. Keluarga Cendana menolak keinginan pemerintah agar Soeharto membayar ganti rugi terkait penyalahgunaan penyaluran dana Yayasan Supersemar.
Tak pelak, majelis hakim Pengadilan negeri (PN) Jakarta Selatan yang mengadili gugatan perdata pemerintah itu melanjutkan persidangan karena upaya perdamaian di luar sidang gagal total. Pemerintah sendiri mengajukan gugatan pengembalian ganti rugi sebesar 420 juta dolar AS dan Rp 185,92 miliar, plus ganti rugi imateriil Rp 10 triliun.
Melihat blunder yang terjadi, SBY buru-buru menggelar rapat kabinet di rumah pribadinya di Puri Cikeas, Bogor. Hasilnya, SBY mementahkan kembali langkah yang dilakukan Hendarman. Ia bahkan menyebut pembahasan mengenai gugatan perdata terhadap Soeharto merupakan tindakan tidak etis.
Tentu saja pernyataan SBY tersebut menimbulkan tanda tanya besar, apa sebenarnya yang mendorong Hendarman datang ke RSPP pada dini hari untuk menyampaikan tawaran penyelesaian di luar sidang kepada keluarga Cendana. Apakah Hendarman salah menafsirkan petunjuk atasannya sehingga kemudian menimbulkan blunder?
Keluarga Cendana, melalui tim kuasa hukum, memang telah mengirim surat kepada Presiden SBY agar pemerintah mencabut gugatan perdata ke PN Jakarta Selatan, sebelum Soeharto menghembuskan nafas terakhir. Keluarga Soeharto menginginkan mantan presiden itu dapat terbebas dari tanggungan perkara ketika harus menghadap Yang Maha Kuasa.
Tentu saja keluarga Soeharto dan pengacara berharap pencabutan gugatan itu dilakukan tanpa syarat apapun. Rupanya keinginan tersebut menimbulkan dilema bagi Presiden SBY. Mencabut gugatan perdata tanpa syarat bukan tanpa risiko politik.
Di satu sisi, SBY telah menyatakan tetap menghormati Soeharto sebagai orang yang berjasa di masa lalu, namun persoalan hukum tetap jalan terus. Di sisi lain, kelompok yang tetap menginginkan agar kasus Soeharto jalan terus meski yang bersangkutan menginggal dunia, tak akan tinggal diam manakala gugatan dicabut tanpa syarat.
Pemerintah memang berkejaran dengan waktu untuk mengambil keputusan terbaik. Desakan untuk mengampuni Soeharto juga tak kalah kencang. Partai Golkar, yang punya anggota terbanyak di parlemen, bahkan secara resmi menyatakan akan berjuang keras mengupayakan agar Soeharto diampuni.
Dalam kondisi seperti itu, tak ada jalan lain kecuali melakukan kompromi. Harus ada sesuatu yang diberikan secara riil kepada bangsa ini oleh keluarga Cendana. Setidaknya keluarga Soeharto bersedia melepaskan klaim terhadap harta kekayaan yang kini tengah disengketakan dengan pemerintah.
Semisal melepaskan simpanan Tommy Soeharto di BNP Paribas, Inggris, sebear 6 juta euro, atau membayar utang PT Timor Putra Nasional (milik Tommy) ke Bank Mandiri Rp 4,5 triliun.(***)

Advertisements

Benda Bersejarah Dibuang dan Dicuri

TAK ada yang bisa membantah kalau Indonesia adalah negara yang sangat kaya dengan peninggalan sejarah, bahkan prasejarah. Berbagai peninggalan sejarah dan prasejarah bisa ditemukan dimana saja, baik yang di museum maupun menjadi koleksi pribadi. Benda-benda peninggalan masa lalu tidak hanya memiliki nilai historis yang tidak ada bandingnya dan memiliki nilai nominal yang sangat mahal.
Namun kenyataannya, banyak benda-benda sejarah itu tidak diurus sebagaimana mestinya. Ada yang dibuang begitu saja dan tidak terurus sehingga hancur. Di Kepri, banyak dokumen sebagai bukti sejarah pendudukan Belanda dan Jepang dibuang ke tempat sampah.
Beruntung, dokumen-dokumen tersebut diselamatkan Aswandi Syahri, kolektor naskah kuno di Tanjungpinang. Kini tumpukan dokumen yang diantaranya burgerlijke stand (catatan sipil)  akte kelahiran orang Eropa dan nama warga Tionghoa yang meninggal di Tanjungpinang pada tahun 1946 tersebut, masih terjaga baik.
Sengaja atau tidak sengaja dokumen-dokumen yang diselamatkan Aswandi tersebut berpindah ke tempat sampah, yang jelas hal ini sebuah keteledoran yang sangat fatal. Hal ini menunjukkan kalau sistem penyimpanan dokumen bersejarah tidak dilakukan dengan baik,  sehingga dianggap limbah atau kertas sampah.
Dari Solo, peristiwa nyaris serupa terjadi bahkan  lebih memprihatinkan. Sepuluh arca-5 arca batu dan 3 arca perunggu- peninggalan abad ke-9., hilang dari  Museum Radya Pustaka Solo. Selain arca, benda lain yang ikut hilang yakni  1 lampu gantung perunggu, 1 piring porselin dari Cina abad ke-7 serta tempat buah kristal pemberian Napoleon Bonaparte kepada Pakoeboewono VI.
Lenyapnya benda bernilai sejarah tinggi ini diduga dilakukan secara terencana dengan melibatkan pagawai museum. Modus operandinya, dilakukan pembuatan duplikat arca yang asli. Selanjutnya duplikat tersebut ditukar dengan yan asli. Dugaan arca asli yang bernilai tinggi ini dijual kepada kolektor benda antik.
Belakangan  lima dari 11 arca yang lenyap dari Museum Radya Pustaka Solo itu ditemukan di rumah pengusaha  Hasyim Djojohadikusumo. Menurut informasi, makelar barang antik menjual arca tersebut Hasyim yang kakak Jenderal (Purn) Prabowo Subianto dengan harga yang sangat murah.
Arca Ciwa Mahadewa dijual Rp 35 juta, arca Durgamahisasuramardhini Rp 200 juta, arca Agastya Rp 90 juta, arca Mahakala Rp 100 juta, dan arca Durga Mahisasuramardhini II dijual  dengan harga Rp 80 juta.
Kasus pencurian ini tercium pertama kali oleh Andrea Amborowatiningsih (24), mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, pada 16 Agustus 2005. Ambar, panggilan Andrea, waktu itu menjadi pegawai honorer di sana. Kecurigaan Andrea akan benda-benda peninggalan di museum tersebut sudah bukan yang asli,  membuatnya dipecat.
Penjualan benda-benda peninggalan sejarah dan prasejarah di Indonesia sebenarnya bukan hal yang baru. Ambil contoh, banyak arca-arca di candi-candi di Indonesia yang sudah tidak utuh karena dicuri dan dijual kepada kolektor benda antik di dalam maupun luar negeri.
Agaknya kasus Solo ini harus diambil hikmahnya agar benda bersejarah, baik berupa dokumen maupun benda-benda lain, benar-benar dijaga. Pasalnya, peninggalan sejarah tersebut merupakan aset bangsa.(*)

Plagiator

MALAYSIA lagi-lagi membuat gerah masyarakat Indonesia. Negeri tetangga itu diam-diam membuat tarian barongan yang jika diperhatikan seksama, sama persis dengan Reog Ponorogo dari Ponorogo, Jawa Timur, yang sudah tersohor hingga mancanegara itu. Sebelumnya, negeri jiran itu sudah mengklaim beragam jenis makanan, batik, wayang, hingga lagu Rasa Sayange, Burung Kakatua dan sebagainya.
Sejumlah budayawan hingga masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Ponorogo menilai Pemerintah Malaysia telah meniru apa yang menjadi budaya turun-temurun masyarakat Ponorogo. Bahkan Bupati Ponorogo Muhadi Suyono, siap melawan Malaysia melalui jalur hukum jika memang terbukti negara itu menjiplak Reog Ponorogo.
Tarian Reog Ponorogo didaftarkan sebagai hak cipta milik Kabupaten Ponorogo yang tercatat dengan nomor 026377 tertanggal 11 Februari 2004, dan diketahui langsung oleh Menteri Hukum dan Perundang-Undangan. itulah yang membuat Muhadi berani melawan Malaysia karena Pemkab Ponorogo adalah pemegang hak paten tersebut.
Malaysia memamerkan tarian barongan itu di website http://www.heritage.gov.my, sebuah situs milik Kementerian Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan Malaysia.  Dalam situs ini dipajang foto dan video tarian barongan berdurasi sekitar enam menit. Tak perlu ketelitian lebih untuk menyimpulkan bahwa kedua tarian itu nyaris sama persis.
Yang paling terlihat adalah kedua tarian tersebut sama-sama memiliki ikon utama, yaitu topeng dadak merak, topeng berkepala harimau yang di atasnya terdapat bulu-bulu merak. Dadak merak tersebut seharusnya asli budaya dari Ponorogo, bukan budaya dari Melayu Malaysia.
Yang membedakan Reog dan barongan adalah jalan ceritanya. Alur cerita Tarian Barongan yaitu cerita tentang Nabi Sulaiman yang sedang berbicara dengan berbagai binatang di sebuah hutan, termasuk dengan harimau yang di atasnya terdapat burung merak.
Sedangkan pada Reog Ponorogo menceritakan tentang perjalanan Prabu Kluno Siwandono yang berangkat dari Ponorogo menuju Kediri untuk melamar Putri Songgo Langit. Lalu dalam perjalanan dihadang Singo Barong, yaitu harimau berhiaskan burung merak. Reog memiliki muatan sejarah Ponorogo, sebagai cikal bakal bakal Kabupaten Ponorogo.
Tapi Pemerintah Malaysia mengklaim bahwa tarian barongan adalah warisan Melayu yang dilestarikan di Batu Pahat, Johor, dan Selangor. Menariknya, para perajin Reog di Ponoroga mengaku bahwa pada tahun 2000-an, mereka
menerima pesanan Dadak Merak dari Malaysia. Ini satu bukti bahwa tarian barongan ‘milik’ Malaysia adalah sebuah hasil jiplakan dari budaya bangsa Indonesia.
Mengenai kebiasaan Malaysia mengklaim budaya Indonesia hingga tindakan plagiasi yang dilakukan mereka, mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengaku malu dan minta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia. Ia bahkan menilai pimpinan Malaysia saat ini bodoh dan tak waras, terutama ketika mengklaim lagu Rasa Sayange sebagai warisan leluhur mereka. “Kalau saya ditanya soal Rasa Sayange, ya saya akui Rasa Sayange berasal dari Indonesia, dari Maluku. Saya minta maaf lah kalau mengakui ini warisan kita (Malaysia),”kata Anwar.(*)

Hobi Presiden Mencipta Lagu

TAK semua memberi respek positif  pada hobi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang suka menciptakan lagu. SBY meluncurkan album Rinduku Padamu  diluncurkan pada 28 Oktober  lalu.
Album rekaman bersampul biru itu berisi 10 lagu ciptaan SBY, yang dinyanyikan sejumlah artis seperti Ebiet G Ade, Widhi AB Three, Dea Mirela, dan Kerispatih. Dalam kesempatan itu SBY juga langsung mendaftarkan hak cipta lagu-lagu tersebut ke Departemen Kehakiman dan HAM, yang oleh sejumlah kalangan ditafsrikan sebagai sentilah terhadap Malaysia.
Seperti diketahui, banyak karya cipta bangsa Indonesia yang diklaim Malaysia sebagai karya cipta pihak di Negeri Jiran itu. SBY juga sekaligus ingin memberi sinyal perlunya perlindungan hukum terhadap para pencipta karya seni dan intelektual sehingga tidak terus menerus menjadi korban para pembajak.
Mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) termasuk orang yang kurang respek pada hobi SBY dalam mencipta lagu sekaligus meluncurkannya. Gus Dur menyentil SBY dengan kalimat, “Ada krisis begitu besar kok malah ngarang. Padahal kenyataannya, SBY kurang perhatian terhadap masalah kemiskinan, kebodohan. Eh, malah ngarang lagu.”
Menurut pandangan Gus Dur, mencipta lagu tak lebih sebagai pelampiasan SBY yang melihat  begitu banyak krisis di Indonesia. Dalam kesempatan itu Gus Dur memberi saran agar SBY menjadi pemimpin yang berani melawati dan menghadapi krisis multidimensional tersebut.
SBY sendiri  mengungkapkan, menciptakan lagu di sela-sela waktu senggangnya. Ia menyebut, semua orang, termasuk para pejabat, mempunyai hobi untuk mengisi waktu senggang di tengah kesibukan pekerjaan.
SBY mengaku punya hobi main musik dan mencipta lagu, sedang orang lain bisa saja punya kesukaan mancing, main golf, maupun aktivitas lainnya. Rasanya wajar saja SBY sebagai manusia normal mempunyai hobi dan mengekspresikannya dalam bentuk album sehingga dapat dinikmati oleh orang lain.
Hobi SBY tersebut sebenanrnya tak bisa dikaitkan dengan posisinya sebagai presiden. Selain bersifat pribadi, juga tidak ada yang salah, bahkan punya unusr positif cukup kuat. Alangkah ironisnya kalau seorang pemimpin ternyata punya hobi negatif, seperti bermain judi, mabuk, dan hal-hal bersifat maksiat lainnya.
Kalaupun SBY dianggap belum dapat menghantarkan bangsa ini keluar dari krisis yang membelit, tentu tidak ada korelasinya dengan mencipta lagu. Justru melalui lagu seseorang bisa memberikan edusi atau menggerakkan orang lain untuk bertindak produktif.
Memang ada syair-syair lagu yang bisa memicu pendengarnya bertindak agresif atau destruktif. Namun syair lagu-lagu yang diciptakan SBY syarat dengan makna, mulai dari kecintaan kepada pihak lain, kebersamaan, dan solidaritas sosial. Tinggal bagaimana warga masyarakat yang menyimak lagu-lagu itu memberi respon.
Di alam demokrasi, sah-sah saja Gus Dur menyentil hobi SBY. namun di sisi lain, rakyat tentu menginginkan para pemimpinnya –baik pemimpin formal maupuninformal– saling bergandengan tangan untuk bersama-sama mengurai krisis yang terjadi. Tidak ada sebuah bangsa pun yang dapat mencapai tujuan nasionalnya secara sendiri-sendiri.
Dalam kenyataan para tokoh bangsa ini tak ampu menyatukan langkah dan pikiran untuk menghadapi persoalan secara bersama-sama. Berbagai dialog yang selama ini dilakukan masih kental bernuansa kepentingan politik praktis jangka pendek.
Tendensi terhadap kekuasaan begitu kuat sehingga substansi sebenarnya menjadi kabur, bahkan hilang. Sebelum semuanya menjadi sangat terlambat, harus segera digalang dengan serius solidaritas sosial.
Menggerakkan solidaritas sosial di kalangan akar rumput akan menjadi lebih mudah tatkala para pemimpin dan tokoh bangsa ini tak lagi memikirkan dirinya sendiri serta merasa paling benar. Kalau para pemimpin dan tokoh dapat memberi contoh riil dalam menggalang rasa solidaritas sosial, kalangan akar rumput tentu akan terinspirasi.
Terlalu kecil rasanya untuk memperdebatkan hobi berkesenian seorang pemimpin. Lebih produktif dan positif memberikan apreasiasi sewajarnya sehingga jalur komunikasi tetap terjaga agar terhindar kesalahpahaman. (*)

Geng Motor

KEBERADAAN geng motor di beberapa kota, terutama di Jawa Barat, menjadi sorotan tajam. Kumpulan para biker yang biasa melakukan aktivitas pada malam Minggu itu dianggap sudah demikian meresahkan.7
Selain melukai dan mengganggu keselamatan pengguna jalan lainnya, aksi geng motor telah membawa korban jiwa. Pada Sabtu (27/10) malam, seorang personel anggota Polres Garut, Jawa Barat, mengalami luka parah karena ditabrak anggota geng motor yang melawan ketika dilakukan razia.
Hampir di semua kota ada geng motor, termasuk di Batam. Aktivitas geng motor di Batam dan kota lain di Kepulauan Riau memang belum menimbulkan keresahan seperti di Bandung dan Garut. Namun kalau tidak diantisipasi dengan tepat, tidak tertutup kemungkinan akan memicu keresahan dan menimbulkan kerugian materiil maupun jiwa.
Anggota geng motor seringkali melakukan aktivitas  berupa konvoi dan lomba kebut-kebutan alias balapan liar. Selama ini fenomena di Batam masih sebatas kebut-kebutan di kawasan Batam Centre pada Sabtu malam yang menimbulkna kebisingan dan sangat mungkin membahayakan keselamatan orang lain serta mereka sendiri.
Membuka lokasi balapan resmi bukan cara jitu untuk menghilangkan kebiasaan kebut-kebutan di jalan umum. Sanksi berupa ’tilang’ dan pembinaan di kantor polisi juga hanya memberi efek sesaat.
Oleh karena itu perlu ada sebuh metode lebih tepat yang melibatkan semua pihak terkait dengan geng motor. Kebanyakan anggota geng motor adalah remaja yang masih duduk di bangku SLTP dan SLTA. Ada juga mahasiswa tetapi jumlahnya tidak banyak. Kelompok yang sering ‘menyusupi’ geng motor yaitu para preman .
Dengan bergabung dengan para remaja geng motor, para preman bisa memanfaatkan  kesempatan untuk melakukan tindak kejahatan. Paling tidak mereka bisa memanas-manasi para remaja untuk menggelar perjudian terselubung. Balapan dengan taruhan uang acapakali dipandang sebagai ajang petualangan bergengsi.
Tindakan hukum yang tegas bagi anggota geng motor yang melakukan tindak kejahatan seperti pemerasan, perusakan, penganiayaan, dan pembunuhan, bisa saja menjadi shock therapy. Namun lebih penting lagi, bagaimana model pembinaan bagi mereka ketika harus menjalani pidana. Menempatkan mereka di lembaga pemasyarakatan (LP)  tanpa ada upaya lain tentu hanya sekadar memberi hukuman.
Muncul kekhawatiran mereka menjadi sosok yang lebih jahat ketika dalam menjalani hukuman ditempatkan bersama dengan para penjahat perofesional. Tak pelak, LP sering dianggap senagai sekolah bagi orang untuk meningkatkan kualitas kejahatannya.
Oleh karena itu, harapan besar tentu berada di tangan orangtua masing-masing. Orangtua yang paling tahu dan paling bertanggung jawab terhadap abak-anaknya, baik dalam lingkungan rumah tangga maupun di luar.
Para remaja tidak mungkin menjadi kelompok geng motor anarkis ketika para orangtua concern kepada kehidupan mereka. Tentu bukan berarti serta merta para orangtua harus melarang anak-anaknya menggemari otomotif dan punya perkumpulan sesama bikers.
Pada prinsipnya, kelompok penggemar motor, entah berdasarkan merek maupun jenis, tidak melanggar hukum. Kelompok-kelompok seperti itu banyak yang memberi manfaat besar kepada anggotanya, terutama dalam bertukar pengetahuan, skill, dan pengalaman.
Bahkan ada kelompok penggemar otomotif (mobil dan motor) yang sering malakukan aksi sosial kepada kelompok masyarakat tak mampu. memang beberapa waktu lalu ada keluhan dari para pengguna jalan terhadap kelompok penggemar motor gedhe (moge) yang kurang menghormati aturan lalu lintas.
Padahal para penggemar moge hampir semua orang dewasa, mempunyai status soaial tertentu, dan bukan orang yang tidak memahami hak orang lain. Orang seringkali menjadi lupa diri ketika berada di tengah kerumunan. Bahkan sering merasa boleh bertindak apa saja ketika berada dalam kelompok.
Rasaanya semua pihak yang ada di Kepri tidak perlu menunggu sampai jatuhnya korban untuk peduli kepada para remaja terlibat dalam geng motor. Sebelum terlambat, mengapa tidak mulai sekarang mendekati mereka dengan hati tulus merangkul mereka.(*)

Bandar Dunia Narkoba

KOTA Batam memiliki berbagai kelebihan dibandingkan kota lain. Sebagai kota yang letaknya berbatasan dengan negeri  jiram,  Malaysia dan Singapura serta  jalur pelayaran internasional, Batam sangat strategis dari segi perdagangan internasional.
Tak heran jika Batam sangat pas dijadikan kawasan industri dan perdagangan internasional. Tidak ada yang bisa membantah kalau Batam memiliki prospek bisnis yang luar biasa, asal dikelola dengan serius tanpa dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan yang bersifat politis dari pemerintah Indonesia.
Tidak hanya cocok menjadi kawasan industri, Batam pun memiliki potensi sebagai kawasan periwisata dan pemukiman. Kedekatan Batam dengan Singapura membuat Batam menjadi kawasan pariwisata alternatif bagi masyarakat Singapura dan  negara lain yang membutuhkan nuansa alam yang tergolong relatif  lebih natural dan mudah terjangkau.
Letak strategis Batam ternyata tidak hanya mampu menarik perhatian para pebisnis legal, etapi juga kalangan pengusaha ilegal, termasuk jaringan narkotika internasional. Penggrebekan pabrik shabu- shabu oleh tim Mabes Polri di sejumlah lokasi di Batam beberapa hari lalu membuktikan kalau Batam merupakan lokasi strategis bagi mereka.
Informasi yang diperoleh Tribun malah menyebutkan, Batam menjadi tempat pencucian uang atau money laundry hasil kejahatan, terutama hasil bisnis narkoba internasional. Disebutkan juga pengusaha narkotika mencuci uang mereka dengan mendirikan berbagai usaha termasuk usaha property. Dan bisa jadi, pencucian uang di Batam tidak hanya dilakukan oleh kalangan pebisnis narkotika, tetapi juga kalangan koruptor dari berbagai daerah.
Memang untuk membuktikan adanya praktek pencucian uang ini tidak mudah. Perlu ada kordinasi berbagai pihak yang benar-benar kuat,  sehingga sumber-sumber dana yang mengalir ke Batam bisa diketahui dengan cepat, tanpa menimbulkan ketakutan bagi pemilik modal yang memang benar-benar murni melakukan bisnis legal  di Batam .
Di sini juga diperlukan sistem pengawasan dari aparat yang harus benar-benar jeli sehingga kasus pabrik shabu-shabu di Batam yang kabarnya sudah beroperasi sejak tahun 2005 ini tidak terulang. Aparat kepolisian dalam hal ini Polda Kepri dan Poltabes Barelang harus menjadikan pengungkapan oleh Mabes Polri ini sebagai cambuk untuk melaksanakan pengawasan lebih baik lagi.
Jangan sampai terulang, tim Mabes Polri mampu mengungkap kasus besar di Batam, sementara aparat di Batam sendiri tidak tahu menahu. Harus ada evaluasi menyangkut hal ini sehingga aparat benar-benar mampu melaksanakan tugasnya. Jangan istilah Kuman di negeri seberang kelihatan, gajah di pelupuk mata tidak terlihat.
Batam memang memiliki prospek yang sangat besar. Peluang menjadikan Batam sebagai kawasan industri dan bisnis sudah di depan mata, apalagi pelaksanaan Batam, Bintan, Karimun sebagai kawasan perdagangan bebas tinggal pelaksanaanya saja. Jangan sampai ungkapan Batam Bandar Dunia Madani berganti menjadi Bandar Dunia Narkoba.(*)

Gertak Sambal dari Indonesia

ANGGOTA Ikatan Relawan Rakyat Malaysia (Rela) atau di Indonesia sejenis aparat trantib, bertindak arogam dengan menangkap Musliana Nurdin, istri diplomat asal Indonesia di Chowkit, Malaysia, Sabtu lalu.
Musliana  yang sedang berbelanja di kawasan Masjid Jamiek, Kuala Lumpur, ditangkap dengan alasan identitas berupa karti diplomatik yang ditunjukkannya palsu. Sikap arogan Rela ini menambah panjang daftar perlakuan tidak menyenangkan  oleh aparat di Malaysia terhadap warga negara Indonesia.
Sebelumnya,  sejumlah Polisi Diraja Malaysia mengeroyok wasit karate Indonesia Donald Kolopita sampai babak belur sehingga memantik reaksi keras di dalam negeri. Kasus itu mereda, tiba-tiba mereka mengklaim lagu Rasa Sayange  (versi Malaysia:Rasa Sayang) dan digunakan untuk promosi pariwisatanya, sehingga menimbulkan perang kata-kata, terutama di dunia maya atau internet.
Sikap arogan ini belum termasuk tindakan lain Malaysia yang masih menjadi catatan buruk yang mempengaruhi keharmonisan hubungan Indonesia-Malasyia. Sejak era kepemimpinan Presiden Soekarno, persoalan perbatasan dan penyerobotan pulau oleh Malaysia belum bisa diterima oleh Indonesia.
Belum lagi perlakuan arogan aparat dan warga Malaysia terhadap tenaga kerja Indonesia (TKI). Sikap merendahkan bangsa Indonesia terlihat dengan populernya istilah Indon yang merendahkan martabat bangsa Indonesia. Herannya, Malaysia selalu mendengungkan-dengungkan  sebagai bangsa serumpun.
Bila melihat berbagai kasus tidak menyenangkan oleh Malaysia, sepertinya ada hal yang perlu dipertanyakan. Berbagai reaksi keras di Indonesia terhadap sikap Malaysia, terkesan tidak mendapat respon bahkan seperti angin lalu saja. Mungkin Malaysia hanya menganggap reaksi-reaksi selama ini, bahkan ancaman Ganyang Malaysia  hanya sebagai gertak sambal yang tidak pernah terbukti.
Ada kesan Malaysia beranggapan Indonesia tidak mungkin melakukan pembalasan yang bersifat arogan karena dalam hitung-hitungan untung rugi, akan merugikan Indonesia sendiri. Mungkin saja reaksi keras terhadap penangkapan istri diplomat Indonesia ini, tetap akan bernasib sama. Ibarat  anjing  menggonggong  kafilah berlalu.
Apakah Indonesia juga akan menerima persoalan ini selesai seiring dengan perjalanan waktu? Tentu sangat tergantung dari kebijakan pemimpin bangsa ini. Yang jelas, harus ada sikap jelas dan tindakan yang tegas agar kasus ini tidak terulang. Penyelesaian melalui jalur diplomasi memang penyelesaian yang paling aman dibandingkan dengan cara konfrontasi.
Tapi jika penyelaian diplomasi itu tidak memberikan manfaat ke depan, mengapa tidak Indonesia menempuh jalan konfrontasi seperti mengeluarkan travel warning, menarik dubes RI dari Malaysia. Dan jika kemudian memang harus terjadi kofrontasi, sebaiknya Indonesia menunjukkan harga diri bangsa sebagai bangsa yang tidak penakut.(*)